Mahasiswa Palestina Sekolah Dokter Gratis Di Venezuela

Pemuda Palestina.jpg

Setelah lulus, karena keadaan khusus dan mungkin juga karena karakter saya, saya mulai melakukan perjalanan ke seluruh Amerika, dan saya mulai berkenalan dengan segalanya. Kecuali Haiti dan Santo Domingo, saya telah mendatangi, dalam batas tertentu, hampir semua negara Amerika Latin. Karena keadaan ketika aku melakukan perjalanan, pertama sebagai mahasiswa dan kemudian sebagai Dokter, aku bersentuhan dengan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit; dengan ketidakmampuan mengobati anak karena ketiadaan uang; dengan ketidakberdayaan karena kelaparan dan hukuman, hingga pada satu titik seorang ayah dapat menerima kehilangan anaknya sebagai sebuah kecelakaan biasa, sebagaimana terjadi pula pada kelas tertindas di tanah air Amerika latin. Dan aku mulai menyadari pada waktu itu bahwa ada hal-hal yang hampir sama pentingnya bagi saya sebagai menjadi terkenal atau membuat kontribusi yang signifikan terhadap ilmu kedokteran: saya ingin membantu Rakyat.

Che Guevara, On Revolutionary Medicine

Kata-kata Che di atas menjadi inspirasi bagi Revolusi Kuba untuk menyediakan akses kesehatan bagi seluruh rakyat Kuba. Tak hanya itu, saat ini Kuba telah berada di garda depan dalam pengiriman puluhan ribu dokter-nya untuk melayani kesehatan rakyat di berbagai belahan dunia. Semua itu atas dasar: Kemanusiaan!

Hingga April 2012, setidaknya ada 38,868 tenaga dokter professional Kuba yang bekerja di 66 negara. Kemudian ada 135,000 tenaga medis Kuba yang bekerja untuk kemanusiaan di negara lain. Karena itu, Fidel Castro dengan bangga mengatakan, “Kami mengirim dokter, bukan tentara.”

Namun, upaya Kuba membantu kesehatan rakyat dunia tidak berhenti begitu saja. Pada tahun 1998, kawasan Karibia dan Amerika dihantam badai George dan Mitch. Banyak korban jiwa berjatuhan. Sementara tenaga medis sangat terbatas. Saat itu mengirim banyak sekali dokter dan paramedis ke sana. Namun, masih banyak korban yang belum tersentuh tangan dokter.

Tersentuh oleh keadaan itu, Fidel berkeinginan menciptakan dokter sebanyak-banyaknya di Amerika Latin. Tahun 1999, Fidel membumikan keinginannya itu: berdirilah Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM). Sekolah Kedokteran ini mendidik puluhan ribu mahasiswa dari 116 negara di dunia. Yang menarik, mahasiswa itu tidak dipungut biaya sepeser pun. Semuanya ditanggung oleh rakyat Kuba.

Tergerak oleh inisiatif Fidel itu, Presiden Venezuela Hugo Chavez juga melakukan hal serupa. Pada tahun 2007, ELAM juga berdiri di Venezuela. Namanya ELAM Dr Salvador Allende. ELAM Dr. Salvador Allende terletak di Filas de Mariches, di negara bagian Miranda.

Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM) Dr. Salvador Allende memberikan beasiswa kepada pemuda dari Amerika Latin dan dari negara-negara miskin, seperti Angola, Haiti, Mali, Mozambik, dan lain-lain, untuk menimbah ilmu kedokteran di Universitas ini.

Setelah tamat, para siswa diwajibkan kembali ke negerinya dan melayani rakyat-nya tanpa pamrih. Di ELAM, mahasiswa didik untuk menjadi dokter revolusioner, yakni dokter yang menempatkan tugasnya melayani rakyat di atas segala-galanya. Dokter revolusioner siap ditempatkan dimanapun, termasuk di daerah terpencil dan terisolasi, tanpa mengharapkan gaji ataupun penghargaan. Mereka melayani rakyat sebagai bentuk dedikasinya terhadap kemanusiaan.

Nah, sejak tahun 2010 lalu, ELAM Dr. Salvador Allende juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi pemuda Palestina. Saat ini sekitar 30-an pemuda Palestina belajar di ELAM. Mereka tidak dipungut biaya sepeserpun. Hanya satu tugas sosial mereka: setelah tamat, mereka kembali ke Palestina dan mengobati saudara-saudara mereka tanpa meminta imbalan apapun.

Mahmoud Mohammed Alimoor (21), pemuda dari Jalur Gaza, menyatakan bahwa menjadi dokter hampir merupakan mimpi baginya. Mahmoud menuturkan pengalamannya: “Ketika saya lulus SMA, saya tahu bahwa ayah saya tidak sanggup membiayai saya ke Universitas, karena biayanya sangat mahal. Dan kami tidak punya uang yang cukup, hanya cukup untuk makan.”

Mahmoud sendiri punya 9 saudara. Ayahnya tak sanggup membiayai kuliahnya ke Universitas. Saat itu ia sudah patah arang. “Menjadi dokter adalah mimpi bagi saya saat itu,” ujarnya. Padahal, ia ingin sekali membantu saudara-saudara sebangsanya yang sakit. Namun, mimpi Mahmoud menjadi kenyataan tatkala Venezuela mengabulkan permintaannya kuliah di ELAM Dr. Salvador Allende.

Hal serupa dirasakan oleh Mohammed Abdalghani (20), yang juga berasal dari Jalur Gaza. Ia mengaku menangis begitu mendapat kabar bahwa dirinya diterima di ELAM. “Salah satu masalah terbesar di negara kami adalah kurangnya dokter,” kata Mohammed.

Namun, perjuangan Mahmoud dan Mohammed untuk bersekolah di Venezuela tidak gampang. Kendati lulus, tetapi ia harus menempuh perjalanan berliku dan berbahaya. “Kami di Palestina tidak punya bandara, sehingga kami dari Gaza harus menyeberang ke Mesir dengan mobil dan kemudian berangkat dari bandara di Mesir,” ungkap Mohammed.

Namun, Mahmoud dan Mohammed sangat bangga karena mereka disambut sangat hangat di Venezuela. Tak ubahnya saudara sendiri.

Ahmed, yang ayahnya meninggal karena serangan jantung, mengatakan kata “Bolivariana” merupakan kata yang umum di Palestina lantaran dukungan besar rakyat Venezuela terhadap perjuangan rakyat Palestina. Menurut Ahmed, sangat sering melihat bendera Venezuela di rumah-rumah penduduk dan jalan-jalan Palestina. Bahkan, katanya, anak-anak kecil Palestina tahu Presiden Hugo Chavez.

Pada tahun 2009, ketika Israel menyerbu Gaza, Venezuela merupakan negara pertama di dunia yang mengusir Dubes Israel keluar dari negerinya sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina. Tindakan itu kemudian diikuti oleh Bolivia dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Sebaliknya, pemimpin negara-negara Arab justru sibuk berangkulan dengan AS dan Israel. Sampai-sampai, karena kesal dengan sikap pasif pemimpin Arab tersebut, Waleed al-Tabtabai, anggota parlemen negara Kuwait dari Faksi Islamis, meminta agar kantor pusat Liga Arab dipindahkan ke Caracas, Ibukota Venezuela.

Oke, kita balik lagi soal mahasiswa Palestina yang belajar di Venezuela. Begitu tiba di Venezuela, mereka segera mendapat kursus bahasa Spanyol. Setelah itu, mereka mulai terlibat dalam proses perkuliahan dan praktek. Mereka belajar sistem layanan kesehatan rakyat Kuba, yakni Medicina General Integral (MGI), yang menekankan dokter bisa membangun kesehatan rakyat di komunitasnya.

Para siswa  diajari gagasan Che tentang tugas dokter, bahwa seorang dokter tidak seharusnya hanya menunggu pasien di balik pintu tertutup, tetapi dokter harus turun langsung ke rakyat dan bersama-sama berjuang melawan penyakit.

Ahmed menyadari perbedaan layanan kesehatan di bawah pemerintahn sosialis dengan pemerintahan kapitalis. “Di bawah sosialis, pemerintah menyediakan pengobatan gratis. Sementara di bawah kapitalis, dokter mengambil keuntungan dari pasien, yang menyebabkan pasien takut ke rumah sakit,” ujarnya.

Ahmed dan Mohammed berjanji, bila mereka sudah tamat dan kembali ke Palestina, mereka akan membuka klinik kesehatan gratis untuk melayani rakyat Palestina.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut