Mahasiswa Palembang Dirikan Posko Tolak Kenaikan BBM

Konsolidasi gerakan menentang kenaikan harga BBM makin gencar di galakkan di daerah. Di Palembang, Sumatera Selatan, mahasiswa mendirikan posko penolakan kenaikan BBM di kampus IAIN Raden Fatah Palembang (5/3/2012).

Muhammad Asri, salah seorang aktivis yang menginisiasi gerakan ini, menganggap pembangunan posko sebagai metode efektif untuk meluaskan gerakan dan menarik partisipasi luas massa mahasiswa.

“Kita ingin menarik partisipasi massa dalam gerakan. Sebab, persoalan BBM ini menyangkut hajat hidup rakyat banyak. Maka gerakan penolakan kenaikan BBM harus melibatkan massa luas,” katanya.

Di posko itu nantinya, kata Muhamad Asri, sejumlah kegiatan akan digelar untuk memancing keterlibatan massa mahasiswa. Diantaranya diskusi, pemutaran film, dan penggalangan tanda-tangan.

Seperti siang ini, aktivis posko akan menggalang tanda-tangan penolakan kenaikan BBM. “Ini metode populer untuk menarik partisipasi massa. Bagi kami, partisipasi paling minimal adalah membubuhkan tanda-tangan protes,” kata Asri.

Pendirian posko ini diinisiatori oleh aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Palembang. Muhamad Asri sendiri merupakan salah satu pengurus LMND Kota Palembang.

Tata-kelola Migas Berbau Kolonialis

Asri mengatakan, kenaikan harga BBM adalah bukti tata-kelola migas Indonesia yang mengabdi kepada neo-kolonialisme. Sebab, kenaikan harga BBM itu hanya dalih untuk mengarahkan harga BBM Indonesia sesuai dengan harga ‘keekonomian pasar’ atau mekanisme pasar.

“Dengan begitu, pemain asing juga bisa terlibat dalam distribusi dan penjualan BBM di Indonesia. Nantinya, monopoli pertamina akan diakhiri dan harga pasaran BBM di Indonesia akan sepenuhnya diatur pasar,” kata Asri.

Apalagi, kata Asri, kebijakan kenaikan harga BBM ini persis yang digariskan oleh negeri-negeri imperialis melalui UU nomor 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas. Dalam UU itu memang ada semangat meliberalkan sektor migas Indonesia dari sektor hulu hingga hilir.

“Di sektor hulu kan sudah 80-90% dikuasai asing. Sekarang mereka sedang mengincar sektor hilir yang sangat menggiurkan. Sebab, pasar BBM di Indonesia sangat besar dan menggiurkan,” kata Asri.

FUAD KURNIAWAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut