Mahasiswa Lampung Tuntut Pendidikan Gratis, Ilmiah Dan Demokratis

Momentum Hari Pendidikan Nasional dimanfaatkan oleh berbagai organisasi pergerakan di Bandar Lampung untuk mengupas berbagai persoalan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional.

Meskipun masih agak lelah dengan demo besar di hari Buruh kemarin, puluhan mahasiswa dari Persatuan Rakyat Lampung tetap bersemangat untuk menggelar aksi massa dan menguliti berbagai masalah dalam dunia pendidikan saat ini.

Persatuan Rakyat Lampung mengecam haluan pendidikan nasional saat ini yang semakin mengarah pada neoliberalisme. “sektor pendidikan sudah berubah secara drastis dan makin mengarah kepada liberalisasi yang sangat komersil,” kata Nyoman Adi, ketua LMND Bandar Lampung.

Dengan semakin mahalnya biaya pendidikan, menurut Nyoman, pemerintahan SBY-Budiono telah lepas dari tanggung-jawabnya untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyat di bidang pendidikan.

Di sepanjang jalan, massa tak henti-hentinya meneriakkan yel-yel perjuangan. “Pendidikan gratis, bervisi kerakyatan, pendidikan gratis, ilmiah demokratis,” begitulah salah satu bunyi dari yel-yel yang diteriakkan mahasiswa.

Taufik, seorang aktivis dari Perhimpunan Rakyat Pekerja, mengurai berbagai permasalah pokok dunia pendidikan, yaitu: kecenderungan mengarah pada komersialisasi dan proses mencetak buruh murah berkualitas rendah.

Begitu sampai di kantor Gubernur, barisan massa aksi langsung dihadang oleh anggota Satpol PP dan kepolisian. Mahasiswa tidak kehilangan akal. Mereka pun menggelar aksi teatrikal, yang menggambarkan dampak neoliberal terhadap dunia pendidikan.

“Seorang gadis perempuan dengan mengenakan kaos SMU mengangkat tandu yang dibungkus kertas koran. ia dibantu oleh seorang mahasiswa yang mengenakan jas almamater..aksi teatrikal ini disertai iringan musik dari musik Gabah,” begitulah kronologi singkat kejadian itu.

Seusai menggelar aksi teatrikal, massa kembali berusaha merengsek masuk ke dalam kantor Gubernur. Sayang sekali, barisan Satpol PP dan polisi lebih besar, sehingga barisan massa aksi gagal menembusnya.

Akibat barikade yang berlebihan itu, massa pun sering terlibat dorong-dorongan berulang kali. Hingga akhirnya sejumlah perwakilan massa dipanggil untuk bertemu Polda.

Orator lainnya adalah berulang-kali memberikan komando agar massa tetap tenang dan tidak terpancing provokasi aparat kepolisian.

Disaat perwakilan massa bertemu dengan Gubernur atau jajarannya, massa yang berada di luar untuk tetap melakukan perlawanan dan berusaha untuk menerobos.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut