Mahasiswa FISIP UNWIRA Kupang Gelar Pemutaran dan Diskusi Film ‘Children Of Nation’

Senat Mahasiswa Fisip Unwira Kupang bekerjasama dengan Komunitas Film Kupang (KFK) menggelar pemutaran dan diskusi film Children of Nation di kampus Fisip Unwira Kupang, Sabtu (17/5/2014). Tema yang diambil dalam diskusi film ini yaitu: “Indonesia Mencari Pemimpin”. Acara ini dibuka oleh Dosen Fisip Unwira Kupang, Drs. Rodriques, M.Si, dan dihadiri oleh 30-an orang peserta.

Dalam Diskusi ini menghadirkan tiga orang pembicara, yaitu: Drs Urbanus Ola Hurek, M.Si (Dosen Fisip Unwira Kupang), Ir. Lay Ndjarayora (staf KPUD NTT) dan Goerge Hormat Kulas (Sanggar Ekonomi Gotong Royong).

George Hormat dalam pemaparannya mengatakan bahwa rakyat indonesia pada umumnya belum mempunyai alasan yang tepat dalam menentukan pilihan politiknya. Hal ini diungkapkan Hormat berdasarkan argumen dari beberapa peserta yang hadir saat ditanya alasannya dalam menentukan pilihan politik mereka.

Lebih lanjut Hormat mengatakan bahwa pemilu di Indonesia saat ini merupakan miliknya para pemilik modal atau kaum kapitalis. Ia mengambil contoh kemenangan SBY-Boediono pada Pemilu 2009 lalu yang menyewa berbagai media, berbagai kelompok pegiat dunia maya untuk memenangkannya, dan juga ada intervensi dari negara asing. Hal ini terlihat sangat jelas dalam film yang diputar tadi, jelas Hormat. “Pemilu saat ini hanyalah milik kelompok borjuasi nasional.” Tambahnya.

Dalam diskusi ini Lay Ndjaranyora, lebih banyak menjelaskan mengenai tugas KPU sebagai penyelenggara pemilu, yaitu: fungsi , tugas, dan berbagai tahapan verifikasi penetapan calon anggota DPR, DPD dan DPRD. Selain itu Lay juga mengatakan bahwa dengan situasi yang ada sekarang, rakyat sudah mulai peduli dengan politik uang. Untuk itu Lay berharap agar kelompok masyarakat yang peduli dengan hal ini agar terus mengkampanyekan ke masyarakat luas agar tidak memilih orang yang menggunakan politik uang.

Sedangkan, Urbanus Ola Hurek mengatakan bahwa Pemilu seharusnya menjadi alat evaluasi pemimpin sebelumnya. Ia kemudian mengutip pernyataan dari salah seorang penulis “Negara gagal karena pemimpin dan sistem ”.

Urbanus kemudian menjelaskan bahwa dalam film tersebut terdapat kesan bahwa kita salah memilih pemimpin pada dekade sebelumnya. Menurutnya, karter politik perlu dicermati secara baik agar tidak salah pilih. “Rakyat perlu selektif dalam menentukan pemimpin, rakyat perlu memilih orang yang mempunyai pendirian.” Lanjutnya. Selain itu, Karter politik juga perlu diwaspadai karena akan mengkapitalisasi modal. Pemimpin perlu memiliki integritas. “Kita tidak harus tertipu dengan tampilan yang bagus,” tandas Urbanus.

Setelah pemaparan dari masing-masing pembicara, peserta pun diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada para pemateri. Ada begitu banyak pertanyaan sekaligus pernyataan yang diajukan para peserta diskusi.

Di akhir diskusi, George Hormat mengatakan bahwa suara harusnya menjadi dampak bukan tujuan. Ia juga mengatakan bahwa Pemilu adalah momentum pergantian rezim. Bicara rezim bukan bicara orang, tapi bicara soal platform.

Sedangkan Lay menegaskan bahwa yang terpenting adalah integritas. “Kemandirian dan karakter bangsa sedang diuji,” tegas Urbanus di akhir diskusi.

IRA SOBEUKUM/ ULFA ILYAS

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut