Mahasiswa Dan Rakyat Ende Juga Bersolidaritas Untuk Rakyat Bima

Puluhan pemuda, dengan lumuran cat merah di badannya, keluar ke jalanan kota Ende, Nusa Tenggara Timur. Mereka sedang menggelar aksi solidaritas terkait penembakan petani di Bima, Nusa Tenggara Barat.

Para pemuda ini adalah gabungan Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Mereka memulai aksinya di simpang lima bundaran Ende, lalu bergerak menuju kantor Bupati.

Dalam aksi itu, Yohanes Loy, ketua LMND Ende, memprotes watak kepolisian yang masih sangat militeristik. “Polisi begitu militeristik. Mereka juga sering menjadi tameng pemilik modal untuk menindas. Inilah yang terjadi di Bima dan Mesuji,” ujarnya.

Bagi Yohanes, kejadian di Bima telah mengungkap fakta mengenai keberpihakan negara, termasuk aparatusnya, terhadap pemilik modal. Ia menganggap keberpihakan ini telah membuka pintu bagi “neo-kolonialisme”.

Selain mengangkat soal kekerasan Polisi di Bima, para aktivis juga menyoroti pemberian ijin usaha pertambangan oleh Bupati Ende kepada sejumlah perusahaan tambang di Ende.

Diantaranya: usaha pertambangan biji besi di Nangaba (Kecamatan Ende) dan Nangapanda. Di sana, kata para aktivis ini, empat perusahaan (PT Grand Victory, CV Rahmat Raya, CV Kapitalindo dan PT Gramini Prima) melakukan eksplorasi secara illegal.

Goris Dala, aktivis dari PRD NTT, menguraikan bagaimana keberpihakan terhadap pemodal menjadi watak pemerintah pusat hingga daerah. Baginya, kemudahan pemda memberi ijin kepada perusahaan tambang, tanpa meminta pertimbangan dan persetujuan rakyat, adalah bukti watak elit komprador itu.

Menurut rencana, aktivis PRD dan LMND Kabupaten Ende, yang merupakan bagian dari Persatuan Anti Kolonialisme (PAK) NTT, berencana menggelar aksi mogok makan besok pagi. Aksi mogok makan itu akan melibatkan sejumlah organisasi pergerakan di kabupaten Ende.

EUSTOBIO “CHEKOS”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut