Mahasiswa Bengkulu Tuntut Revisi Perda Layanan Pasar

Sekitar 50-an mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa di Bengkulu di Simpang Lima, Minggu (10/11/2013). Mereka menuntut pemerintah pemerintah kota Bengkulu merevisi Perda Nomor 7 Tahun 2013 tentang Retribusi Pelayanan Pasar.

Para mahasiswa ini berasal dari Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan lain-lain.

“Kami meminta kepada pemerintah untuk meninjau kembali dan merevisi Perda Nomor 07 Tahun 2013 tentang Retribusi Pelayanan Pasar. Karena berdasarkan aspirasi yang berkembang, Perda ini sangat memberatkan bagi para pedagang,” ujar Sekretaris LMND Bengkulu, Yusuf Sugianto, yang bertindak selaku Koordinator Lapangan dalam aksi ini.

Menurutnya, pedagang pasar tradisional merasa keberatan dengan tarif baru yang ditetapkan dalam Perda tersebut. Selain itu, mereka juga berharap agar Perda mengenai retribusi pelayanan pasar ini dapat mengakomodir aspirasi pedagang yang menjadi objek dalam Perda tersebut.

“Kami akan menggelar hearing dengan walikota dan DPRD Kota mengenai masalah ini. Bagi kami, menciptakan Undang Undang yang tidak memihak kepada rakyat sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai kepahlawanan yang seharusnya dimiliki oleh setiap pejabat publik,” tandasnya.

Selain menuntut Perda Retribusi Pelayanan Pasar direvisi, mereka juga menuntut agar pihak aparat penegak hukum di Provinsi Bengkulu dapat bertindak tegas terhadap berbagai persoalan korupsi dan manipulasi yang terjadi dalam tubuh lembaga-lembaga pemerintahan yang di Bengkulu.  Seperti persoalan kasus eks multiyears yang merupakan warisan dari mantan Gubernur Agusrin M Najamudin dan penggelapan uang dari APBD provinsi sebesar Rp 18,5 triliun oleh PT Bengkulu Mandiri (BM).

“Aksi ini merupakan lanjutan dari aksi kami sebelumnya. Kami ingin agar kasus-kasus itu segera bisa dituntaskan. Kami berharap aparat hukum dapat menunjukkan patriotismenya dan memberantas habis para pejabat yang bermental korup. Agar kita tidak menjadi pengkhianat atas perjuangan para pahlawan dan para pendahulu kita,” tegasnya.

Sebelumnya, para mahasiswa ini melakukan ziarah taman makam pahlawan Balai Buntar. Ditempat ini, mereka mengenang jasa para pahlawan yang bersedia gugur demi mengusir imprealisme Belanda dan Jepang. Mereka juga mengimbau kepada warga masyarakat melalui selebaran yang mereka bagikan untuk kembali kepada cita-cita pahlawan bangsa dengan meninggalkan alam neoliberalisme.

“Saat ini sistem ekonomi dan politik nyata-nyata telah kembali ke alam penjajahan dulu, dalam cengkraman imprealisme modern. Mereka memang tidak menggunakan tank dan bom nuklir, namun lebih halus, yakni dengan hutang dan bantuan-bantuan,” kata Yusuf.

Ia mencontohkan, massifnya pembangunan mall atau pasar modern yang bebas dari pajak atau retribusi, sementara pasar tradisional terus didesak mati dengan biaya retribusi yang tinggi.

“Makanya kami mengajak kepada pemuda dan rakyat secara umum untuk kembali kepada cita-cita proklamasi dengan melawan neokolonialisme, imprealisme, kapitalisme,” ujarnya.

Rudi Nurdiansyah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut