Mahasiswa Bali Menolak Kenaikan Harga BBM

DENPASAR (BO): Gabungan Mahasiswa se Bali yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Tolak Kenaikan Harga BBM menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Hal itu dinyatakan pada aksi demonstrasi yang berlangsung di seputar Rumah Gubernur Bali tepat di alun-alun Puputan Denpasar, Kamis, 15 Maret 2012.

Aksi demontrasi yang melibatkan 10 organisasi mahasiswa ini mengecam keras kebijakan pemerintahan SBY. Diantara organisasi mahasiswa itu:  HMI, BEM PM Universitas Udayana, LMND, GMNI, Frontier, FMN, GMKI, PMKRI, dan lain-lain.

Di depan patung Catur Muka, puluhan Mahasiswa ini mengecam SBY sudah tak becus lagi memegang tampuk kekuasaannya. Apalagi dengan kenaikan BBM yang dinilai tak pupuler menurut sebagian peserta demo.

Humas aksi demonstrasi, Ajis Suyo Putro yang akrab dipanggil Noy, menjelaskan bahwa sebetulnya Indonesia bisa berdikari dengan memnafaatkan sumber daya alam migas. Masalah terbesar di negeri ini, kata Noy, adalah produksi minyak di Indonesia dikuasai oleh pemain asing.

“Pertamina saat ini hanya memproduksi 13,8% dan sisanya dikuasai oleh kelompok perusahaan minyak asing seperti Chevron. Chonoco Philips, Exxon dan CNOOC,” tegas Noy yang juga dikenal sebagai aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Noy menambahkan, muara dari persoalan BBM itu sebenarnya ada di kebijakan Undang-Undang Migas. Pasal 28 ayat 2 ada ketentuan bahwa harga migas Indonesia diserahkan pada mekanisme pasar atau persaingan usaha. “Tahun 2005, gagasan liberalisasi itu dimunculkan melalui Perpres 55 tahun 2005 yang menyerahkan harga BBM pada harga keekonomian pasar,” ujarnya.

Problem kebijakan ini, imbuh Noy, yang menjadi korban adalah rakyat. “Pemeritahan SBY, dirasa oleh para demonstran, saat ini sudah tak mengindahkan pasal 33 UUD 1945 sebagai hak konstitusi,” ujarnya.

Begitu juga, tambah Noy, Pemerintahan SBY membodohi rakyat dengan memakai Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sudah pernah dilakukan pada kenaikan BBM sebelumnya. “Tak pernah ada kebijakan yan tegas dalam rangka berdikari dengan mengatur pemain asing, selalu kalah di penguasaan migas sektor hulu,” kata Noy.

Ketika menutup pembicaraan kepada wartawan, Noy menjelaskan solusi yang tepat adalah tidak mencabut subsidi BBM, tetapi lebih pening adalah mencabut subsidi para pejabat negara yang sering boros.

Saat aksi tersebut, peserta demonstrasi membuat teatrikal unik yang menggambarkan kebusukan Presiden SBY yang menindas rakyat dalam kenaikan BBM. Aksi itu berlangsung damai dan cukup menyita perhatian publik yang melintas di seputar patung Catur Muka itu.

ABENG

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut