LSI: Rakyat Makin Tak Percaya Perilaku Moral Elit Politik

Lembaga Survei Indonesia (LSI) menyimpulkan, tingkat kepercayaan publik terhadap perilaku moral elit politik makin merosot. Ada tiga faktor yang menjadi penyebabnya, yakni minimnya elit yang bisa diteladani, beda antara ucapan dan perbuatan, dan perilaku politisi yang tidak sesuai dengan ajaran agamanya.

“Pada tahun 2005, tingkat ketidakpercayaan publik terhadap moral elit politik itu sebesar 34,6 persen. Kemudian pada tahun 2009 meningkat menjadi 39,6%. Dan pada tahun 2013 ini, tingkat ketidakpercayaan publik sudah mencapai 51,5%,” kata peneliti LSI, Rully Akbar, Minggu (7/7/2013), di Jakarta.

Berdasarkan riset LSI terhadap 1.200 responden pada 3-5 Juli 2013 lalu, sebanyak 51,5 persen responden ragu atau kurang dipercaya atas komitmen moral perilaku elite politik. Sementara yang percaya dengan komitmen moral elit politik hanya 37,5 persen.

Menurut Rully, penyebab pertama merosot kepercayaan publik itu adalah minimnya elit politik yang bisa diteladani. “Mayoritas publik, yakni 52,10%, menyatakan lebih banyak elit yang tidak bisa dijadikan teladan. Dan hanya 47,10 persen publik yang menganggap perilaku elit politik bisa menjadi teladan,” paparnya.

Selain itu, kata Rully, mayoritas publik juga menilai banyak ucapan elit politik tidak sesuai dengan perbuatannya alias hipokrit. Berdasarkan hasil riset LSI, sebanyak 65,30 persen menyatakan ucapan elit politik berbeda dengan perbuatannya. Dan hanya 26,70 persen yang mengakui adanya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan si elit politik.

Hal lain yang diungkap riset LSI, yakni tidak sedikit publik yang menilai perilaku elit politik makin berjarak dengan ajaran agamanya. “Hanya 36,5 persen publik yang menilai politisi bertindak sesuai dengan keyakinan dan ajaran agama. Sedangkan 37,5 persen menyatakan lebih banyak politisi yang bertindak bertentangan dengan ajaran agamanya,” ungkapnya.

LSI mengklaim, riset mereka ini dilakukan di 33 provinsi dan dilengkapi dengan penelitian kualitatif, analisis media massa nasional, Focus Group Discussion (FGD), dan in-depth interview. Sementara margin error-nya hanya 2,9 persen.

Lily Nurhayani

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut