Lolita Lebron, Seorang Perempuan Yang Menjadi Simbol Perlawanan

“Banyak kaum muda yang bangkit setiap hari…dengan bendera nasional di tangannya berjuang untuk kemerdekaan…”

“PUERTO RICO butuh seorang perempuan seperti Lolita, Viva Lolita,” teriak puluhan orang di depan Gedung Athenium, di pusat bersejarah San Juan, dimana mereka menunggu kedatangan mobil yang membawa jenazah seorang pejuang veteran, Lolita Lebron.

Edisi online El Nuevo Dia menggambarkan adegan ini: pukul 9.42 siang, ketika barisan orang yang menunggu memanjang hingga dekat Casa Olympica, sekelompok perempuan bergandengan tangan dalam proses membawa jenazah mantan tahan politik. Ketika tiba, tanpa diharapkan oleh siapapun, melawan lalu lintas, bertindak mengabaikan perintah yang telah ditetapkan. Ya, Lolita telah meninggal di hari pertama bulan Agustus, tahun ini.

Dolores “Lolita” Lebron Sotomayor, yang tidak pernah istirahat selama 25 tahun dipenjara AS, namun bagaimanapun, ia dikalahkan sakitnya.

Puerto Riko kehilangan salah satu pejuang yang paling legendaris dan karismatik, yang ide dan tindakan (aksi)  tidak terpisahkan akan dijamin mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah bangsa itu.

Daniel Ortega, presiden Nikaragua dan pemimpin Sandinista, menggambarkan Lolita sebagai symbol perlawanan rakyat dan pertempuran terus-menerus untuk kedaulatan.

Bahkan The Washington Post, dalam sebuah artikel panjang diterbitkan pada hari kematiannya, ditempatkan di tempat paling tinggi sebagai pejuang internasional paling terkemuka.

Ia, pada 1 maret 1954, menyerang kongres AS dan mengecam status kolonial di negerinya, bersama dengan Cancel Miranda, Irving Flores dan Andrés Figueroa Cordero, yang aksinya membuat dirinya terkenal di dalam dan luar negeri. Foto yang mulai menguning dan film yang mulai rusak seiring dengan perjalanan waktu, menunjukkan seorang perempuan yang, ketika itu berumur 34 tahun, saat penangkapannya. “Aku tidak datang untuk membunuh siapapun, aku datang untuk mati demi Puerto Rico,” teriaknya.

Pada tahun 1979, ketika Lolita dan rekan-rekannya telah menghabiskan 25 tahun masa hidupnya dalam penjara, Presiden Jimmy Carter memberi mereka amnesti karena tekanan internasional.

Setelah kembali ke tanah kelahirannya, ia melanjutkan perjuangan yang ia mulai sebagai seorang wanita muda saat ia bergabung dengan Partai Nasionalis Puerto Riko, dipimpin pada waktu itu oleh Pedro Albizu Campos, yang mempengaruhinya secra langsung.

Beban usia, disamping 25 tahun kehidupan berat di balik jeruji besi, tidak menghalangi Lolita turun ke jalan-jalan negeri itu untuk memprotes angkatan laut AS.

Pada bulan November tahun 2000, dalam pidatonya kepada Mahkaman Internasional untuk pelanggaran HAM di Puerto Rico dan Vieques, dia mengatakan, “Saya merasa terhormat untuk memimpin tindakan terhadap Kongres Amerika Serikat pada tanggal 1 Maret 1954, ketika kami menuntut kebebasan bagi Puerto Rico dan menunjukkan kepada dunia bahwa kami bangsa yang cacat, diduduki dan disalahgunakan oleh AS dan Amerika utara. Aku sangat bangga tindakanku pada hari itu dan telah menjawab panggilan dari tanah air saya.”

Tujuh bulan kemudian, ia berada di antara sekelompok orang yang ditahan karena pelanggaran memasuki zona terbatas pangkalan AS di Vieques dalam sebuah protes, dan mendapat hukuman penjara “60 hari”.

Keponakan-Nya, Linda Alonso Lebron, menceritakan baru-baru ini, ketika ia menjadi sakit parah, Lolita khawatir bahwa “tidak ada yang dilakukannya untuk kemerdekaan.” Dia mengatakan kepada Linda, “Aku ingin menceritakan semua pemuda untuk bangun setiap hari pukul 6: 00 dengan bendera nasional di tangannya untuk berjuang demi Kemerdekaan …”

Dalam simbol, manusia seperti nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, yang tidak pernah dapat dipisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan total negara-negara di benua ini, kami tidak berpisah dengan mereka.

Puerto Rico, yang masih menderita sebagai koloni AS, dengan sebuah pemerintahan yang merespon keinginan kekaisaran, suatu hari nanti akan sepenuhnya bebas karena perjungan mereka yang, seperti dikatakan Lolita, mereka meminta orang untuk bangun setiap hari dengan bendera nasionalis di tangan. Untuk saat ini, Lolita bukan hanya kenangan mengenai sosok pejuang yang ulet, tetapi juga soal kehidupan “perempuan bebas” yang menginginkan tanah air baru.

LISANKA GONZÁLEZ SUÁREZ

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut