LMND Sulawesi Tenggara Tolak Impor Beras

Kebijakan pemerintah mengimpor beras 500 ribu ton dari Vietnam dan Thailand terus mendapat penolakan dari berbagai kelompok masyarakat.

Rabu (24/1/2018) siang, belasan mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara, mendatangi kantor DPRD setempat untuk memprotes kebijakan impor beras.

Mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) ini menganggap kebijakan impor beras akan merugikan petani lokal.

“Apalagi, bersamaan dengan datangnya beras impor ini, pada Februari-Maret akan ada panen raya,” kata Ketua LMND Sulawesi Tenggara, La Ode Ali Wardanah.

Menurut dia, kebijakan impor beras bukanlah solusi untuk mengatasi lonjakan harga beras dalam negeri, melainkan memperbaiki rantai pasokan dan tata-niaga beras yang terlalu diserahkan pada mekanisme pasar.

Akibat mekanisme pasar itu, lanjut dia, swasta menguasai rantai pasokan dan tata-niaga pangan. Sementara swasta didorong oleh motif mencari keuntungan.

“Wajar harga tidak terkendali, karena negara tidak hadir di dalamnya untuk melakukan intervensi,” terangnya.

Sebagai jalan keluar, LMND mendesak pemerintah mengambil tanggung-jawab mengurusi pangan. Bentuknya, negara hadir dalam bentuk kebijakan politik, mulai dari produksi, pasokan, stok, distribusi, hingga penentuan harga beras di pasar.

Dalam aksinya, LMND juga mendesak pemerintah bekerja keras menurunkan harga kebutuhan pokok. Tidak hanya pangan, tetapi juga komoditas energi, seperti BBM, listrik dan gas elpiji.

Dalam aksi tersebut, perwakilan LMND sempat berdialog dengan Humas DPRD Sultra. Dalam dialog tersebut, pihak DPRD mengaku sedang menjalankan riset terkait persoalan tersebut di masyarakat.

Terkait hasilnya, pihak DPRD mengajak LMND untuk datang kembali pada tanggal 7 Februari untuk mengetahui hasil riset tersebut.

Alyp Marasai

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut