LMND Makassar Sosialisasi Gerakan Pasal 33

Puluhan pengurus kota dan komisariat Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) kota Makassar melakukan sosialisasi gerakan pasal 33 di bawah jembatan fly-over tol reformasi Makassar, siang tadi (9/7).

Mereka membentangkan spanduk, melakukan orasi-orasi, dan membagi-bagikan selebaran kepada masyarakat luas. “Sekarang bangsa kita berada di alam penjajahan baru. Hampir semua kekayaan alam kita sudah dirampok asing. Oleh karena itu, mari menggelorakan semangat pasal 33,” terang seorang orator.

Ashraf, seorang pengurus komisariat LMND, menjelaskan bahwa gerakan pasal 33 merupakan manifestasi politik dari perjuangan melawan imperialisme. “Jika imperialisme berkeinginan mengusai kekayaan alam Indonesia, maka pasal 33 justru mengharuskan seluruh kekayaan alam itu dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat.”

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Ririn, seorang aktivis LMND lainnya. Mantan ketua komisariat ini menyoroti ketidakmampuan SBY dalam melindungi industri nasional. Menurutnya, karena sebagaian besar industri telah hancur, maka sebagian besar rakyat kita beralih ke sektor informal atau tenaga kerja murah di luar negeri.

John Ruben, aktivis LMND yang bertindak sebagai koordinator lapangan, menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa LMND dan berbagai organisasi pergerakan di Makassar akan menggelar aksi serentak pada tanggal 22 Juli mendatang.

“Nanti, pada tanggal 22 Juli, kita akan memulai sebuah gerakan nasional untuk melawan penjajahan asing. Inilah gerakan pasal 33. Saya harap, rakyat Makassar bisa ambil bagian dalam perjuangan untuk mengembalikan martabat bangsa ini,” katanya.

Peringati 12 Tahun Berdirinya LMND

Aksi siang tadi juga merupakan bentuk peringatan 12 tahun berdirinya LMND. LMND secara resmi berdiri pada 9 Juli 1999, melalui sebuah konsolidasi nasional yang melibatkan 20 organisasi dan komite aksi mahasiswa.

Cikal bakal LMND adalah kebangkitan gerakan mahasiswa saat penggulingan rejim Soeharto tahun 1998. Saat itu, unsur termaju dari gerakan mahasiswa menyadari perlunya pembangunan jaringan atau organisasi berskala nasional.

Konsolidasi nasional pun berjalan berkali-kali. Disebut Rembug Mahasiswa Nasional Indonesia (RMNI). RMNI pertama berlangsung di Bali pada bulan maret tahun 1999, sedangkan RMNI kedua berlangsung pada bulan Mei 1999.

Dalam refleksinya, para aktivis LMND Makassar berharap agar organisasi ini bisa tampil di garda depan perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme. “Kita sedang berhadapan dengan penjajahan asing. Sebagai organisasi perjuangan, LMND harus tampil ke depan bersama gerakan anti-imperialis lainnya.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut