LMND: KAA Bukan Ajang Nostalgia Sejarah Dan Bisnis!

Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) di dua kota di Indonesia, yakni Jakarta dan Bandung, telah melenceng dari semangat dan roh Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955.

Penilaian tersebut disampaikan oleh Ketua Departemen Politik Eksekutif Nasional Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EN LMND), Makbul Muhammad, melalui siaran pers yang diterima oleh Berdikari Online, Senin (20/4/2015).

Menurut Makbul, peringatan 60 Tahun KAA kali ini hanya dijadikan momen seremonial dan nostalgia sejarah belaka. Bahkan, lebih parah lagi, momentum peringatan 60 Tahun KAA telah dimanfaatkan untuk ajang kepentingan bisnis, perdagangan, dan investasi.

“Peringatan 60 tahun KAA yang menelan  uang Negara sebesar Rp 200 milyar ini bukan hanya dihadiri oleh delegasi Negara anggota KAA, tapi juga dihadiri oleh ratusan CEO atau pebisnis dari seluruh dunia,” ungkap Makbul.

Bahkan, lanjut Makbul, demi memfasilitasi kepentingan para pebisnis tersebut, pemerintah Jokowi-JK selaku penyelenggara membuat dua event khusus, yakni Asia Africa Business Summit dan World Economic Forum.

Makbul menilai, Pemerintah Jokowi JK yang getol menggembar-gomborkan tentang pentingnya melaksanakan TRISAKTI, yakni berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi dan berkepribadian secara budaya, ternyata ‘gagal paham’ dalam menangkap roh dan semangat KAA 1955.

Menurutnya, semangat utama KAA 1955 adalah menentang kolonialisme dan imperialisme serta memperjuangkan  tata dunia baru berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Dengan mengutip pidato Bung Karno di pembukaan KAA 1955 yang berjudul “Lahirkan Asia Baru dan Afrika Baru”, Makbul mengatakan, semangat KAA 1955 mestinya ditarik pada perjuangan menentang kolonialisme modern, yang berlangsung melalui penguasaan ekonomi, intelektual, budaya, dan lain-lain.

Lebih lanjut, dia menjelaskan,  semangat dan spirit KAA 1955 utama menyangkut anti kolonialisme dan anti imperialisme masih relevan dalam situasi saat ini. Terlebih lagi, bangsa-bangsa asia dan afrika, termasuk Indonesia, dihadapkan dengan gempuran globalisasi ekonomi (neoliberalisme).

Selain itu, tambah dia, negara-negara asia afrika, termasuk Indonesia, masih mengalami persoalan yang relatif sama, seperti kemiskinan, kelaparan, ketergantungan teknologi, ketergantungan modal dan lain-lain.

“Karena itu, momen peringatan 60 Tahun KAA seharusnya dijadikan ajang untuk mendiskusikan dan memperjuangakan tata ekonomi global yang lebih berkeadilan,” kata Makbul.

Makbul juga yakin, spirit KAA 1955, sebagaimana termaktub dalam Dasasila Bandung, masih relevan dalam menyelesaikan berbagai konflik dan persoalan bangsa-bangsa di dunia saat ini.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Muhammad Insan Al Kamil

    Perlu di pahami kawan Makbul Muhammad bahwasanya Ir. Soekarno memang anti Imperialisme dan Kolonialisme. Tetapi beliau sendiri tidak memungkiri kerjasama tatanan Global di bangun atas unsur kesamaan dalam berpandangan Politik, Ekonomi, Ketahanan Militer, Budaya, dll. Sehingga sangat jelas Indonesia tidak bisa terlepas dari tatanan Global bangsa Asing. Pesimisme kawan menggambarkan sebuah pemaksaan yang harus relevan dari dua unsur jaman yang berbeda. Ingat dulu itu ketergantungan kita terhadap modernisasi dan tekhnologi sangatlah minim. Tetapi sekarang ini tuntutan modernisasi dan tekhnologi merupakan kebutuhan primer kita sebagai Manusia. Adapun langkah-langkah yang harus di pertanyakan mengenai wajah Politik Indonesia saat ini, yang di mana baik itu Organisasi Masyarakat, Organisasi Politik (Partai), dan Pergerakan Mahasiswa semua hanya mementingkan porosnya masing-masing. Jadi ini harus menjadi pandangan luas Masyarakat awam bahwasanya: “Negara kita terlalu banyak yang ingin mengatur tetapi masih ragu untuk bersatu. Terimakasih.

    Muhammad Insan Al Kamil