LMND DKI Respon Aksi Mahasiswa, Tegaskan Etika Dan Profesionalisme Dalam Protes Demokrasi

Jakarta, Berdikari Online – Aksi mahasiswa yang digelar di depan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) pada Kamis (27/2) kembali menjadi perhatian publik. Dokumentasi yang beredar menunjukkan seorang polisi wanita yang tengah bertugas dengan kerudung putih, dicoret bertuliskan “pembunuh” oleh salah satu peserta aksi. Insiden tersebut muncul dalam aksi yang diikuti oleh mahasiswa Universitas Indonesia, yang awalnya dimaksudkan untuk menyampaikan aspirasi terkait isu penegakan hukum dan situasi demokrasi di Indonesia.

Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Eksekutif Wilayah LMND Daerah Khusus Jakarta, Alfonso Kanuru, mengingatkan bahwa hak untuk menyampaikan pendapat merupakan bagian integral dari demokrasi yang harus dijaga. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga etika dalam setiap aksi.

“Kami memahami bahwa dinamika di lapangan seringkali penuh emosi, tetapi gerakan mahasiswa harus tetap mengedepankan moralitas dan disiplin organisasi. Tindakan yang melibatkan atribut personel kepolisian dapat mengaburkan tujuan perjuangan dan memicu keraguan publik terhadap gerakan mahasiswa,” ujar Alfonso.

Lebih lanjut, Alfonso menegaskan bahwa fokus utama dari gerakan mahasiswa adalah pada kritik terhadap kebijakan dan institusi negara, bukan menyerang individu.

“Gerakan mahasiswa harus tetap menjaga substansi tuntutannya dan menghindari tindakan yang bisa merusak citra perjuangan yang lebih besar,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Alfonso juga memberikan apresiasi atas kesabaran aparat kepolisian dalam mengawal aksi mahasiswa. Ia berharap kedepannya, aparat dapat lebih tenang dan humanis dalam menghadapi demonstrasi mahasiswa sebagai bagian dari proses reformasi kepolisian.

“Kami mendorong agar polisi tetap menjaga profesionalisme dalam setiap tindakan mereka, agar demokrasi dapat berjalan dengan sehat dan penuh martabat,” ungkapnya.

LMND juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga profesionalisme dan menahan diri dalam menghadapi dinamika sosial. “Kami akan terus mendorong reformasi kepolisian demi terciptanya demokrasi yang lebih adil dan berkeadaban,” tutup Alfonso.

(Amir)

[post-views]