LMND Bengkulu: Jokowi-JK Harus Tinggalkan Neoliberalisme

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bengkulu mendesak agar pemerintahan Jokowi-JK tidak melanjutkan agenda neoliberal warisan rezim SBY.

Desakan tersebut disampaikan melalui aksi massa yang digelar di depan kampus Universitas Bengkulu, Senin (20/10/2014). Mereka menggelar mimbar bebas sembari membagi-bagikan selebaran kepada mahasiswa dan para pengguna jalan di depan kampus.

Koordinator aksi, Tamma Akur, menilai kebijakan neoliberal di era SBY sudah sangat mengorbankan rakyat. “Hampir separuh penduduk Indonesia saat ini terjerembab dalam kemiskinan. Kemudian pengangguran juga sangat besar. Sebanyak 72,4 juta rakyat Indonesia bekerja di sektor informal,” terangnya.

Tamma juga mengatakan, agenda neoliberal di masa rezim SBY menyebabkan kedaulatan ekonomi dan politik Indonesia tergerus. Katanya, rezim SBY begitu murah hati kepada investor asing yang menyebabkan kekayaan nasional mengalir keluar negeri.

“Modal asing menguasai 75% perbankan nasional, tambang (95%), perkebunan (56%) asuransi (99%), perdagangan (85%), migas (90%), pasar modal (99%), dan sebagainya yang mayoritas dikuasai oleh kepentingan asing,” ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Tamma, rezim SBY juga menghabiskan uang pajak rakyat untuk membayar cicilan utang luar negeri dan bunganya.

Karena itu, dalam seruannya LMND Bengkulu mendesak pemerintahan Jokowi-JK untuk kembali kepada cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan konsisten memperjuangkan Trisakti.

Selain itu, LMND Bengkulu juga mendesak pemerintahan Jokowi-JK berani mengambil langkah nasionalisasi terhadap perusahaan asing yang telah merugikan kepentingan nasional.

Di bidang agraria, LMND Bengkulu mendesak pemerintahan Jokowi-JK segera melaksanakan agenda reforma agraria sesuai dengan mandat UU Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960.

Yusuf Sugiatno

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut