Lima negara Amerika Latin ini paling maju secara ekologis

Amerika latin merupakan salah satu kawasan pemilik keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dan menariknya, kawasan ini sekarang berada di garis depan perjuangan menyelamatkan bumi dari ancaman perubahan iklim.

Amerika latin memimpin berbagai upaya untuk melindungi alam, dan sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa kesejahteraan ekologi dan pembangunan tidak harus saling menegasikan.

Pemerintah dan organisasi sosial di kawasan ini sudah sampai pada kesimpulan, bahwa kapitalisme dan eksploitasi sumber daya alam yang buas bukanlah cara yang hidup berkelanjutan.

TeleSUR menghadirkan lima negara Amerika latin yang berhasil membuktikan bahwa perjuangan mensejahterakan manusia tidak harus merusak alam.

Ekuador: Konstitusinya mengakui Hak Alam

Ekuador berhasil membuat langkah maju dalam perlindungan terhadap alam dengan memasukkan hak ekosistem untuk tetap lestari dan berkembang. Dalam hal ini, Ekuador belajar banyak dari Bolivia.

Hak tersebut diakui dan disahkan dalam Konstitusi Ekuador pada tahun 2008. Esensinya, ekosistem/alam dijamin haknya untuk tetap ada, bertahan, terjaga, dan berkembang biak secara alami. Ditegaskan juga bahwa alam bukanlah barang/properti yang boleh dieksploitasi oleh manusia.

Hak ini juga memandatkan kepada pemerintah untuk mencegah atau membatasi tindakan-tindakan yang bisa menyebabkan kepunahan spesies, perusakan ekosistem dan perubahan siklus alami yang permanen.

Majelis Konstituante Ekuador menulis dan mengesahkan pasal ini setelah melalui plebisit yang melibatkan seluruh rakyat Ekuador, termasuk kelompok masyarakat adat. Pasal-pasal tentang perlindungan ini terangkum dalam Bab sendiri, yang disebut “Hak Alam”.

Hak Alam ini menjadi bagian dari konsep “Hidup Baik”, atau “Sumac Kawsay” dalam bahasa masyarakat adat setempat, yang diadopsi oleh pemerintahan Rafael Correa di Ekuador. Ini konsep tentang keseimbangan manusia dan alam.

Kosta Rika: menggunakan energi terbarukan

Mulai dua tahun lalu, Kosta Rika menggunakan energi bersih dan menjadi contoh banyak negara lain.

Institut Kelistrikan Kosta Rica mencatat, pada tahun 2016, sekitar 98 persen sumber energi listrik negeri itu berasal dari energi hijau. Angka yang sama juga tercatat di tahun 2015.

Warga juga menggunakan energi yang sebagian dihasilkan oleh pembangkit hydropower, yang berasal dari sungai dan air hujan musiman. Juga penggunaan energi panas bumi (geothermal) dan energi surya.

Negeri juga berkomitmen untuk mendorong elektrifikasi bebas karbon. Meskipun itu masih uji coba: 250 hari di tahun lalu dan 110 hari pada Juni hingga Oktober tahun ini.

Hydroelectric dan energi geothermal menyumbang 89,9 persen dari kebutuhan listrik negeri Amerika tengah itu. Sementara sisanya dari energi angin sebesar 10 persen dan energi surya 0.01 persen.

Pemerintah Kosta Rika berharap, energi terbarukan bisa terus dikembangkan di negaranya. Beberapa lembaga lingkungan internasional mengapresiasi upaya ini.

Kuba: pertanian yang berkelanjutan

Menurut World Wildlife Fund (WWF), sebuah organisasi non-pemerintah Internasional di bidang lingkungan, menyebut Kuba sebagai negara paling berkelanjutan di bumi ini.

Penyebabnya, negara komunis di Kepulauan Karibia ini berhasil menerapkan sistim pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam laporan WWF tahun 2016 disebutkan, indeks jejak ekologis (ecological footprint)—indeks yang mengukur seberapa banyak ruang, baik di darat maupun di air, yang diperlukan manusia untuk menghasilkan sumberdaya yang mereka habiskan dan menyerap limbah yang mereka hasilkan—Kuba termasuk terbaik di dunia.

Awalnya, Kuba dikenal sebagai produsen gula dunia. Itu dicapai melalui pertanian monokultur. Belakangan, Kuba beralih dari pertanian monokultur ke diversifikasi: tembakau, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Blokade AS selama seabad lebih, ditambah runtunya Uni Soviet selaku mitra sekaligus penyuplai teknologi dan pestisida untuk Kuba, membuat Kuba harus berdikari. Siapa sangka, Kuba justru berhasil mengembangkan model pertanian organik dan pertanian kota—sering disebut “organoponicos”.

Pertanian Kuba juga mengembangkan teknologi pertanian yang benar-benar ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, setelah reforma agraria yang dilakukan pasca revolusi 1959, hampir semua pertanian Kuba dijalankan dengan model koperasi-koperasi tani.

El Salvador: tidak ada lagi pertambangan logam

Sejak 1 April 2017, El Salvador resmi melarang pertambangan logam di negerinya. Dengan demikian, El Salvador merupakan negara pertama di dunia yang terbebas dari pertambangan logam.

Keputusan diambil setelah Kongres El Salvador, dari hampir semua partai, dengan 70 dari 84 anggota Kongres, menyetujui penghapusan pertambangan logam. Jajak pendapat menyebutkan, sekitar 77 persen rakyat El Salvador mendukung kebijakan ini.

Aturan ini melarang segala bentuk eksplorasi, ekstraksi dan pengolahan logam, baik di lubang terbuka maupun di bawah tanah, termasuk melarang penggunaan bahan kimia berbahaya seperti sianida dan merkuri.

Menurut Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya Alam El Salvador, hampir 90 persen air tanah di negeri ini tercemar, akibat kebijakan deregulasi sektor pertambangan.

Aktivis lingkungan dan gerakan HAM, juga organisasi Katolik, berjasa besar dalam mendorong regulasi ini. Masyarakat sipil berhasil mengumpulkan 30.000 tandatangan untuk menyerukan pelarangan ini.

Sebelumnya, El Salvador juga memenangi gugatan atas perusahaan tambang asal Australia, Oceanagold, pada tahun 2007. Saat itu, negara menolak izin baru perusahaan ini menambang emas, demi menegakkan kedaulatan negeri dan menjaga kelestarian sumber air.

Bolivia: memimpin perjuangan untuk keadilan iklim

Sejak di bawah pemerintahan Evo Morales, Bolivia berada di garis depan untuk memperjuangkan keadilan iklim. Gerakan ini melibatkan gerakan akar rumput dan masyarakat adat.

Di Konferensi Perubahan Iklim PBB, Bolivia selalu paling nyaring menawarkan rencana aksi yang radikal untuk mengatasi perubahan iklim global.

Di forum itu, delegasi-delegasi paling lantang meminta tanggung jawab negara-negara kapitalis maju untuk mengadopsi energi bersih, transfer teknologi ramah lingkungan, membuang energi fosil, dan membiayai aksi perbaikan lingkungan di negara-negara miskin.

Tidak hanya itu, Kuba juga menggalang Konferensi Perubahan Iklim yang melibatkan gerakan sosial dan masyarakat akar rumput, termasuk organisasi masyarakat adat, dari berbagai belahan dunia. Pertemuan ini dinamai Konferensi Rakyat Dunia tentang Perubahan Iklim. Pertemuan ini untuk memberikan suara kepada rakyat untuk berbicara soal perubahan iklim.

[] Artikel ini diolah dan diterjemahkan dari teleSUR

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut