Lima Kesimpulan Dari Pemilu Venezuela

Alejandro Fierro dari website Rebellion menyebut lima pelajaran nasional dan internasional yang bisa dipetik dari pemilu presiden Venezuela:

1.    Venezuela membangun demokrasi otentik

Venezuela menunjukkan diri sekali lagi sebagai salah satu negara demokrasi paling solid di Amerika Latin. Pemilihan umum berlangsung bersih dan transparan, dengan partisipasi 80%, merupakan sesuatu yang tak terpikirkan di belahan dunia lainnya. Indeks tinggi bahkan lebih mengejutkan lagi jika dibandingkan dengan pemilu 1998, ketika Chavez menjadi presiden, orang-orang dipanggil ke bilik suara hingga 15 kali.

2.    Media terdelegitimasi

Pers internasional, dengan El Pais dan ABC di garis depan, telah memanipulasi informasi untuk menghadirkan sayap kanan sebagai “pilihan pemenang” berhadapan dengan Chavez yang digambarkan mulai ditinggalkan oleh rakyat dan orang yang berkuasa berkat penyalahgunaan kekuasaannya. Dengan memanfaatkan kurangnya pengetahuan pemirsa mengenai realitas Venezuela, mereka tidak ragu-ragu hanya melaporkan jajak pendapat yang mengunggulkan Capriles, hanya mewancarai oposisi, dan menyajikan “anti-chavistas” dengan mendistorsi fakta dan statistik.

Sekali lagi, media massa tidak menunaikan tugasnya utamanya menjami hak atas informasi bagi warga (diatur dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia). Itulah mengapa pers dianggap sebagai salah satu masalah utama di Spanyol, kata sebuah survei.

3.    Rakyat mendukung Chavez

Chavez berhasil mempertahankan dukungan mayoritas dari bawah. Untuk menang di atas 10 point setelah 14 tahun dalam kekuasaan. Hasil ini menunjukkan, pemilih Venezuela tidak terpengaruh oleh gambar manipulatif yang disajikan oleh media dan kaum neoliberal mengenai pemimpin Bolivarian. Hubungan antara Chavez dan Rakyat didasarkan pada kemajuan yang dicapai dalam beberapa tahun terakhir. Pemenuhan janji-janji politik memungkinkan Chavez mengatakan pada hari Kamis (4/10) di hadapan jutaan orang, “saya tidak pernah menggagalkan anda, saya tidak pernah membohongi anda,” dan itu terdengar dipercaya.

4.    Serangan akan berlanjut

Deklarasi pertama dibuat pasca kemenangan Chavez jelas bahwa berbagai aksi gangguan akan berlanjut. Fitnah, pelecehan, kritik luas, dan pemerasan ekonomi dan politik akan berlanjut. Sekali lagi, negara-negara yang dianggap maju demokrasinya tak akan menghargai keputusan rakyat kalau hal tersebut berlawanan dengan kepentingannya.

5.    Di sini ada alternative

Venezuela adalah bukti bahwa model lain itu mungkin. Prestasinya tak terbantahkan: pertumbuhan PDB 5,6%; pengangguran menurun dari 15% di tahun 1998 menjadi 7% sekarang ini; pemberantasan kelaparan dan buta-huruf; kemiskinan berkurang dari 60% menjadi 27%, sedang kemiskinan ekstrem berkurang dari 25% menjadi 7%; menjadi negara kelima di dunia untuk tingkat kelulusan universitas; memperluas kesehatan gratis dan universal. Negara lain yang berada di jalan yang sama, dengan kesamaan yang mirip atau kurang mirip: Bolivia, Ekuador, Argentina, Uruguay, Brasil, Paraguay, Honduras (meskipun dua yang terakhir, neoliberalisme tak ragu menggulingkan mereka melalui kudeta melawan pemerintahan yang yang sah). Amerika latin saat ini menjadi “parit terakhir” menghadapi dogma pemotongan, privatisasi, dan penindasan hak-hak rakyat. Akar rumput (massa rakyat) di eropa akan melihat ini sebagai cermin.

Sumber: Rebellion, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Tamara Pearson untuk Venezuela Analysis

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • hehe….kriminilitas tinggi, bahan pokok susah didapat….public service ambrul adul…..
    Por favor chamo……tu no sabes nada