“Like” Dan “Share” Di Facebook Bisa Berujung Penjara

Melakukan aktivitas “like” dan “share” di Facebook bisa berujung penjara 15 tahun. Inilah yang terjadi di Thailand dan sejumlah negara lain saat ini.

Menteri Informasi Thailand telah memperingatkan bahwa orang yang me-“like” atau “share” halaman Facebook yang melecehkan raja dan keluarga kerajaan dapat dianggap pelanggaran terhadap “lèse majesté (melecehkan kerajaan).

Sebaliknya, Menteri Informasi Thailand menyarankan agar facebooker bisa me-“unlike” atau menghapus semua komentar dan link yang berpotensi melecehkan kerajaan.

“Jika mereka tidak mengapusnya, mereka akan dikenai pasal melanggar Computer Crime Act dengan tuduhan secara tidak langsung menyebarkan konten tidak menyenangkan,” kata Anudith Nakornthap, Menteri Komunikasi Thailand, seperti dikutip Bangkok Post.

Thailand dikenal sebagai negara yang paling keras dalam menghormati martabat kerajaan. Dua hari yang lalu, Amphon Tangnopakku, seorang warga Thailand, dijatuhi hukuman penjara 20 tahun karena mengirim SMS menghina kerajaan.

Data yang diperoleh Associated Press dari Kejaksaan Thailand menunjukkan bahwa ada 36 kasus serupa yang sudah mengarah pada penuntutan pada tahun 2010. Ini lebih tinggi dibanding tahun 2005 yang hanya 18 kasus dan 1 kasus pada tahun 2000.

Tetapi, aturan keras pemerintah Thailand itu tidak hanya kepada warganya, tetapi juga kepada para pelaku berkebangsaan lain. Pada tahun 2007 lalu, seorang warga Swiss ditangkap dan dipenjara 10 tahun karena lukisan semprot bergambar raja.

Lalu, pada tahun 2009, seorang penulis Australia dijatuhi hukuman tiga tahun penjara. Novelnya dianggap berisi serangan terhadap kerajaan. Beruntung, ia selamat dari penjara karena raja mengampuninya.

Sekarang, pemerintah Thailand sudah beralih ke dunia maya untuk mencari para pelaku subversif. Tahun ini, seorang warga Amerika Serikat Joe Gordon ditangkap dan sedang menunggu hukuman. Ia dianggap bersalah karena mengutip kalimat dari buku biografi raja yang terlarang.

Tetapi fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Thailand. Hal serupa juga mulai terjadi di belahan dunia barat, yang selalu disimbolkan sebagai “tanah kelahiran” demokrasi dan hak azasi manusia.

Di Inggris, polisi menangkap sejumlah facebooker karena dianggap menghasut kerusuhan, penjarahan, dan pencurian saat meletus kerusuhan di negeri ini. Para pelaku rata-rata dijatuhi hukuman empat tahun penjara.

Di Amerika Serikat, enam orang gadis remaja ditahan karena mengirim undangan untuk berpartisipasi dalam acara yang disebut “Attack A Tacher Day”. Hukuman yang diterima anak-anak itu tidak terlalu parah, tetapi mereka sempat dikeluarkan dari sekolah selama beberapa hari dan dicabut hak asuh orang tuanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut