LBH Jakarta Kecam Pembunuhan Petani Di Lumajang

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengutuk keras pembunuhan dan penganiayaan dua orang petani di Desa Selo Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

“Korban pembunuhan bernama Samsul alias Kancil (52) dan korban penganiayaan bernama Tosan (51). Mereka dibunuh dan dianiaya di depan Balai Desa,” kata Direktur LBH Jakarta, Alghiffari Aqsa, di Jakarta, Senin (28/9/2015).

Samsul dan Tosan adalah warga yang menolak proyek penambangan pasir di sekitar wilayah Pantai Watu Pecak, Lumajang. Pasalnya, selain merusak jalan desa akibat aktivitas penambangan, proyek tersebut juga dapat mengakibatkan abrasi yang berdampak signifikan terhadap kerusakan lingkungan.

Menurut Alghiffari, tragedi yang menimpa Samsul dan Tosan seharusnya dapat dicegah apabila pemerintah dan kepolisian setempat lebih cepat bergerak dalam mendeteksi adanya konflik agraria di wilayah tersebut.

“Apalagi, penolakan warga setempat terhadap proyek penambangan pasir di wilayah pesisir mengindikasikan adanya potensi penyelewengan izin yang dapat berakibat pada terjadinya kerusakan lingkungan,” terang dia.

Karena itu, lanjut Alghiffari, pihak LBH Jakarta mendorong pemerintah dan kepolisian setempat untuk segera mengusut peristiwa ini. Disamping itu, pihaknya juga berharap agar Komnas HAM dapat melakukan investigasi menyeluruh terkait pelanggaran hak-hak warga di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang.

LBH Jakarta mengungkapkan, kekerasan dan pembunuhan warga dan aktivis lingkungan akibat memprotes pembangunan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan bukan pertama kalinya terjadi.

Catatan LBH Jakarta menyebutkan, selama 5 tahun terakhir, terdapat beberapa kasus kekerasan yang terjadi, antara lain bentrokan warga Kebumen dengan prajurit TNI AD akibat proyek bisnis pasir (2011), konflik agraria di Bima, Nusa Tenggara Barat (2012), kekerasan terhadap warga penolak pembangunan PLTU Batang (2013), dan kekerasan oleh Polres Tumbak Manggarai dan TNI di Nusa Tenggara Timur terhadap warga yang menolak pembangunan tambang (2014).

Untuk diketahui, aksi pembunuhan terhadap petani yang menolak proyek tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur, diduga dilakukan sejumlah preman bayaran pada Sabtu, 26 September 2015.

Samsul alis Salim Kancil tewas setelah dieksekusi di Kantor Desa Selok Awar-Awar. Dia dianiaya secara beramai-ramai dengan kedua tangan terikat. Aksi sadis ini membuat korban tewas seketika di lokasi kejadian. Dalam keadaan meninggal, mayat Salim Kancil kemudian dibuang di tepi jalan dekat areal perkebunan warga.

Tak hanya Salim Kancil, orang-orang bayaran ini juga melakukan penganiayaan terhadap Tosan. Korban hingga saat ini masih dalam kondisi kritis di rumah sakit di Malang.

Dari informasi masyarakat, Tosan juga dijemput secara paksa dari rumahnya. Karena melakukan perlawanan, Tosan dianiaya di dekat rumahnya. Tosan diselamatkan warga lain dan segera dibawa ke rumah sakit.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut