Lagi, Seorang Petani Jambi Ditangkap Tanpa Alasan Jelas

Upaya kriminalisasi dan intimidasi terhadap perjuangan petani warga Suku Anak Dalam (SAD) dan petani Mentilingan di Batanghari, Jambi, terus berlanjut.

Kamis (13/3) siang, seorang petani bernama Keperet (27 tahun) asal dusun Mentilingan, desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Batanghari, kembali ditangkap oleh aparat kepolisian.

Menurut Usman, salah seorang warga yang mengetahui kejadian itu, mengungkapkan bahwa Keperet ditangkap saat keluar dari tenda pengungsian sementara di dusun Trans-Sosial I, Dusun Johor, kecamatan Bajubang, Batanghari.

“Dia (Keperet) keluar dari tenda untuk belanja. Tiba-tiba di jalan dirazia oleh aparat kepolisian dan ditangkap,” ungkapnya.

Usman sendiri tidak mengetahui motif penangkapan petani tersebut. Warga juga belum mendapat konfirmasi pihak kepolisian terkait alasan penangkapan warga tersebut.

Namun, menurut sejumlah warga, pada saat kejadian, polisi dari Polsek Bajubang sedang menggelar razia KTP, senjata tajam, dan senjata api. Saat itu Keperet tidak membawa KTP. Namun, hingga berita ini diturunkan, Keperet belum dibebaskan.

Sementara itu, warga SAD dan petani Mentilingan yang bertahan di tenda darurat di dusun Trans-Sosial I, dusun Johor, desa Bungku, sedang dirundung kepanikan.

Pasalnya, mereka mendapat surat ultimatum dari pihak PT. Asiatic Persada . Surat tersebut memberi waktu 3 hari kepada warga SAD dan petani Mentilingan untuk meninggalkan lokasi yang diklaim sebagai milik PT. Asiatic Persada.

Ironisnya, kata Andi Syaputra, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang mendampingi petani SAD dan Mentilingan, surat ultimatum itu keluar karena pihak perusahaan PT. Asiatic Persada tidakmau dikambing-hitamkan untuk kepentingan politik pihak tertentu.

“Ini kan sangat lucu. Seolah-olah perjuangan warga SAD dan petani Mentilingan ini ditunggangi oleh kelompok politik tertentu. Padahal, ini perjuangan untuk keadilan agraria,” jelas Andi.

Menurut Andi, motif yang mendorong warga SAD dan petani Mentilingan untuk berjuang adalah soal penghidupan, yakni tanah milik mereka, yang dirampas oleh PT. Asiatic Persada.

Seharusnya, kata Andi, kalau PT. Asiatic Persada mau mengakhiri konflik, mereka harusnya mengembalikan tanah milik warga SAD dan petani Mentilingan.

Kondisi kesehatan warga SAD dan Mentilingan di pengungsian mulai memburuk. Sejumlah warga terserang penyakit diare dan malaria.

Hadi Yatullah

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut