Lagi, Aktivis Masyarakat Adat Dibunuh Di Honduras

Darah Berta Cáceres, aktivis masyarakat adat Honduras yang dibunuh pada 3 Maret lalu, belumlah kering. Selasa (15/3/2016) kemarin, seorang kawan seperjuangannya, Nelson Garcia, kembali dibunuh secara keji.

Menurut laporan media lokal, Garcia tewas setelah ditembak empat kali di hadapan komunitas Rio Chiquito. Penembakan itu terjadi saat polisi Militer Honduras menggusur paksa petani dari lahan yang mereka duduki.

Untuk diketahui, sekitar 150-an keluarga miskin, yang juga anggota Majelis Nasional Organisasi Masyarakat Adat (COPINH), menduduki lahan di Rio Chiquito sejak dua tahun lalu.

Sejak Selasa (15/3) pagi, 20 petugas polisi, 20 tentara, dan 20 pasukan anti huru-hara tiba di lokasi untuk mengusir warga.

“Mereka bilang bahwa mereka akan damai dan tidak akan mengusir warga keluar dari rumah mereka, tetapi menjelang tengah hari mereka mulai meruntuhkan rumah-rumah, menghancurkan tanaman jagung, tanaman pisang, dan perkebunan warga,” Tomas Gomez, salah seorang koordinator COPINH, seperti dikutip teleSUR, Rabu (16/3/2016).

Usai penggusuran, Nelson pulang ke rumahnya untuk makan siang. Namun, dalam perjalanan dia dibunuh oleh penyerang yang tidak dikenal.

Polisi sendiri menyangkal pembunuh Garcia adalah aparat keamanan yang dikerahkan untuk menggusur. Polisi mengklaim penggusuran berlangsung damai dan tanpa kekerasan.

“Kasus ini benar-benar terpisah, pembunuhan Garcia terjadi setelah diserang oleh dua orang penyerang yang menyerang saat dia meninggalkan rumahnya,” demikian pernyataan resmi kepolisian.

Garcia, ayah dari lima anak, adalah pemimpin komunitas adat di Rio Chiquito. Dia juga aktivis dari Majelis Nasional Organisasi Masyarakat Adat (COPINH), organisasi yang didirikan oleh Berta Cacares.

Sebelumnya, kelompok Hak Azasi Manusia (HAM) Honduras meminta perlindungan khusus bagi anggota COPINH pasca pembunuhan Berta Caceres tanggal 3 Maret lalu.

Para aktivis juga menuntut agar USAID menghentikan bantuan bagi proyek pembangunan bendungan Agua Zarca, sebuah proyek kontroversial di Rio Blanco, karena merusak sungai dan kehidupan masyarakat sekitar.

Berta Caceres dan masyarakat adat menentang proyek bendungan tersebut. Berta diduga dibunuh karena aktivitasnya menentang proyek bendungan itu.

Pembunuhan aktivis memang marak di Honduras. Menurut Global Witness, Honduras merupakan negara paling mematikan bagi para pejuang hak azasi manusia dan lingkungan. Antara 2010-2014, sudah ada 101 pejuang lingkungan yang dibunuh di negeri yang dijuluki “Republik Pisang” ini.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut