Kurtubi: Tiga Cara Naikkan Penerimaan Sektor Migas

Pengamat perminyakan dari Center for Petroleum Economics Studies (CPES), Kurtubi, mengatakan ada banyak cara menaikkan penerimaan migas tanpa harus menaikkan harga atau pembatasan subsidi BBM.

“Kalau kebijakan energinya benar, maka opsi-opsi lain bisa digunakan untuk menaikkan penerimaan sektor migas. Itu bisa menolong APBN,” kata Kurtubi saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Subsidi BBM dalam APBN 2012” di Galeri Café, Jakarta (14/2/2012).

Dalam diskusi tersebut, Kurtubi menyebut tiga opsi menaikkan penerimaan migas. Pertama, renegosiasi harga jual gas Tangguh ke Tiongkok. Saat ini, kata Kurtubi, harga jual LNG Tangguh ke Tiongkok cuma 3,35 dollar AS per per MMBTU.

“Padahal, harga normalnya saat ini mencapai 18 dollar AS per MMBTU. Jika berhasil, bisa menambah penerimaan negara sebesar Rp 30 triliun per tahun,” ungkap Kurtubi.

Masalahnya sekarang, kata Kurtubi, proses renegosiasi LNG Tangguh diserahkan pada BP Migas. Padahal, BP Migas bukan perusahaan. “Tugas BP Migas bukan jual migas, juga bukan negosiasi migas. Itu melampaui kewenangannya,” tegasnya.

Kedua, menaikkan produksi minyak mentah siap jual (lifting) hingga di atas 1 juta barrel per hari. Saat ini, katanya, produksi minyak mentah Cuma 880.000 barrel per hari. Sementara target APBN seharusnya 950.000 barel per hari.

“Kalau target lifting APBN tercapai, maka tidak perlu ada kebijakan pembatasan subsidi BBM,” tegas Kurtubi.

Yang ketiga adalah efisienkan cost-recovery. Saat ini, besaran cost recovery per tahun masih mencapai di atas Rp100 triliun. Menurut Kurtubi, cost-recovery sering mengalami mark-up. Penyebabnya, cost recovery dipegang oleh BP Migas. Sedangkan BP Migas sendiri merupaka lembaga yang tak terkontrol.

“Di atas kepala BP Migas, tidak ada komisaris atau semacam Majelis Wali Amanat. Akhirnya tidak ada yang mengontrol. Padahal, lembaga mengurusi uang negara hingga ratusan triliun per tahun,” tegasnya.

Untuk jangkap panjang, Kurtubi mengusulkan agar pemerintah mulai memikirkan diversifikasi energi. Yang paling cocok adalah diversifikasi ke bahan bakar gas. Hanya saja, kata Kurtubi, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur untuk gas itu.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut