Mengenang Kudeta Sang Kolonel

Empat orang tentara—semuanya berpangkat Kapten—membuat sumpah di bawah Saman de Guere (monumen pohon bersejarah). Keempat Kapten itu: Felipe Carlos Acosta, Jesus Hernandez, Rafael Baduel, dan Hugo Chavez Friaz. Itu terjadi tanggal 17 Desember 1982.

Peristiwa itu menandai kelahiran sebuah gerakan klandestein: Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200 (MBR-200). Perwira-perwira muda itu sudah muak dengan kondisi Venezuela. Oleh karena itu, mereka ingin mengikuti jejak Simon Bolivar—membebaskan rakyat dari ketertindasan.

Tujuh tahun kemudian, terjadi pemberontakan rakyat. Hari itu, 27 Februari 1989, rakyat turun ke jalan memprotes kenaikan harga BBM. Rezim neoliberal saat itu, Carlos Andres Perez, mengirim tentara untuk menumpas perlawanan rakyat itu. Organisasi HAM mencatat, sedikitnya 500 tewas dalam peristiwa itu.

Pembantaian massa rakyat adalah katalisator untuk lahirnya sebuah pemberontakan. Saat itu, aktivis MBR-200 menyimpulkan: “situasinya sudah matang untuk mengangkat senjata.” Supaya pemberontakan tidak terisolasi, tentara-tentara progressif ini mulai menjalin kontak dengan gerakan rakyat.

Salah seorang dari empat kapten tadi menjadi konseptor gerakan ini. Sekarang dia berpangkat Letnan Kolonel: dialah Letkol Hugo Chavez. Mengenai ideologi gerakannya, Chavez menyebutnya mirip pohong dengan tiga akar: Bolivar-Rodriguez, dan Zamora. Tiga-tiganya adalah tokoh penting dalam pembebasan Venezuela dari kolonialisme.

Persiapan pemberontakan pun dimulai. Chavez mulai mengontak kelompok-kelompok kiri, khususnya La Causa R, yang dikenal memiliki basis massa di perkotaan. Chaves yakin, dengan menjalin kerjasama dengan organisasi kiri itu, ia bisa menerjemahkan teori Mao Tse Tung: Rakyat bagi tentara adalah ibarat air bagi ikan. Pendek kata, sebuah pemberontakan hanya bisa berjalan sukses kalau disokong massa-rakyat.

Hari H pemberontakan pun sudah diputuskan: 4 Februari 1992. Menuju ke hari H, berbagai persiapan dimatangkan. Sandi gerakan itu disebut “Operasi Zamora”—nama pejuang agraria Venezuala. Garis besar rencananya sebagai berikut:

Sepasukan tentara akan bergerak merebut sejumlah sasaran kunci, seperti pusat-pusat militer, instalasi komunikasi, Istana Presiden, Bandara Militer La Corlota, Museum Militer, dan Kementerian Pertahanan. Pada saat bersamaan, senjata akan didistribusikan kepada massa rakyat di titik-titik yang sudah ditentukan. Puncaknya: pemberontakan rakyat bersenjata.

Mari kita lihat jalannya pemberontakan. Beberapa hari menjelang pemberontakan, pertemuan nasional La Causa R memutuskan untuk tidak mendukung pemberontakan. Lebih fatal lagi, keputusan partai tersebut tidak dikomunikasikan dengan Chavez dan kawan-kawan. Alhasil, tentara tetap percaya diri untuk memulai pemberontakan. Maklum, mereka yakin bahwa rakyat di belakangnya.

Pada hari H, 4 Februari 1992, pemberontakan dimulai. 6000 tentara bergerak ke sasaran yang sudah diputuskan. Gerakan ini didukung dengan mobilisasi helikopter, tank, dan pasukan penerjung payung. Pasukan pemberontak berhasil menguasai barak militer di Caracas, tapi gagal menguasai Istana Miraflores (Istana Presiden).

Tak hanya itu, kelompok militer pemberontakan juga berhasil menguasai sejumlah daerah, seperti  Maracaibo, Valencia, dan Maracay. Sayang, tujuan utama mereka, yakni menangkap Presiden Carlos Andrez Perez. Presiden Andrez Perez telah melarikan diri lebih dulu.

Tetapi pasukan pemberontak segera menemui dirinya terisolasi. Truk-truk berisi senjata bergerak masuk ke kota Caracas. Namun, begitu tiba di titik yang sudah ditentukan, tak seorang pun yang datang mengambil senjata tersebut.

Terhadap kejadian itu, Chavez mengisahkan, “Saya ingat bahwa saya membawa truk berisi senjata dari Maracay ke Caracas, tetapi tak seorang pun menampakkan diri untuk mengambil senjata itu.” Padahal, berdasarkan settingan, rakyat akan dipersenjatai dan terlibat langsung dalam pemberontakan.

Tidak ada mobilisasi rakyat. Chavez segera sadar, ia dan pasukannya telah memberontak tanpa rakyat. “Itu bagai ikan tanpa air,” kata Chavez mengulang postulat Mao.

Tak hanya itu, tanpa dukungan gerakan sipil, famplet dan propaganda politik tidak berjalan. Ide tentang Majelis Konstituante, yang hendak digelorakan para pemberontak, gagal tersebar-luaskan.

Akhirnya, pada hari Ke- 4 pemberontakan, sekitar pukul 09.00 pagi, Chavez muncul di layar televisi dan mengatakan, “Saya menyerah untuk sekarang ini.” Ia dan pasukannya segera meletakkan senjata. Pemberontakan pun menemui kegagalan. Chavez bersama 300 pasukannya dijebloskan ke penjara.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya 27 November 1992, sebuah pemberontakan militer kembali terjadi. Kali ini pemberontakan dimotori oleh Angkatan Udara. Namun, senasib dengan pemberontakan Chavez, gerakan ini juga gagal menarik partisipasi rakyat.

Pasca kejadian itu, Chavez menyadari, situasinya belum matang untuk perjuangan bersenjata. Meski demikian, dia yakin, banyak rakyat yang bersimpati dengan gerakannya, tetapi tidak ada gerakan kerakyatan yang menyalurkannya. Taktik lain harus dicari. Mereka kemudian mengorganisir lingkaran-lingkaran untuk mempromosikan ide-idenya kepada rakyat. Lingkaran-lingkaran kecil ini disebut Komite-Komite Bolivarian. Tak lupa, ia mencetak koran “Ultimas Noticias” untuk menyerbarluaskan gagasan.

Tetapi apakah pemberontakan 4 Februari 1992 sepenuhnya gagal? Tidak ada perjuangan yang sia-sia, kata orang bijak. Chavez menyimpulkan, setelah rakyat mengetahui ada sekelompok tentara yang segaris dengan mereka, gerakan rakyat pun kian bersemangat.

Chavez menganalogikan begini: Ketika itu rakyat telah melampaui tahapan mendidih di bawah represi dan siap ke tahapan meledak.

Pada tahun 1994, Chaves keluar dari penjara. Setahun kemudian, ia berkeliling Venezuela dengan slogan: Majelis Konstituante Sekarang Juga! Ia segera merealisasikan idenya membangun gerakan rakyat. Lalu, pada tahun 1997, hasil pengorganisasian rakyat itu dikonsolidasikan dalam partai: Pergerakan untuk Republik Kelima (MVR).

Tahun 1998 diadakan pemilu Presiden. MVR ikut sebagai kontestan dengan mengusung Chavez sebagai Capres. Hasilnya: Chavez memenangkan Pemilu Presiden dengan 56 persen suara.

Rudi HartonoPimred Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut