Kudeta Parlemen, Kudeta Gaya Baru di Amerika latin

Seperti di Honduras dan Paraguay, elit sayap kanan Brazil menggunakan jalan parlemen untuk menggulingkan Presiden Dilma Roussef. Akankah Venezuela menjadi yang berikutnya?

Dekade 1970-an dan dekade 1980-an sering dianggap sebagai masa yang gelap di Amerika latin.

Saat itu, mayoritas negara Amerika Selatan jatuh ke tangan junta militer yang brutal. Sementara negara-negara Amerika tengah jatuh dalam perang saudara yang merenggut ratusan ribu nyawa.

Angkatan bersenjata di kawasan ini, yang dilatih dan didanai oleh Amerika Serikat (AS), berkuasa dengan jalan paksa. Semua kekuasaan sipil yang tidak menuruti agenda mereka digulingkan.

Di tahun 1990, Amerika Latin pelan-pelan terbebas dari kediktatoran militer. Tetapi kemudian segera masuk ke dalam mulut neoliberalisme yang memperparah kemiskinan dan ketimpangan. Pemerintahan demokratis berkuasa kembali di Chile, Argentina, Brazil, Uruguay, dan Paraguay.

Sementara di Guatemala dan El Salvador, yang dilanda perang saudara, diteken perjanjian damai, yang juga mengakhiri dominasi militer di panggung politik.

Memang persoalan belum terselesaikan, semisal soal pelanggaran HAM dan lain-lain, tetapi ada konsensus bersama di kawasan itu untuk menolak kudeta atau rezim militer.

Namun, konsensus itu langsung diinjak-injak begitu gelombang pasang kiri melanda Amerika Latin. Dimulai oleh gerakan Bolivarian dan Hugo Chavez di Venezuela di akhir 1990-an. Meskipun awalnya Chavez sangat moderat, tetapi elit kanan Venezuela sudah tidak sabar untuk melancarkan kudeta. Pada April 2002, mereka (elit borjuis dan petinggi militer) melancarkan kudeta terhadap Chavez. Namun, hanya dalam 48 jam, kudeta itu berhasil dipatahkan oleh gerakan rakyat yang disokong oleh militer.

Setelah Chavez, gelombang pasang kiri makin tidak terbendung. Kiri menang di Brazil, Chile, Argentina, Bolivia, Nikaragua, Paraguay, Ekuador, Uruguay, Honduras, dan El Salvador. Dan setelah berkuasa satu periode, banyak Presiden berhaluan kiri itu menang kembali dalam pemilu.

Itu yang membuat sayap kanan gelisah. Berbagai cara mereka gunakan untuk merongrong kekuasaan politik kiri. Kebetulan, di banyak negara yang diperintah Presiden kiri, parlemennya dikuasai atau didominasi oleh kanan. Itu terjadi di Brazil, Paraguay, Honduras, dan lain-lain.

Parlemen inilah, yang dikuasai oleh kanan, dipakai sebagai senjata untuk mendongkel Presiden yang berhaluan kiri.

Percobaan pertama di lakukan terhadap Manuel Zelaya di Honduras. Tahun 2009, Zelaya berencana menggelar referendum untuk mengubah konstitusi negerinya. Kelompok kanan tidak setuju. Termasuk militer dan parlemen. Parlemen yang dikuasai kanan kemudian memutuskan untuk mencopot Zelaya. Tak lama kemudian, Mahkamah Agung—yang juga dikuasai kanan dan dekat dengan militer—memerintahkan penangkapan Zelaya. Militer kemudian menangkap Zelaya dan membuangnya ke Kosta Rika.

Sukses di Honduras, skenario selanjutnya dijalankan di Paraguay, yang kala itu dipimpin oleh seorang pastor progressif-kiri, Fernando Lugo. Kanan tidak suka dengan politik kiri Lugo. Saat itu, Juni 2012, dengan memanfaatkan kasus bentrokan antara polisi dan petani di sebuah desa, parlemen Paraguay mendorong pengadilan politik untuk melengserkan Lugo. Dan berhasil.

Dan baru-baru ini, 12 Mei 2016, skenario serupa kembali dipakai di Brazil. Pada Desember 2015, Majelis Rendah Brazil mulai mengajukan proposal pemakzulan Presiden Dilma Rousseff dengan tuduhan yang belum diproses di pengadilan. Presiden dari Partai Buruh itu dituding memanipulasi data keuangan guna menutupi defisit anggaran jelang Pilpres. Proses pemakzulan itu berjalan lancar karena Majelis Rendah di kuasai sayap kanan. Dan, pada 12 Mei 2016, giliran Senat yang dikuasai kanan merestui pemakzulan itu. Dilma pun terjungkal. Ironisnya, sebagian anggota parlemen pengusul pemakzulan Dilma terlibat berbagai kasus suap dan korupsi.

Sekarang, skenario serupa kembali akan dijalankan di Venezuela. Setelah 17 tahun pemerintahan di bawah kendali gerakan Bolivarian, sayap kanan Venezuela sudah sangat resah. Dan momentumnya didapat pada pemilu Desember 2015 lalu, sayap kanan Venezuela berhasil mendominasi Majelis Nasional (Parlemen Venezuela). Mereka kini menggalang referendum untuk me-recall Presiden Nicolas Maduro.

Kalau Venezuela tumbang, maka pasang naik politik kiri Amerika latin kini surut. Sebelumnya, pemerintahan kiri sudah tumbang di Argentina. Artinya, dengan model kudeta gaya baru ini, kanan Amerika latin pelan-pelan merebut kekuasaan kembali.

Sekarang ini, pertarungan masih berlangsung. Kiri masih berkuasa di Bolivia, Ekuador, Uruguay, Nikaragua, El Salvador, dan Kuba. Semoga pasang surut ini tidak berlangsung lama.

*diolah dari teleSUR

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut