Kuba, Negeri Pulau yang Bersiap Menghadapi Perubahan Iklim

Kuba, negara pulau di kepulauan Karibia, sadar betul akan bahaya nyata perubahan iklim. Jika tak bergegas menyiapkan jurus antisipasi, negara berpenduduk 12 juta jiwa ini bisa hilang ditelan kenaikan permukaan laut atau dilumat bencana.

Bagi Kuba, perubahan iklim bukan lagi bahaya yang jauh di luar pagar. Pada September 2017 lalu, negara ini diterjang badai Irma yang menewaskan 10-an orang. Tak hanya itu, banjir juga menerjang Ibukota Havana.

Yang tak kalah mengancam, kenaikan permukaan air laut yang diprediksi mencapai 27 sentimeter pada 2050, lalu menjadi 85 sentimeter pada 2100. Jika itu terjadi, hampir 20 persen daratan Kuba akan tenggelam. Di sisi lain, seperempat penduduk Kuba tinggal di pemukiman yang tak jauh dari pantai.

Melihat ancaman itu, Kuba cekatan bertindak. Sejak April 2017 lalu, negara berhaluan komunis ini sudah meluncurkan jurus antisipasi yang disebut Tarea Vida atau Proyek Kehidupan.

Tarea Vida adalah proyek besar pemerintah Kuba untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Proyek ini dikerjakan dalam tiga tahap: jangka pendek (2010), jangka menengah (2020), jangka panjang (2050), dan jangka super panjang (2100).

Pada langkah pertama, proyek ini akan mendata pemukiman yang berpotensi terkena dampak kenaikan permukaan air laut dan ancaman bencana lainnya.

Nantinya, pemukiman yang berpotensi terdampak oleh bencana, terutama yang paling dekat dengan pantai, akan direlokasi ke daerah yang aman. Proses relokasi ini sendiri akan dilakukan secara bertahap dan sukarela.

“Badai Irma membantu penyadaran publik, bahwa perubahan iklim sudah terjadi sekarang,” kata Armando Rodríguez Batista, Direktur Sains, Teknologi dan Inovasi di Kementerian Sains, Teknologi dan Lingkungan Kuba.

Bersamaan dengan itu, Kuba akan menerapkan aturan larangan membangun pemukiman di pinggir pantai dan daerah yang kerap terendam banjir.

Dari proses itu, pemerintah Kuba sudah mengidentifikasi 574 pemukiman yang paling terancam. Sementara itu, 168 kota/kabupaten di Kuba, 73 diantaranya rentan terkena dampak.

Selain itu, Kuba juga akan berjuang untuk memulihkan ekosistem pantai. Ini meliputi restorasi hutan mangrove, yang menjadi benteng terdepan menghadapi erosi. Juga memulihkan kehidupan terumbu karang lewat program konservasi.

Yang menarik, kendati ekonominya banyak dibantu oleh sektor pariwisata, Kuba berencana mengembangkan pariwisata yang ramah lingkungan. Maksudnya, pengembangan kawasan wisata tidak boleh mengganggu ekosistem pantai.

Terobosan penting lainnya adalah ambisi Kuba mengurangi kerusakan tanah, air dan udaranya, lewat pertanian ramah lingkungan, penggunaan energi terbarukan, eko-wisata, dan pembangunan infrastruktur yang tidak merusak lingkungan.

Tentu saja, proyek besar ini butuh pembiayaan. Untuk tahun 2018 ini, pemerintah Kuba sudah menggelontorkan 40 juta USD. Anggaran itu masih jauh dari cukup. Karena itu, pemerintah Kuba mencoba mencari pembiayaan dari luar. Italia menjadi negara pertama yang merespon permintaan itu, dengan menjanjikan 3,4 juta USD.

Sementara sekelompok tim ahli Kuba tengah menyelesaikan proposal senilai 100 juta USD, yang rencananya akan diajukan sebagai Global Climate Fund, sebuah mekanisme pembiayaan internasiona di bawah Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).

Kuba sendiri bukan Negara penyumbang emisi karbon yang signifikan. Tahun 2013, berdasarkan data Bank Dunia, Kuba menyumbang emisi 3.5 metrik ton per kapita. Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan 16.4 metrik ton per kapita.

Begitulah Kuba bersiap diri menghadapi bahaya akibat perubahan iklim dunia. Bagaimana dengan Negara Kepulauan bernama Indonesia?

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut