Kuba Di Garis Depan Melawan Ebola

Kuba.jpg

Wabah virus Ebola menyerang sejumlah negara di Afrika Barat. Awalnya, pada Desember 2013, virus mematikan tersebut menyerang Guinea. Tak lama kemudian, virus ini menyebar ke negara lain, terutama Liberia dan Sierra Leone.

Dampak virus mematikan ini sangat mengerikan. Untuk kasus tahun 2014 ini saja, berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus ini telah merenggut nyawa 3.338 orang. Sementara sebanyak 7.178 orang terindenfikasi sudah terserang oleh penyakit ini. Dan parahnya, hampir 90% kasus penyakit akibat virus ebola ini berakhir dengan kematian.

Yang menarik, Kuba adalah negara pertama di dunia yang merasa terpanggil untuk mengulurkan tangan untuk membantu rakyat Afrika Barat yang terserang virus Ebola. Tanggal 12 September 2014, pemerintah Kuba mengumumkan rencana pengiriman 165 tenaga medis profesional ke Sierra Leone, satu dari tiga negara yang terkena dampak terparah virus Ebola.

PBB sendiri baru menggelar rapat darurat merespon krisis kemanusiaan akibat virus Ebola beberapa hari kemudian. Lalu menyusul pengumuman Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang menjanjikan pengiriman 3000 anggota militer ke Liberia, untuk membantu pendirian pusat kesehatan dan melatih tenaga medis.

Tanggal 2 Oktober lalu, Kuba mengirim sebanyak 165 tenaga kesehatan ke Sierra Leone. Mereka terdiri dari 62 dokter dan 103 perawat. Mereka akan bergabung dengan 296 tenaga medis Kuba lainnya yang sudah berada di Liberia dan Guinea. Dokter-dokter itu punya pengalaman bekerja di sejumlah negara yang mengalami bencana alam dan wabah penyakit.

Aksi kemanusiaan Kuba ini mendapat pujian banyak pihak. “Saya sangat berterima kasih atas kemurahan hati pemerintah Kuba dan tenaga profesional kesehatannya untuk ambil bagian membantu kami melawan wabah virus Ebola terburuk yang pernah terjadi,” kata Direktur WHO, Margaret Chan, sebagaimana dikutip BBC (12/9/2014).

Selain itu, Dr Chan menambahkan, “Kuba terkenal di dunia karena kemampuannya melatih dokter dan perawat yang luar biasa, dan kemurahan hatinya membantu sesama negara demi kemajuan.”

Banyak negara yang menawarkan bantuan keuangan. Namun, kendati bantuan keuangan sangat berguna, tetapi tenaga manusia lebih dibutuhkan untuk menghentikan penyebaran Ebola. Dalam konteks itulah sumbangsih Kuba menjadi penting: negeri berhaluan sosialis ini telah mengirimkan tenaga dokter dan perawat untuk menyelamatkan nyawa manusia dan memerangi langsung penyebaran virus ebola.

“Banyak negara yang menawarkan bantuan uang, tetapi hampir tidak ada negara yang menawarkan pekerja dalam jumlah besar untuk pergi ke sini dan membantu melakukan pekerjaan sulit dalam krisis,” kata Asisten Direktur WHO, Dr. Bruce Aylward.

Memang, sejak mengalami revolusi di tahun 1959 Kuba sangat aktif dalam aksi solidaritas kemanusiaan untuk membantu negara-negara lain. Tahun 1960-an, di tengah kesulitan di negerinya, Kuba sudah mengirim relawan medis untuk membantu korban gempa di Chile. Pada tahun 1963, Kuba juga mengirim para medis ke Aljazair.

Pada tahun 2010, ketika Haiti diguncang gempa dahsyat, Kuba adalah negara pertama yang mengirim dokter-nya untuk menolong rakyat di sana. Sampai-sampai Presiden Haiti saat itu, Rene Preval, berujar: “Bagi rakyat Haiti, pertolongan pertama datang dari Tuhan dan setelah itu dokter Kuba.”

Hingga saat ini, ada 50.000-an tenaga medis profesional Kuba yang bekerja di 66 negara di dunia. Termasuk 2500-an dokter yang bekerja secara sukarela di negara-negara Afrika.

Ada tiga negara yang mengalami serangan terparah virus ebola, yakni Sierra Leone, Guinea, dan Liberia. Tiga negara ini juga merupakan negara termiskin di Afrika Barat. Kondisi dan layanan kesehatan di negara-negara tersebut sangat buruk. Selain karena perang sipil yang berkecamuk selama puluhan tahun di negeri-negeri tersebut, eksploitasi oleh negeri-negeri imperialis menyebabkan kekayaan alam negeri tersebut mengalir keluar.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut