Kshama Sawant, Aktivis Sosialis Yang Menangi Dewan Kota Seattle

Kejutan besar terjadi di kota Seattle, Amerika Serikat, pekan ini. Kshama Sawant, kandidat yang diusung kaum sosialis, berhasil mengungguli kandidat incumbent dari Partai Demokrat, Richard Conlin, dalam pemilihan Dewan Kota.

Ini peristiwa sangat bersejarah. Di Amerika Serikat, termasuk di Seattle, ide sosialisme dianggap tidak laku. Menurut catatan arsip kota, tidak pernah ada kandidat sosialis yang memenangi jabatan Dewan Kota dalam 100 tahun terakhir.

Terakhir di tahun 1991, ada kandidat sosialis yang ikut bertarung di Pemilu Dewan Kota. Namanya Yolanda Alaniz. Sayang, Yolanda hanya berhasil menempati urutan kedua. Sejak itu tidak ada lagi kandidat sosialis yang maju bertarung di pemilihan ini.

Karena itu, kemenangan Sawant dianggap kemenangan bersejarah bagi gerakan sosialisme di AS. Ini sekaligus membuktikan bahwa orang sudah muak dengan keserakahan kapitalisme dan mulai mencari jalan untuk menemukan alternatif. Setidaknya sosialisme bukan lagi ‘kata kotor’ di negeri Paman Sam itu.

Survei Gallup baru-baru ini membenarkan hal tersebut. Menurut survei Gallup, hanya 26% rakyat Amerika yang percaya bahwa dua partai dominan di negeri itu, Republik dan Demokrat, sanggup memenuhu tuntutan pekerjaan yang layak bagi warga AS. Sebaliknya, 60% responden menghendaki harus ada ‘partai ketiga’. Jajak pendapat Pew Research baru-baru ini juga memperlihatkan, bahwa orang-orang dengan usia 18 hingga 29 cenderung melihat sosialisme lebih positif ketimbang kapitalisme.

Di Seattle, Demokrat sudah memimpin kota itu selama empat dekade. Walikota dan semua Dewan Kota adalah Demokrat. Mereka hanya mewakili segelintir kecil warga Seattle, yakni Paul Allen dan 1% orang terkaya di kota itu. Juga Amazon, Starbucks, pengembang properti besar, dan kepentingan bisnis di pusat kota. Sementara 99% warga tidak punya keterwakilan dalam politik.

Karena itu, Sawant berjanji akan menggunakan posisinya sebagai Dewan Kota untuk membantu membangun, menyatukan, dan menyuarakan aspirasi politik kaum buruh yang diupah murah, pemuda, kulit berwarna, dan semua orang yang selama ini dibungkam oleh mesin politik yang dijalankan segelintir kaum elit kaya.

Sawant adalah seorang professor ekonomi. Ia mendapat gelar PhD di North Carolina State University. Suatu hari, setelah mendengar orasi dari seorang aktivis Socialist Alternative (SA), ia tertarik dengan ide-ide sosialisme. Ia pun bergabung dengan SA.

Salah satu kunci kemenangan Sawant adalah aktivitasnya yang langsung bersentuhan dengan akar rumput. Ia adalah aktivis yang terjun langsung dengan berbagai persoalan rakyat. Dia aktif berjuang di tengah buruh, perempuan, LGBT, dan imigran. Selain itu, ia juga dikenal sebagai aktivis Occupy Seattle. Sangat berbeda dengan kandidat dari partai dominan, yang hanya mendekati rakyat saat pemilu.

Selain itu, kampanye yang diusung oleh Sawant dengan sektor-sektor massa rakyat yang dikorbankan oleh kapitalisme, seperti kampanye upah minumum 15 USD per jam, kontrol terhadap sewa rumah, pajak bagi kaum kaya untuk mendanai transportasi publik dan pendidikan, dan lain-lain.

Krisis ekonomi memukul standar hidup rakyat AS. Termasuk di Seattle. Dengan demikian, tuntutan upah 15 USD mendapatkan momentumnya. “Aku pikir kami tidak mengilusi. Lima belas dollar untuk satu jam bukan upah layak bagi kota mahal semacam Seattle. Tapi ini akan signifikan untuk kenaikan standar hidup pekerja,” katanya. SA mengemas kampanye upah ini dengan tagline: Fight For 15!

Kendati demikian, Sawant sadar, kendati tuntutan upah itu dipenuhi, nilai upah itu akan terkikis oleh naiknya biaya kebutuhan hidup. Artinya, tidak cukup dengan tuntutan kenaikan 15 USD per-jam. “Kita harus menemukan alternatif terhadap kapitalisme itu sendiri. Dan alternatif yang kami perjuangkan adalah sosialisme demokratik, yang memungkinkan mengorganisir ekonomi manusia dan masyarakat global dalam garis demokrasi ekonomi,” katanya.

Begitu pula dengan tuntutan kontrol sewa rumah. Maklum, tahun lalu saja kenaikan sewa rumah mencapai 6%. Belum lagi, aksi penyitaan rumah sedang massif-massifnya pasca krisis kredit perumahan tahun 2008 lalu. Selain itu, Sawant merupakan aktivis Occupy Seattle yang berteriak lantang menentang penyitaan rumah.

Kampanyenya untuk menuntut pajak bagi jutawan, di negara yang tingkat pajaknya sangat rendah untuk sektor bisnis, memang sangat memikat. Terlebih pajak itu dianggarkan untuk mendanai perbaikan sistem transportasi publik dan pendidikan.

Kampanyenya itu memungkinkan Sawant menjangkau sektor luas dari masyarakat, termasuk serikat buruh moderat dan sebagian pendukung partai Demokrat.

Yang menarik juga, sementara Demokrat berpura-pura membela klas pekerja, kendati kenyatannya Demokrat dan Republik sama-sama memihak segelintir elit bisnis dan keuangan, Sawant justru terang-terang berseberangan dengan kepentingan elit bisnis dan aristokrat keuangan.

Kampanye Sawant menolak pendanaan dari korporasi manapun. Ia mengumpulkan dana kampanye melalui sumbangan sukarela dari para aktivis dan rakyat biasa. Namun demikian, ia berhasil mengumpulkan sumbangan untuk mendanai kampanye lebih dari 120.000 USD. Memang, salah jalan untuk memutus hubungan dari intervensi sektor bisnis adalah menolak atau tidak menerima bantuan apapun dari mereka. Ada adegiun yang bilang, “No Free Lunch!.”

Yang penting juga adalah dukungan organisasi alias struktur mobilisasi yang kuat. Sawant didukung penuh oleh sebuah partai, yakni Socialist Alternative/SA. Partai ini mengerahkan seluruh resources, termasuk kadernya, untuk memenangkan tiga kadernya yang turut bertarung di pemilihan.

Juga, karena berhasil mendapatkan dukungan dari serikat buruh dan organisasi sosial, terutama dari kalangan aktivis lokal, Sawant berhasil mengorganisasikan ratusan sukarelawan. Tetapi di setiap lingkaran sukarelawan itu ada kader SA yang memimpin. Sukarelawan itulah yang membantu menyebarkan pesan kampanyenya, termasuk poster “Vote Sawant”, ke seantero Seattle.

Dan Sawang terbukti bisa menang. Tetapi itu bukan akhir dari perjuangannya. Dan seperti dikatakannya sendiri: “kita hidup di sebuah kota terkaya di negeri terkaya di dunia. Di sini tidak ada kekurangan sumber daya. Kapitalisme gagal untuk 99%. Dunia lain adalah mungkin dan diperlukan—sebuah dunia sosialis yang didasarkan kepada kemanusiaan dan lingkungan.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut