Kronologi Tertembaknya 6 Mahasiswa Dan 1 Wartawan Di Ternate

Aksi massa menolak kenaikan harga BBM di kota Ternate, Maluku Utara, di warnai represi oleh aparat Kepolisian, Senin (17/6). Polisi menembaki mahasiswa dengan gas air mata dan peluru karet.

Akibatnya, 6 orang mahasiswa dan seorang wartawan menjadi korban diterjang oleh peluru aparat kepolisian. Seluruh korban kemudian dilarikan ke RSUD Chasan Boesorie, Ternate, untuk mendapatkan perawatan.

Menurut Saiful La Ode Pia, seorang aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Malut, awalnya ribuan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Nasional (Gerapnas) berkeinginan menggelar aksinya di kota Ternate.

“Kami bergerak dari berbagai kampus di Tarnate dan kemudian berkumpul di depan kampus Universitas Khairun Ternate. Setelah massa terkumpul, kami pun memulai bergerak menuju sasaran aksi,” kata Saiful.

Di sepanjang jalan, kata Saiful, mahasiswa mengajak rakyat untuk bergabung dalam aksi. Mahasiswa juga tak henti-hentinya berorasi dan menyatakan alasan menolak kenaikan harga BBM.

Begitu memasuki kelurahan Ngade, kecamatan Ternate Selatan, aksi ribuan mahasiswa ini dihadang barikade kepolisian. “Ada 700-an anggota Brimob dan TNI menghadang kami,” ungkap Saiful.

Karena dihadang, massa aksi pun memilih duduk di jalan raya. Sementara perwakilan mahasiswa mendatangi pihak kepolisian untuk melakukan negosiasi agar dibolehkan memasuki kota Ternate. Sayang, polisi menolak keinginan tersebut.

Siang hari, mahasiswa tetap bertahan di jalan. Mereka juga terus menggelar orasi-orasi politik. Namun, beberapa saat kemudian sebuah lemparan batu mengenai kepala seorang anggota kepolisian. Kejadian ini memicu adu mulut antara mahasiswa dengan pihak kepolisian.

Pada saat itulah, kata Saiful, tiba-tiba sebuah tembakan dari atas tebing mengarah ke massa aksi. Salah seorang peserta aksi yang sedang mengibar-ngibarkan bendera, Mirjan Salim, terkena tembakan di bagian paha kirinya.

Mendengar suara tembakan, mahasiswa pun berhamburan dan kemudian mulai melakukan perlawanan. Saat itu, polisi menembaki mahasiswa dengan gas air mata dan peluru tajam. Tak hanya itu, sejumlah anggota kepolisian juga melempari mahasiswa dengan batu.

Polisi berusaha menghalau serangan mahasiswa dengan lemparan batu. Namun, karena polisi terus melepaskan tembakan, massa mahasiswa terus terdesak mundur. Bentrokan ini berlangsung hingga pukul 15.00 WIT.

Karena situasi yang makin represif, mahasiswa pun memilih mundur dan kembali ke kampus masing-masing. Sementara aparat kepolisian dan TNI masih terus berjaga-jaga di lokasi kejadian.

Terkait kejadian ini, mahasiswa pun menyesalkan tindakan represif pihak kepolisian. “Kami hanya ingin menyampaikan aspirasi rakyat, tetapi polisi telah menembaki kami dengan begitu brutal. Inilah watak rezim neoliberal SBY-Boediono hari ini. Mereka tidak hanya anti rakyat tetapi juga anti-demokrasi,” kata Saiful, yang juga Ketua LMND Wilayah Maluku Utara.

Menurut Saiful, Selasa (18/6) besok, mahasiswa bersama dengan Rektor dari masing-masing kampus akan mendatangi Polres kota Ternate dan Markas Polda Maluku Utara. Mereka akan menuntut pertanggung-jawaban pihak kepolisian atas tindakan represifnya terhadap aksi mahasiswa.

Berikut nama-nama mahasiswa dan wartawan yang menjadi korban penembakan oleh pihak kepolisian:

  1. Mirjan Salim (19 tahun); korban adalah aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND). Ia mengalami luka tembak di bagian paha sebelah kiri.
  2. Jamaludin Gala (19 tahun); korban adalah mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ia mengalami luka tembak di bagian kaki sebelah kiri.
  3. Sain Sangadji (21 tahun); korban adalah mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ia mengalami luka tembak di bagian bahu sebelah kiri.
  4. Ahmad B. Mohasar (23 tahun); korban adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Khairun Ternate. Ia mengalami luka tembak di paha sebelah kanan.
  5. A. Roby Kilerey (27 tahun); korban adalah seorang jurnalis di media lokal/Mata Publik Ternate. Ia mengalami luka tembak di bagian paha sebelah kiri.
  6. Irwan Buamona (22 tahun); korban adalah mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Korban mengalami luka tembak di bagian lutut sebelah kiri. Akibatnya, kaki korban tidak bisa digerakkan.
  7. Safri Hamdan (19 tahun); korban adalah mahasiswa Universitas Khairun Ternate. Ia mengalami luka tembak di bagian kaki sebelah kiri.

Hingga berita ini diturunkan, seluruh korban masih menjalani perawatan di Rumah Sakit.

Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Nasional (Gerapnas) merupakan gabungan sejumlah organisasi, seperti LMND, Pembebasan, Gempar, Samurai, Gamhas, BEM Universitas Khairun Ternate, Perempuan Mahardika, BEM Universitas Muhammadiyah Ternate, HMI-MPO cabang Ternate, dan lain-lain.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Wahyudin Husni

    asksi yang di gelar ratusan mahsiswa untuk penolakan kenaikan harga BBM di Ternate di komandai oleh kawan-kawan dari berbagai elemen gerakan..
    tapi mengatas namakan SADAR MALUT (Solidaritas Rakyat Maluku Utara)
    bukan Gerapnas. perlu di tinjau berita ini……..