Kritik Keras Dari Republik Kardus

IMG_0375 (2)

“Mereka itu lebih pelacur daripada pelacur yang sesungguhnya.”  Begitulah salah satu kalimat yang ditulis Eka Irawati dalam sebuah naskah yang berjudul Republik Kardus. Naskah ini dipentaskan Teater Item. Tepat di hari lahir grup teater kampus ISTN tersebut yang ke-25.

Di usia perak ini, Teater Item memang masih konsisten mengusung genre realisme sosial dalam pementasannya. Tak pelak, setiap naskah-naskah karya kampus yang berada di Jakarta Selatan ini selalu menampilkan sajak-sajak kesedihan rakyat. Pementasan Republik Kardus yang disutradarai Roso Suroso tersebut hanya salah satunya.

Naskah yang ditulis selama seminggu ini banyak menyampaikan keresahan-keresahan rakyat, sekaligus kritik terhadap kondisi sosial dewasa ini. Dari kutipan di awal saja sudah jelas. Teater Item berusaha menceritakan kegelisahan rakyat akan perangai para pejabat dan aparat.

Adegan susahnya hidup seorang pengamen di Rebuplik Kardus menjadi pembuka cerita. Dimana, para penjaja suara di jalanan ini tak memiliki jaminan perlindungan kerja sekaligus sosial dari negara. Malah, tak jarang, pengamen hanya dipandang sebagai sampah yang mengganggu lalu lintas.

“Harusnya, pengamen itu punya UMR (Upah Minimun Regional),” celetuk pengamen yang mengundang gelak tawa penonton.

Tak kalah seru perdebatan warga Republik kardus di salah satu pojokan warung kopi. Dengan tegas warga Republik Kardus menyatakan negara ini telah dijangkiti virus kapitalisme. Dimana, orang ber-uang selalu menang. Yang benar tapi tak punya uang selalu tak akan pernah jadi juara.

Akibat jahatnya virus tersebut, lahirlah Mirna. Ia adalah seorang penduduk yang mengabdikan diri menjadi PSK demi mendapatkan uang. Pekerjaan yang dianggap hina ini jelas bukan pilihan utama Mirna. Namun minimnya kesadaran negara dalam menyediakan lapangan kerja membuat Mirna tak punya pilihan selain jual diri.

Bermodalkan tubuh putih dan mulus, Mirna senang menjadi PSK. Memang, cemoohan para tetangga sering kali mampir di telinganya. Tapi ia tak acuh akan itu. Ia idealis, bersikeras tetap menjadi si kupu-kupu malam. Ditambah lagi, sang pacar tak begitu mempermasalahkan profesinya itu.

Namun, perjalanan Mirna tak tidak berjalan mulus. Kontradiksi mulai terjadi. Mirna dikhianati oleh Sang Mami. Germonya itu meng-korupsi hasil kerja Mirna. “Mami janji akan bayar sepuluh juta, tapi kenapa ini hanya satu juta.” Mirna marah.

Merasa ditindas, Mirna lapor polisi. “Kamu saya tangkap,” kata aparat, setiba di rumah sang Mami.

Sang Mami seolah sudah tahu watak aparat di Republik Kardus. Karena itu, sang Mami ini tetap bisa senyum saat beberapa aparat datang ke rumahnya. Dikeluarkannya beberapa lembar uang kardus, si aparat langsung pergi.

“Maaf Mirna, kasus ini ditutup karena tidak lengkapnya alat bukti.”

Mirna menangis. Ia kalah. Karena ia tak punya uang. Beda dengan mami yang punya banyak uang yang sebenarnya hasil peras keringat para anak binaannya. Impian Mirna untuk menjadi kaya langsung hilang. Mirna pun begitu, hilang dari Republik Kardus.

Di pojok desa, di seberang lampu merah, konflik tak kalah seru juga terjadi. Si penjaga warung tempat wwarga sering berkumpul menerima sepucuk surat. Lembaran itu memberitahukan jika seluruh warga Republik Kardus harus meninggal tanah kelahirannya titu. Pasalnya, di tanah mereka itu akan dibangun gedung-gedung bertingkat, apartemen, dan mall.

“Lalu kita akan tinggal dimana,” kata si Mpok Warung kepada warga lainnya.

“Berarti kita akan digusur?” timpal warga lainnya.

Mereka berdiskusi dan akhirnya memutuskan untuk melakukan aksi. “Hanya ada satu kata, lawan,” teriak penduduk Republik kardus yang merasa ditindas oleh pemilik modal atas nama pembangunan.

Dengan semangat dan beberapa lembar karton, penduduk Republik akhirnya turun ke jalan untuk melawan. Mereka menuntut agar pembangunan dibatalkan karena tanah itu adalah hak mereka. Mereka juga menolak ganti rugi yang memang membuat mereka dirugikan.

“Saya juga punya surat sertifikat tanah ini,” kata si Developer kepada massa aksi tersebut. “Lagi pula, kalian akan diberikan ganti rugi.”

“Kami menolak. Kami tidak ingin digusur,” teriak warga kompak.

Gagal bernegosiasi, si Developer mengerahkan aparat. Warga Republik Kardus yang hanya mempertahankan hak yang memang seharusnya dipertahankan itu digempur. Aparat punya senjata. Warga akhirnya tak kuasa melawan dan dan mati. Sang pemilik modal itu menang. Menang karena punya aparat yang rela melacurkan diri kepada si Developer yang berani bayar.

Itulah serangkaian kritik sosial yang disampaikan Teater Item. “Teater ini memang lebih sering mementaskan masalah-masalah sosial,” kata Penulis Naskah, Eka Irawati, usai pementasan, Jumat (22/5).

Ke depannya, ia berharap, teater yang berdiri sejak 1990 ini tetap konsen pada permasalahan-permasalahan sosial ini. Pasalnya, tak banyak seniman yang mengusung realisme sosial dalam karyanya.

Tedi CHO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut