Kritik atau Intrik Politik?

Menjelang akhir tahun ini muncul pernyataan yang serupa dari dua pimpinan partai penguasa, yakni, Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, dan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie. Petinggi dua partai yang semakin akrab dalam sekretariat gabungan (setgab) ini menyampaikan kesimpulan, bahwa tahun 2010 adalah tahun penuh intrik dan manuver politik. Keduanya pun kompak menyalahkan banyaknya “intrik dan manuver politik” ini sebagai penghambat jalannya program-program pemerintah. Lebih lanjut, Anas mengatakan, nyaris tidak terdapat tawaran ide-ide baru kepada pemerintah.

Terlepas dari kekompakkan dua partai penguasa ini, ada hal yang harus diperiksa berkenaan dengan kesimpulan yang telah disampaikan kepada masyarakat. Mungkin sebagian kalangan telah lebih dahulu skeptis untuk menanggapinya, berhubung kesimpulan ini sangat berbau retorik dan sekedar untuk menutupi kelemahan pemerintahan SBY-Boediono. Namun justru karena bau retorik dan cuci tangan tersebut maka kami merasa perlu diperiksa dan diblejeti kepalsuannya.

Apa yang disebut Anas Urbaningrum sebagai intrik dan manuver politik sangat mungkin ditujukan bagi lawan-lawan politiknya di luar sekretariat gabungan (setgab). Sementara kita dapati satu tahun terakhir memang muncul banyak kritik terhadap pemerintah berkuasa, baik terhadap presiden dan wakil presiden maupun para menteri, termasuk terhadap Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical). Kritik-kritik tersebut sebenarnya tidaklah baru pada tahun 2010 ini saja, melainkan sejak berakhirnya pemilu 2009. Berbagai isu mulai dari skandal korupsi, pembiaran terhadap konflik horisontal yang berpotensi memecah-belah persatuan, pernyataan-pernyataan pejabat yang ngawur, kebohongan demi kejahatan dalam balutan manis “politik citra”, hingga persoalan besar kemiskinan yang diakibatkan oleh penerapan kebijakan neoliberalisme secara gila-gilaan oleh pemerintah.

Kritik pun menghujam dari berbagai kalangan; politisi, akademisi, aktivis, budayawan, tokoh masyarakat, hingga masyarakat secara umum. Bila Anas maupun Ical cukup sensitif, maka mereka akan dapat menangkap, bahwa sebagian besar, bila tidak semua, kritikan tersebut benar belaka. Persoalannya adalah pemerintah sama sekali tidak menampakkan wajah bertanggungjawab terhadap berbagai kritik yang disampaikan. Sebaliknya, pemerintah (khususnya presiden) justru menunjukkan wajah seolah tak berdaya, sambil sekedar mengomentari persoalan layaknya seorang pengamat, atau bahkan memposisikan diri sebagai korban dari situasi—yang sebenarnya diciptakan sendiri oleh penguasa.

Anas pun lagi-lagi berbohong, ketika mengatakan tidak mendengar tawaran gagasan-gagasan segar untuk dijalankan pemerintahan berkuasa. Sebagai contoh dapat ditunjukkan beberapa persoalan seperti kehancuran industri nasional, privatisasi BUMN, serta penyelesaian konflik horisontal—khususnya serangan terhadap kebebasan beragama. Kejadian sebenarnya adalah pemerintah tidak sanggup menjalankan tawaran gagasan alternatif karena telah memilih untuk melakukan pembiaran demi keuntungan sempitnya.

Dalam kasus privatisasi BUMN dan kehancuran industri nasional, sejak jauh hari berbagai kalangan telah mengajukan opsi alternatif berupa penyehatan BUMN dengan memperbaiki tata kelola (manajemen) dan berbagai bentuk perlindungan terhadap industri dalam negeri. Demikian juga untuk mengatasi persoalan konflik horisontal, telah berulangkali masyarakat menuntut tindakan tegas dari pemerintah terhadap pelaku penyerangan namun selalu saja diabaikan.

Akhirnya, kesimpulan tentang “tahun penuh intrik dan manuver” ini tidak lain dari sebuah contoh teranyar, tentang penguasa yang kembali memposisikan dirinya sebagai korban, tanpa mempedulikan jutaan rakyat yang setiap hari bukan saja menjadi korban intrik dan manuver politik penguasa, melainkan juga korban langsung penjarahan terhadap sumber-sumber kehidupan ekonominya. Jadi, untuk Tuan Anas dan Tuan Ical, ini adalah kritik kami, bukan intrik politik!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut