Bung Hatta: Krisis Dunia Dan Nasib Rakyat Indonesia

Sebelas tahun lamanya saya meninggalkan Tanah Air kita, sebelas tahun musafir ditanah asing dengan kemauan yang satu, yakni menambah dan meluaskan pemandangan, agar diri saja terpakai buat pergerakan rakyat, yang senantiasa saya perhatikan. Sungguhpun diri saya jauh terasing dari pergaulan kita dan Tanah Air, semangat saya senantiasa ada di Indonesia ini, ditengah-tengah rakyat yang berjuang. Banyak saudara-saudara yang mengatakan, bahwa saya telah berkurban segala rupa dan berjasa sangat bagi Tanah Air Kita. Padahal, menurut anggapan saya, diri saya ini belum berjasa apa-apa, jika dibandingkan dengan besarnya kewajiban kita masing-masing terhadap Tanah Air dan Bangsa. Saya berharap pula, supaya saya jangan dipandang sebagai seorang pemimpin yang mesti didewa-dewakan, melainkan pandanglah saya sebagai salah seorang dari saudara, yang bekerja bersama-sama dengan saudara-saudara untuk memperbaiki nasib rakyat, nasib kita semuanya. Saya mempunyai keyakinan, bahwa tidak pemimpin, berapa juga pintarnya dan mampunya, melainkan rakyat sendiri yang cakap memperbaiki nasibnya. Buruk baik, tinggirendahnya derajat Indonesia, itu semuanya ada pada tangan saudara-saudara segenapnya, dalam tangan rakyat jelata. Sebab itu tidak layaknya, kalau rakyat hanya tahu membebek dibelakang pemimpin. Rakyat yang demikian tidak akan mencapai Indonesia merdeka. Inilah pula buktinya pendirian Pendidikan Nasional Indonesia, sebagai badan pendidikan. Kita mendidik diri kita, memperdalam keinsafan kita serta memperkuat iman dan roh kita. Suatu maksud yang utama bagi Pendidikan Nasional Indonesia dengan pendidikannya, bahwa dari golongan rakyat jelata sendiri harus keluar pemimpin-pemimpin sejati. Sebab itu, tiap-tiap kita mempunyai kewajiban memperbaiki diri dan pekerti kita dengan sebetul-betulnya, supaya kita dapat memenuhi kewajiban yang tertanggung atas diri kita.

Menurut agenda hari ini saya akan berbicara tentang “krisis dunia dan nasib Rakyat Indonesia”. Kalau saya sekarang membicarakan hal krisis dunia, janganlah diharap yang saya akan membentangkannya dengan secukup-cukupnya, karena untuk maksud itu tidak cukup waktu yang ada. Saya bicarakan hal krisis itu sekedar  perlu untuk mengerti, bagaimana benarnya asas dan pendirian perkumpulan kita Pendidikan Nasional Indonesia.

Krisis itu berhubung rapi dengan kapitalisme. Bedanya peraturan hidup cara kapitalisme dengan pergaulan hidup masa dahulu, seperti pada waktu Zaman Pertengahan di Eropa, tampak pada duduknya produksi (penghasilan). Dizaman pertengahan itu penghasilan menurut pesanan. Kalau ada pesanan, baru orang menghasilkan benda yang dipesan itu. Akan tetapi sekarang penghasilan itu dilakukan buat pasar. Ditimbang kira-kira berapa perlunya benda-benda bagi orang banyak. Taksiran itu menjadi pedoman penghasilan bagi juragan-juragan pabrik dan industri. Jadinya benda-benda atau barang-barang diperbuat sebelumnya ada pesanan. Sebab segala orang yang mempunyai pabrik dan industri besar-besar itu berpedoman seperti itu, maka kerapkali penghasilan semuanya itu berlebih daripada yang perlu bagi orang banyak. Maka terjadilah apa yang dikatakan orang “over productie”, salah satu tanda adanya krisis tadi. Banyak ragam teori-teori tentang krisis, akan tetapi semuanya itu sepakat tentang satu hal yaitu: produksi tidak cocok dengan konsumsi (pemakaian barang).

Dalam krisis hanya kelihatan keadaan yang aneh-aneh, yang tidak cocok dengan pengertian keadilan dan kebenaran. Selagi di beberapa tempat rakyat hampir mati kelaparan atau hampir tidak bisa makan, pada tempat yang lain benda makanan itu banyak berlebih. Di antaranya ada yang dilempar ke laut dan ada  pula yang dijadikan kayu api. Misalnya di Brazilia bermilyun-milyun karung kopi atau gandum dipakai sebagai pengganti batu arang untuk menjalankan pabrik, sebab barang-barang itu berlebih terlalu banyak dan tidak dapat dijual dengan untung. Inilah suatu tanda, bagaimana ganasnya penghidupan yang semata-mata berdasar kapitalisme, yang dikemudikan oleh cita-cita untuk beruntung. Orang hanya mengenal keperluan dirinya sendiri dan tidak mengingat, bahwa di tempat lain orang menderita kekurangan atau hampir mati kelaparan! Penghidupan makhluk yang banyak semata-mata tergenggam ditangan beberapa puluh orang saja, yaitu pujangga-pujangga kapitalis besar.

Penghidupan kapitalisme membawa ombak dalam penghidupan, membawa perekonomian turun naik.

Pada waktu jatuhnya perekonomian yang hebat, sehingga banyak badan-badan perniagaan yang jatuh, saat itu dinamakan krisis. Keadaan ini tidak lama. Sesudah krisis itu kelihatan perekonomian naik sedikit, akan tetapi sesudah itu turun lagi garisnya dengan lambat dan lamanya kira-kira dua-tiga tahun. Waktu itu dinamai depressi atau malaise. Tanda malaise itu, bahwa kaum ondernemer (pemilik pabrik) tidak berani memulai pekerjaan baru, mereka merasa takut didalam hati. Rente-rente bank pun turut rendah pula. Kaum buruh banyak yang nganggur dan gaji-gaji pun turun pula. Lambat laun timbul kekerasan hati pada beberapa kaum kapitalis, kerap juga orang baru, memberanikan diri menjalankan penghasilan baru. Kalau mereka sudah mulai, maka yang lain itu menurut pula perlahan-lahan. Permintaan kredit kepada bank-bank pun mulai lagi dan rente terus naik. Sebab industri mulai bekerja, harga barang kasar naik dan kemudian dituruti oleh kenaikan harga barang-barang lain. Kenaikan harga itu menggerakkan hati kaum industri untuk memperbesarkan penghasilan mereka. Mereka berlomba-lomba kembali mengadakan penghasilan dan berebut-rebut kembali mencari dan merampas pasar.  Di mana-mana kelihatan perasaan optimism (kesenangan dan kebesaran hati). Produksi makin lama makin naik. Zaman naiknya garis perekonomian tadi sesudahnya zaman depressi atau malaise, dinamai Hoogconjunctuur atau konjungtur naik. Akan tetapi waktu ini tidak terus-menerus. Perlombaan-perlombaan kaum kapitalis tadi mencari untung banyak dan menambah besar penghasilan merusak perekonomian seumumnya. Timbul over produksi. Akhirnya banyak lagi firma-firma yang jatuh. sebab itu timbul kembali krisis, seperti yang dibicarakan tadi.

Begitulah edarannya kondjungtur ekonomi! Pembicaraan ini jauh dari pada cukup, akan tetapimsampailah sekadar untuk pemberi penerangan bagi kaum marhaen. Dikemudian hari, pada suatu kursus spesial akan kita selidiki hal-ihwal kondjungtur dan krisis itu dengan sempurna.

Tadi dikatakan, bahwa krisis itu berhubungan rapi dengan kapitalisme! Kapitalisme itu adalah suatu peraturan hidup dan dikemudikan oleh suatu semangat kuat, yang berakar didalam pergaulan hidup tadi. Sebab itu, untuk menyusun pertahanan kita, haruslah kita perhatikan duduknya semangat itu dan kita ketahui bagaimana asal usulnya. Kita tidak akan menyelidiki perjalanan semangat kapitalisme itu dari semulanya, cukuplah kalau kita ketahui buat sementara bagaimana timbulnya kapitalisme modern, seperti yang kita lihat dimasa sekarang, terutama di benua Barat.

Kapitalisme modern itu didorongkan oleh semangat individualisme, yang memakai dasar bahwa orang  seorang itu harus merdeka bekerja dan berbuat apa juga untuk memperbaiki keadaan. Keadaan seseorang hanya dapat diperbaiki dengan usahanya sendiri. Pendeknya: kemerdekaan orang seorang, kemerdekaan masing-masing.

Semangat individualisme timbul sebagai reaksi terhadap semangat universialisme seperti yang kelihatan di zaman pertengahan di bawah anjuran agama Katholik. Menurut cita-cita universialisme tadi, tiap-tiap  orang itu harus merasa dirinya sebagai bagian daripada pergaulan umum. Apa yang dikerjakannya haruslah teratur, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang banyak. Tiap-tiap orang itu dipandang sebagai anggota-anggotanya dari suatu badan. Akan tetapi, sungguhpun dasarnya ada baik, jalannya amat mengikat orang, karena yang dikatakan pergaulan umum itu sama saja dengan Gereja Katholik. Lahirnya tiap-tiap orang harus takluk ke bawah perintah kepala Gereja Katholik tadi. Ikatannya ada begitu keras, sehingga orang pun tidak merdeka berpikir. Kalau menurut paham gereja tadi, bahwa bumi ini petjak, maka tiap-tiap orang mesti menerima kebenaran tadi. Begitu juga, dengan ahli ilmu alam, bernama Copernicus, hampir dibakar dimuka umum atas perintah kepala Gereja Katholik, karena ia mengatakan, bahwa dunia ini bulat, jadinya berlawanan dengan pelajaran Gereja tadi.

Sebab semangat universialisme tadi menimbulkan satu masyarakat yang terikat, maka timbul suatu reaksi yang hendak menggantinya. Reaksi itu ialah semangat individualisme, yang bertentangan dengan yang mula-mula. Semangat ini diapi-apikan oleh beberapa ahli filsafat, di antaranya yang paling ternama adalah Rousseau. Sendi semangat ini ialah: manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka! Ia boleh membuat apa saja asal jangan mengganggu keamanan orang. Semangat itu menimbulkan ditanah Perancis suatu Revolusi Besar pada tahun 1789, yang meruntuhkan masyarakat kuno, yang orang namai feodalisme: kekuasaan kaum ningrat atas rakyat negeri. Semangat individualisme itu membawa juga kemerdekaan berpikir. Dan kemerdekaan berpikir itu membawa pendapatan-pendapatan baru dalam ilmu alam. Orang dapat mempergunakan mesin uap. Dan dengan akal itu timbullah mesin-mesin, yang dipergunakan untuk membesarkan penghasilan. Apa yang dikerjakan dahulu dengan tangan, sekarang dengan mesin, sehingga pekerjaan jadi cepat. Semangat individualisme itu menimbulkan Revolusi industri, terutama terjadi di negeri Inggris. Zaman mesin lahirlah kedunia.

Kedua-duanya itu, individuele revolutie (kemerdekaan orang seorang) dan industriele revolutie (lahirnya zaman mesin) menjadi jiwa dan motor kapitalisme sekarang.

Revolusi Perancis, sebagai anak semangat individualisme tadi, membawa kemuka cita-cita Volkssouvereiniteit, cita-cita Kedaulatan Rakyat. Tidak seperti Kedaulatan Rakyat yang kita pahamkan, tetapi suatu kedaulatan rakyat yang pincang. Pincang karena asasnya tidak betul. Cita-cita Volkssouvereiniteit itu membawa kemerdekaan anak negeri, memberi hak kepada anak negeri. Tidak lagi kaum ningrat saja yang boleh bicara tentang urusan negeri, melainkan juga rakyat dengan perantaraan wakil-wakilnya. Sebab asasnya tidak betul, maka Volkssouvereiniteit itu tidak membawa kemerdekaan rakyat, melainkan kemerdekaan orang-seorang. Sebab itu pincang. Karena tidak ada kemerdekaan orang-seorang  didalam pergaulan hidup yang tidak akan mengganggu kemerdekaan orang lain.

Semangat individualisme tadi mengemukakan, bahwa tiap-tiap manusia lahir merdeka dan hidup merdeka. Sebab itu pula, maka konstitusi (Undang-undang Dasar) Perancis yang pertama melarang orang berserikat, karena menurut paham semangat tadi  perserikatan itu mengikat atau membatasi kemerdekaan orang. Dan itu tidak boleh. Jadinya kaum buruh yang sudah ada di waktu itu tidak boleh berserikat, tidak boleh mengadakan perserikatan sekerja dan lain-lain.

Akan tetapi, selagi kaum buruh tidak boleh berserikat, modal atau capital dapat berserikat. Orang seorang  yang tidak cukup mempunyai modal untuk mendirikan suatu pabrik, sebab itu modal beberapa orang dikumpulkan menjadi satu dan menjadi jiwa perusahaan atau penghasilan baru. Sebab dasar kapitalisme itu merdeka bersaing, menurut dasar semangat individualism yang orang itu lahir merdeka dan hidup merdeka, maka sekumpulan modal yang satu bebas bersaingan pula dengan sekumpul modal yang lain dalam merebut pasar dan mencari laba. Persaingan itu, yang mula-mulanya bunuh- membunuh, menerbitkan akal baru kepada kaum kapitalis. Kumpulan modal yang kecil-kecil itu dipersatukan, sehingga timbullah kumpulan-kumpulan besar dan sampai lahirnya badan-badan perusahaan yang maha besar seperti Kartel, Trust dan Konsern yang ada dimasa sekarang, yang sampai mempunyai kapital beratus milyun.

Di sini tampak pincangnya dasar-dasar Revolusi Perancis yang menjadi sumber demokrasi Barat di masa sekarang. Kaum buruh tidak boleh berserikat, sehingga mereka tidak dapat mempertahankan kebutuhan mereka bersama. Akhirnya hidup mereka paling melarat, diperas kaum majikan. Akan tetapi sebaliknya, modal boleh berserikat menjadi satu dan menjadi besar. Lahirnya modal yang terkumpul menjadi satu, akan tetapi pada batinnya kaum kapitalis yang berserikat dibelakang modal mereka yang tampak keluar.

Baru pada pertengahan abad yang lalu timbul pergerakan kaum buruh yang sudah begitu melarat hidupnya di bawah penindasan dan hisapan kaum majikan yang berserikat, dibangkitkan oleh seorang pujangga besar yang berperasaan Marhaen: KARL MARX, yang sampai sekarang dipandang oleh kaum buruh Barat dari beberapa golongan haluan sebagai nabi mereka.

Pada tahun 1847 Karl Marx mengeluarkan sebuah manifes, yang memakai nama Communistisch Manifes (Manifesto Komunis). Isinya menggembirakan hati kaum buruh diwaktu itu, karena ia merupakan kepada kaum buruh, bahwa mereka tidak akan selama-lamanya hidup melarat, melainkan akan timbul  suatu waktu yang mereka akan hidup sempurna dalam suatu massyarakat baru. Datangnya masyarakat itu bukan karena perbuatan manusia, melainkan atas dorongan suatu “kodrat” yang ada tiap-tiap waktu didalam pergaulan hidup, yang rupanya senantiasa berbeda dari zaman ke zaman. Demikianlah digambarkannya kekuatan kodrat itu, yang mendorongkan masyarakat dari peraturan feodalisme sampai kepada kapitalisme melalui beberapa tingkat pula, akhirnya pindah atau berubah menjadi pergaulan sosialisme: suatu pergaulan hidup, dimana penghasilan itu dikerjakan oleh dan untuk segenap orang banyak.Didalam gerakan kodrat itu Karl Marx menggambarkan suatu rol yang besar bagi kaum buruh; mereka menjalankan perjuangan kelas dengan kaum majikan, sampai mereka memperoleh kemenangan akhir; yaitu tercapainya suatu masyarakat baru.

Teori dinamika ini, yaitu teori perasaan peredaran zaman dan perjuangan, menggembirakan hati kaum buruh. Selagi mereka mula-mula tidak mempunyai pengharapan lagi dan menerima saja nasibnya yang lebih sedih dari itu sebagai takdir Allah, sekarang mereka mulai mempunyai pengharapan akan mencapai kemerdekaan mereka. Putus asa berganti dengan gembira-tenaga! Dari mula itulah timbul perjuangan yang hebat di Eropa antar kaum kapitalis dan kaum buruh!

Dalam perjuangan itu kaum kapitalis senantiasa berusaha memperkuat kedudukannya. Karena mereka tidak saja berjuang dengan kaum buruh, melainkan juga mereka sama mereka berjuang pula. Keadaan itu sudah semestinya menurut semangat individualisme dan kapitalisme sendiri: orang merdeka bekerja dan merdeka pula memperbuat kontrak segala rupa.

Persaingan itu menimbulkan akal dan tenaga baru. Supaya jangan tewas dalam perjuangan mencari untung dan merebut pasar, maka kaum kapitalis itu senantiasa memperbaiki perusahaan mereka, memperbaiki mesin-mesin mereka dan mencari teknik-teknik baru yang lebih baik dari yang dahulu. Oleh sebab itu timbullah zaman rasionalisasi kedalam ekonomi barat. Rasionalisasi artinya: berusaha dengan demikian, supaya  dengan tenaga yang paling sedikit terdapat penghasilan yang sebesar-besarnya.

Semangat rasionalisasi itu senantiasa menimbulkan perubahan didalam industri. Senantiasa mesin dimajukan kemuka dengan alat yang senantiasa diperbaharui. Senantiasa orang diganti dengan mesin. Apa yang dikerjakan dahulu oleh manusia, sekarang berangsur-angsur dikerjakan oleh mesin.  Manusia dalam perusahaan dan penghasilan diganti dengan kodrat-buta, kodrat wajah.

Suatu misal untuk menyatakan keadaan ini dengan jelas. Kita ambil pabrik Ford di Amerika. Beberapa puluh tahun yang lalu orang didalam pabrik Ford berguna waktu kikra-kira sebulan untuk memperbuat satu auto. Sekarang, dengan teknik kini, satu auto dipukul rata dapat dibuat dalam lima menit saja. Pembagian pekerjaan teratur dengan rapi. Tiap-tiap bagian daripada auto itu ada satu macam mesin yang memperbuatnya. Kemudian ada pula macam teknik yang menyatukan bagian-bagian yang dibuat oleh satu-satu mesin tadi. Sebab itu dipukul rata dalam lima menit lahir satu auto. Akan tetapi, mengertilah kita bahwa segalanya itu kerja mesin, tidak kerja manusia lagi.

Demikian juga didalam pabrik mencetak surat kabar. Semuanya sudah pekerjaan mesin. Sampai melipat dan membungkus sudah pekerjaan mesin, sehingga manusia tidak ada pekerjaan lagi. Demikianlah duduknya susun teknik sehingga suatu surat kabar seperti “Le Matin” bisa mempunyai oplaag (banyak lembar) sampai 2 milyun satu hari!

Misal ini cukup memberi kenyataan, bagaimana duduk dan lakunya revolusi teknik! Salah satu perbedaan yang penting antara dahulu dengan sekarang: dahulu manusia, kaum buruh, yang bekerja dan dibantu oleh mesin; sekarang mesin yang bekerja dan dibantu manusia! Sekarang mesin terkemuka, apa yang tak dapat dikerjakan oleh mesin, barulah dikerjakan oleh orang, dengan menanti waktunya  yang ia nanti diusir lagi oleh mesin.

Keadaan ini tidak boleh tidak menambah hebatnya krisis dunia. Sebab teknik bertambah maju, kaum buruh diusir dari pabrik oleh mesin, yang menggantikan tempat mereka, maka jumlah orang yang nganggur semakin lama semakin bertambah. Di negeri Jerman, misalnya, yang jumlah kaum pekerjanya kira-kira 12.000.000 jiwa, sudah lebih dari 6.000.000 orang yang tidak mempunyai pekerjaan. Kira-kira 50% dari kaum buruh yang nganggur!

Dahulu ada juga orang nganggur, tidak dapat pekerjaan, akan tetapi jarang yang menganggur selama-lamanya. Dahulu jarang ada kaum buruh yang tidak dapat  pekerjaan 4, 5 atau 6 bulan dalam satu tahun. Sekarang sudah biasa beribu-ribu, ya, berjuta-juta orang yang menganggur, boleh dibilang selama-lamanya! Sehingga timbul satu kelas baru dalam masyarakat kita ini: kelas kaum nganggur, yang mempunyai adat sendiri, tabiat sendiri, dan yang sudah benci kepada pekerjaan.

Keadaan semacam itu berpengaruh besar atas pergerakan kaum buruh di benua Eropa! Rata-rata mereka tidak bertambah radikal, melainkan bertambah lembek. Yang radikal hanya pada pinggir kiri saja; selainnya tubuh yg besar itu hanya mempunyai ingatan: bagaimana mempertahankan apa yang ada dan harta yang ditangan. Ada pula keradikalan di luar pergerakan kaum buruh, di dalam golongan pihak kanan, yang hendak menimbulkan fasisme. Ini bukan menjadi pembicaraan kita. Kita hanya memperhatikan di sini keadaan kaum buruh rata-rata di dunia Barat!

Apa sebabnya pergerakan mereka bertambah lembek, sedangkan nasib mereka bertambah jelek ! Duduknya begini! Berkat perjuangan kaum buruh Barat sudah mencapai kekuatan, yang sampai baru-baru ini tidak dapat disia-siakan oleh kaum majikan! Berkat perjuangannya yang dahulu mereka sudah mencapai suatu maksud, yaitu, bahwa tiap-tiap orang yang menganggur mendapat bantuan uang dari pemerintah negeri. Yang terhitung kaum nganggur ialah mereka yang sudah mempunyai pekerjaan dan kemudian nganggur tidak karena salah sendiri. Akan tetapi mereka yang meninggalkan bangku sekolah untuk memburuh dan tidak dapat pekerjaan dimana juga, mereka yang seperti itu tidak terhitung masuk golongan orang yang mendapat tunjangan uang tadi. Mereka yang mendapat tunjangan uang hidup dari pemerintah pula atas dua golongan: mereka yang mendapat bantuan sederhana buat hidup dan mereka yang hampir tidak dapat hidup dari uang tunjangan itu.

Jadinya, nyatalah  ada empat golongan dalam kaum buruh: pertama, mereka yang masih bekerja; kedua, mereka yang nganggur dan mendapat tunjangan sederhana buat hidup; ketiga, mereka yang uang tunjangannya hampir tidak cukup buat hidup; dan keempat, kaum buruh nganggur yang sama sekali tidak dapat tunjangan.

Keadaan ini berarti besar untuk mengetahui gelagat kaum buruh Barat diwaktu sekarang! ini.

Kaum yang pertama takut berjuang dengan hebat, karena kalau mereka mengambil sikap yang terlalu radikal, mereka akan dilepas dan diganti dengan kaum yang nganggur. Bahaya nganggur senantiasa mengancam mereka, sebab itu terpaksa mereka menjadi lembek didalam pergerakan. Kaum nganggur kelas dua seperti itu juga sikapnya. Mereka takut berjuang keras, karena boleh jadi mereka nanti terdorong ke kelas tiga. Sikap kaum kelas tiga demikian juga. Mereka takut akan kehilangan uang bantuan sama sekali. Oleh karena itu, maka hanya kaum kelas empat yang berdarah panas, beringatan radikal. Bukan karena keinsafan, melainkan karena putus harapan, sampai menjadi mata gelap. Ucapan mereka tidak lain, melainkan supaya timbul revolusi secepat-cepatnya. Dengan timbulnya revolusi itu mereka berharap akan mendapat nasib yang lebih baik atau pendeknya kurang melarat sedikit. Penghidupan mereka sudah begitu melarat, sehingga ingatan kepada hidup yang akan lebih melarat tidak ada pada mereka. Menurut keyakinan mereka, apapun juga caranya masyarakat yang akan datang, nasib mereka tidak bisa lebih jelek daripada yang sudah ada. Sebab itu sikap mereka paling revolusioner, cita-cita mereka tak lain daripada niat hendak meruntuhkan masyarakat yang ada. sebab itu pula  mereka tidak terikat kepada paham dan asas politik. Partai yang menurut persangkaan mereka lekas akan menimbulkan revolusi, partai itu yang mereka masuki. Itulah sebabnya maka sering terbaca oleh kita berita dari Jerman, bahwa satu golongan kaum radikal pindah tempat dari Partai Nasional Sosialis ke Partai Komunis atau kebalikannya.

Dalam keadaan yang demikian pergerakan kaum buruh Barat rata-rata lembek! Oleh karena itu pendirian kaum majikan bertambah kuat. Apalagi, karena tangkai penghidupan orang banyak ada didalam tangan mereka; mereka yang mengatur perusahaan besar.

Akan tetapi sebaliknya pula, mereka takut didalam hati mereka melihat kaum nganggur yang sebanyak itu, yang sudah sampai menjadi satu kelas sendiri. Kaum yang demikian senantiasa menimbulkan bahaya revolusi, yang paling ditakuti oleh kaum kapitalis. Oleh sebab itu kaum kapitalis sudi, kalau perlu menyokong dengan uang kaum yang nganggur, pendeknya menyokong uang bantuan negeri, untuk kaum buruh yang nganggur dengan tunjangan cukup, supaya kaumnganggur itu tinggal diam.

Akan tetapi, kalau kaum kapitalis tadi terpaksa menolong membantu kaum nganggur dengan uang, maka teranglah sudah, bahwa uang bantuan itu datangnya dari sebagian dari keuntungan mereka.

Kalau sebagian dari keuntunganyang ada sudah terpakai untuk pembantu kaum nganggur, supaya mereka tinggal diam jangan membuat huru-hara, maka kekurangan itu harus ditutup lagi. Dengan jalan
apa?

Di dalam negeri sendiri tidak dapat lagi. Oleh sebab itu keuntungan itu harus didatangkan dari BenuaTimur dan dari tanah jajahan. Disini politik eksploitasi akan diperkuat. Disini tampaklah lagi bahaya krisis dunia itu atas rakyat kita. Rakyat kita di sini akan membayar segala kebinasaan yang ditimbulkan oleh kapitalisme itu di Benua Barat.Negeri kita harus menghasilkan untung yang lebih banyak kepada kaum majikan, untuk dibawa mereka ketanah airnya, untuk menambah belanja rakyat mereka.

Kita tahu, bahwa kapitalisme itu memajukan imperalisme. Bertambah besar kapitalisme itu, bertambah kuat sepak terjang imperalisme. Bukan saja imperalisme politik, akan tetapi juga imperalisme ekonomi.

Imperialisme politik mencari pengaruh kekuasaan ketanah asing, terutama ketanah-tanah Timur. Inilah pula dasarnya Koloniale Politiek! Dan kalau kekuasaan politik disana sudah tertanam, kekuasaan ekonomi atau imperialisme ekonomi akan dapat bersihmaharajalela. Tanah-tanah  asing dijadikan Tanah jajahan atauTanah Pengaruh. Negeri Tiongkok dikatakan negeri merdeka, akan tetapi sebenarnya tidak berbeda dengan tanah jajahan. Politik dan ekonomi negeri Tiongkok semata-mata dibawah kontrol negara-negara asing. Belanda India atau Indonesia dengan Tiongkok hanya, bahwa India atau Indonesia jajahan dari satu negeri, dan negeri Tiongkok adalah jajahan internasional.

Sampai sekarang tanah jajahan itu gunanya: pertama, sebagai pasar untuk penghasilan industri si Imperialis; kedua, tempat mendapat benda kasar (bahan) dan ketiga, untuk mendapat benda makanan. Kemudian kapital yang berlebih dinegeri sendiri dipergunakan untuk membangkitkan perusahaan besar, terutama industri pertanian, ditanah-tanah jajahan. Semuanya ini harus mendatangkan kekayaan kepada negeri sendiri.

Krisis dunia yang mahahebat diwaktu sekarang menimpa industri barat. Otak Barat me-rasionalisir segala rupa, sehingga timbul kemelaratan dalam negeri sendiri. Ini ancaman dari satu pihak! Akan tetapi ada lagi ancaman yang lain, yang tidak kurang hebatnya, yang tak sedikit menyusahkan ekonomi Barat. Serangan ini datang dari Jepang. Barat bekerja dengan ongkos besar, karena upah kaum buruhnya amat tinggi. Di nederland misalnya upah kaum buruh rata-rata f 40. –satu minggu, yaitu lebih dari f 5, –sehari. Akan tetapi di Jepang upah kaum buruh rata-rata  f 0.60 à 75 sèn sehari. Oleh karena itu Barat tidak sanggup berjuang dengan Jepang, sehingga pasar-pasar yang ada dibawah pengaruh Barat berangsur-angsur dirampas oleh Jepang.

Oleh karena itu, timbullah taktik baru dalam akal kaum kapitalis Barat. Kalau industri tidak dapat hidup dinegeri sendiri, maka ia dipindahkan ke tanah jajahan, dimana rakyat masih dapat diperas, karena tidak dilindungi oleh suatu sociale wetgeving, seperti dinegeri sendiri. Ini bukan soal teori saja, melainkan suatu soal yang penting dan nyata. Dinegeri Belanda sudah banyak ucapan untuk memindahkan beberapa pabrik kain dari Twentw ke Indonesia atau sekurang-kurangnya membangunkan pabrik kain di Indonesia ini dengan …………modal Belanda.

Jadinya, dua macam pasal yang akan membesarkan tindasan ekonomi Barat atas rakyat kita: pertama, berhubung dengan keadaan pengangguran dibenua Barat; kedua, berhubung dengan serangan ekonomi Jepang. Imperialisme ekonomi akan bertambah hebat disini, nasib rakyat kita akan bertambah melarat. Kalau kita tidak menyusun pertahanan yang teratur dari mulai kini, maka kita akan tenggelam didalam laut penghidupan. Bukan saja pertahanan politik, melainkan juga pertahanan ekonomi.

Tidak dapat imperialisme ekonomi itu ditahan dengan swadeshi, malahan swadeshi itu lebih berbahaya bagi kita sendiri. Orang disini berdendang Swadeshi, yang sebenarnya liplap-swadeshi karena benang datang dari luar. Pemerintah mendirikan sekolah pertenunan kain. Dan siapa yang akan berbahagia nanti? Tidak lain dari kaum kapitalis barat yang akan membawa pabrik-pabrik mereka kemari. Kalau rakyat disini sudah tahu menjalankan perkakas tenun, maka sudah mudah bagi kaum kapitalis itu mengadakan pabrik disini, karena…..sudah terdapat oleh mereka disini kaum buruh yang terpakai untuk menjalankan mesin tenun! Dan Swadeshi kita yang berusaha mahal tadi akan mati saja seperti lampu yang tidak berminyak!

Apa cara menyusun pertahanan kita?

Mengingat serangan dan ancaman kapitalisme dan imperalisme Barat tadi, nyatalah bahwa pertahanan kita baru sempurna, kalau ia tersusun dari pada tenaga rakyat yang banyak, yang bersatu paham. Segala perjuangan yang tidak disokong oleh paham dan iman rakyat tidak akan membawa hasil. Sebab itu pergerakan kita tidak akan kuat, kalau rakyat yang banyak tidak diajar berpikir, tidak diajar menimbang  buruk dan baik, akan tetapi hanya tahu bersorak dan bertepuk tangan pada mendengarkan pidato-pidato yang nyaring bunyinya. Pendidikan rakyat haruslah bersifat: membentuk budi dan pekerti, agar terdapat pertahanan yang kukuh dalam berjuang dengan imperalisme Barat . Dan supaya kapitalisme Barat tadi jangan pula menukar bulu menjadi kapitalisme sini yang akan menelan rakyat kita, perlulah pula kita bekerja untuk mencapai suatu massyarakat baru yang berdasarkan keadilan dan kebenaran. Satu masyarakat yang sempurna, sehingga tidak ada orang yang satu ditindas oleh orang lain, si lemah siperkosa oleh sikuat atau si miskin diperas oleh si kaya. Kita sudah melihat bagaimana sedihnya  penyakit sosial yang ditimbulkan oleh kapitalisme di benua Barat dan…….. di negeri kita sendiri. Sebab itu kita harus menjaga, supaya tanaman asing itu jangan sampai berakar dalam di sini.

Sebab itu pendidikan nasional Indonesia memakai dasar yang cocok dengan keperluan yang dua ini, yaitu dasar Kedaulatan Rakyat!

Supaya terdapat pertahanan yang sempurna dan tercapai satu masyarakat yang berdasarkan keadilan dan kebenaran, haruslah rakyat kita insyaf akan haknya dan harga dirinya. Kemudian haruslah ia berhak menentukan nasibnya sendiri dan perihal bagaimana ia mesti hidup dan bergaul. Pendeknya, cara mengatur pemerintahan negeri, cara menyusun perekonomian negeri, semuanya itu harus diputuskan oleh rakyat dengan mufakat. Pendek kata, rakyat itu daulat alias raja atas dirinya sendiri. Tidak lagi orang seorang atau sekumpul orang pandai atau satu golongan kecil saja yang memutuskan nasib rakyat dan bangsa, melainkan rakyat sendiri.

Inilah artinya “Kedaulatan Rakyat”! Inilah suatu dasar demokrasi atau kerakyatan yang seluas-luasnya. Tidak saja dalam hal politik, melainkan juga dalam hal ekonomi dan sosial ada demokrasi: keputusan dengan mufakat rakyat yang banyak.

Di pengertian yang luas inilah ternyata perbedaan azaz kedaulatan rakyat, yang menjadi dasar  perkumpulan kita, dengan cita-cita volkssouvereiniteit atau demokrasi cara Barat. Dasar volkssouvereiniteit atau demokrasi sekarang mengakui, bahwa hak si miskin sama dengan hak si kaya atau hak siburuh sama dengan hak orang bangsawan (ningrat). Pendeknya, sama rata sama rasa! Akan tetapi volkssouvereiniteit  menjadi pincang, karena cita-cita sama rata sama rasa itu hanya berlaku dalam politk saja.

Dalam perihal penghidupan rakyat atau dalam hal ekonomi, cita-cita itu jauh sekali. Malahan ternyata, bahwa di sini sama sekali tidak ada demokrasi. Penghidupan rakyat yang banyak semata-mata dikuasai oleh satu golongan kecil, yaitu kaum kapitalis.

Pendidikan Nasional Indonesia menuju kerakyatan dalam ekonomi! Bagaimana rakyat mesti hidup, apa yang harus dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan menambah kemakmuran rakyat, segala hal ini harus diputuskan dengan mufakat sama rakyat. Rakyat yang banyak turut bersuara dalam hal ini.

Pergaulan hidup rakyat yang seperti itu kita namai “kolektivisme” yaitu pergaulan hidup berdasar persamaan!

Sungguhpun perkataan “kolektivisme” adalah perkataan baru, berusia belum lagi seratus tahun, cita-citanya sudah tua betul, sudah lahir ke dunia semenjak Nabi Isa. Cita-cita penghidupan yang seperti itu terus-menerus dimajukan oleh Agama Islam, kemudian oleh penganjur-penganjur kaum buruh, dari Karl Marx sampai Lenin. Bagaimanapun bedanya jalan yang dianjurkan untuk mencapainya, tujuan semuanya  itu sama. Dan kalau masyarakat yang berdasar “kolektivisme” itu belum tercapai, ini bukan suatu tanda bahwa cita-cita itu kosong dan bohong atau utopia, melainkan menyatakan bahwa itulah suatu cita-cita yang paling tinggi, yang hanya boleh didapat kalau didikan manusia sudah sempurna dan kalau sifat manusia, yang kerapkali mengenal akan keperluannya sendiri, berubah. Perubahan itu akan lahir, berkat didikan dan kodrat zaman!

Oleh sebab banyak jalan yang menuju “kolektivisme” tadi, maka orang nanti akan bertanya: apakah kita hanya tahu meniru saja? Mengambil lagi satu “isme” barat  dan membawanya ke negeri kita ini?

Jauh daripada itu! Dari mulanya kita sudah menentukan sikap kita,[1] bahwa kita tidak tukang tiru, akan tetapi memajukan asas-asas kita yang cocok dengan semangat dan fi’il batin rakyat kita. Betul perkataan “kolektivisme” itu perkataan barat, akan tetapi yang menjadi isinya pada kita ialah dasar hidup sendiri. Memang rakyat kita biasa hidup dalam kolektiv. Sanubari rakyat kita penuh cita-cita persamaan: kalau orang desa hendak membuat rumah , atau mengerjakan sawah ataupun ditimpa bala kematian, maka ia tak perlu menggaji kuli atau lain-lainnya untuk menolong dia. Melainkan ia ditolong oleh kaummnya sedesa. Pendeknya dasar pergaulan kita ialah tolong-menolong! Diatas dasar itu haruslah disusun perekonomian baru, dimana machluknya bekerja bersama-sama untuk keperluan dan kemajuan bersama.

Sekarang kewajiban kita: meluaskan lingkungan dasar itu dan memperbaiki susunanya sampai cocok dengan dasar kemajuan dan zaman. Misalnya dasar tolong-menolong itu sudah memeluk cita-cita koperasi. Akan tetapi koperasi yang cocok dengan cita-cita Kedaulatan Rakyat ialah koperasi, yang didirikan tidak semata-mata untuk mencari untung, melainkan berusaha untuk pembela kebutuhan orang banyak. Misalnya didirikan beberapa koperasi; yang ini menolong lagi timbulnya koperasi yang lain. Dan semuanya itu mengumpulkan sebagian daripada untungnya buat keperluan orang banyak, rakyat jelata, misalnya untuk perguruan rakyat. Jadinya, barisan koperasi yang bertolong-tolongan dan tidak kooperasi yang bersaing-saingan satu sama lain.

Kemudian nyatalah pula, bahwa perekonomian yang berdasar kedaulatan rakyat, yang rakyat mempunyai kekuasaan menetapkan keperluannya, mestilah tidak boleh tidak bersandar kepada milik bersama terhadap perusahaan-perusahaan besar yang menguasai penghidupan orang banyak. Bukan milik bersama terhadap kepada barang pakaian sendiri atau rumah tangga sendiri!

Kita tahu, bahwa cita-cita baru dapat dicapai. Kalau Indonesia sudah merdeka, dan kalau rakyat sudah memerintah dirinya sendiri. Kalau sudah tercapai, yang hukum dan undang-undang negeri cocok dengan perasaan keadilan dan kebenaran yang hidup dalam sanubari rakyat yang banyak.

Demikianlah tujuannya dasar Kedaulatan Rakyat yang kita pahamkan. Rakyat menjadi raja atas dirinya sendiri, maupun dalam hal politik, perkara mengatur pemerintahan negeri, maupun dalam hal ekonomi perkara mengatur penghidupan rakyat. Negeri hanya dapat maju, kalau rakyat turut menimbang mana yang baik dan mana yang buruk untuk orang banyak. Pendeknya, kalau rakyat tahu memerintah diri sendiri, tahu mempunyai kemauan dan melakukakn kemauan itu. Rakyat yang tidak mempunyai kemauan yang hanya tahu menerima perintah, rakyat yang demikian tidak akan pernah merdeka. Sebab itu Pendidikan Nasional Indonesia mendidik rakyat, supaya insaf akan kedaulatan dirinya!

Negeri yang rakyatnya hanya thu menerima perintah dan tidak pernah turut memperhatikan atau mengatur pemerintahan negeri, negeri yang begitu tidak dapat mulia selama-lamanya dan akhirnya boleh jadi takluk kepada kekuasaan bangsa asing.

Kebenaran ini dapat dinyatakan dengan dua buah contoh, yaitu riwayat negeri Turki dan riwayat Tanah Air kita seendiri!

Kira-kira enam abad yang lalu, kerajaan Turki besar kekuasaannya sampai menaklukkan hampir separuh dari Eropa. Akan tetapi kekuasaan itu roboh kembali dengan cepat, sehingga orang Turki hampir diusir sama sekali dari Eropa, sedangkan negerinya yang asli di Anatolia hampir  menjadi jajahan Inggris.

Kita sebut misal ini bukan hendak menyukai imperialisme Turki yang menjalar ke Eropa Tengah tadi, atau masgul karena imperium itu roboh, melainkan hendak menunjukkan, bahwa kekuasaan dan kebesaran suatu bangsa lekas roboh, kalau bangsa itu tidak bersendi kepada rakyat, akan tetapi hanya dibimbing oleh kemauan orang seorang atau segolongan kecil saja.

Dan riwayat Turki pun menyatakan pula. Bahwa pergerakan kemerdekaannya berhasil bagus oleh karena dijunjung oleh rakyat yang banyak. Oleh karena pergerakan itu bukan pergerakan Mustafa Kemal saja dengan opsir-opsirnya, melainkan pergerakan rakyat Turki sendiri. Inilah jasa Mustafa Kemal yang diwaktu itu, bahwa ia tahu membangkitkan kesadaran rakyat dan tahu merasakan kepada rakyat, bahwa perjuangan yang dimajukan ialah perjuangan rakyat seumumnya.

Kita perhatikan sekarang sejarah Tanah Air Kita. Masih teringat kepada kita Kerajaan Majapahit, yang bukan saja memerintahi Indonesia sekarang ini, melainkan juga sebagian daripada Malaka dan Philipina. Kekuasaan dan kebesaran itu juga tidak kekal, karena ia bergantung kepada kemauan orang seorang, sedangkan rakyat tidak berhak apa-apa tentang urusan negeri. Jangankan kekal kekuasaan majapahit tadi, kedudukannyalah juga menjadi sebab, maka kita sekarang diperintah oleh bangsa lain. Tidak pernah rakyat kita diberi hak untuk turut bicara tentang urusan negeri, sebab itu bangsa kita tidak mempunyai semangat yang kuat.

Sekarang banyak lagi orang, terutama kaum cultuur-nationalisten, yang memimpi-mimpikan Kerajaan Majapahit di zaman yang akan datang. Kita menentang cita-cita itu! Bukan Indonesia merdeka dibawah kerajaan majapahit yang kita idamkan, melainkan Indonesia Merdeka sebagai kerajaan Rakyat Indonesia. Indonesia merdeka menurut dasar Kedaulatan rakyat!

Sekarang nyatalah, bagaimana duduknya asas Kedaulatan Rakyat yang kita majukan. Pun dalam perjuangan sekarang kelihatan besar manfaat  dan artinya. Ia merukunkan rakyat kepada kedaulatan dirinya, merasakan kepada rakyat akan harga dirinya. Kemudian ia mendidik rakyat supaya tahu berpikir, supaya tidak lagi hanya tahu membebek dibelakang pemimpin-pemimpin saja.

Kalau rakyat tahu berfikir, belajar mengetahui hak dan harga diri sendiri, rakyat pun tahu menyusun tenaga, yang paling perlu bagi pertahanan kita dalam menentang serangan Kapitalisme dan Imperialisme Barat yang mahahebat itu, seperti yang telah dibicarakan. Rakyat yang tak insaf akan kedaulatan dirinya, rakyat itu tidak akan sanggup berjuang dengan betul. Sebab itu Kedaulatan Rakyat!

(Daulat Rakyat, No. 37/38, tgl. 20/30-9-1932)


[1] Bacalah “Daulat Rakyat” No.1 dan No.12.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Assalamualaikum Wr. Wb.

    Saya telah membaca tulisan diatas mengenai krisis dunia dan nasib rakyat indonesia. Tulisan sangat menarik, tetapi saya memiliki pemikrian lain dari apa yang telah diutarakan diatas. Saya hanyalah seorang pekerja freelance yang juga ingin sharing mengenai nasib bangsa ini. Saya seorang muslim dan pemikiran saya tentang bangsa ini agar maju baik itu sebagai negara maju, terbebas dari kemiskinan, bahkan mungkin melunasi hutang indonesia. Yang terbersit di pikiran saya adalah bangsa ini mayoritas beragama islam dan jumlahnya pun tidak sedikit bahkan ratusan juta orang. Seandainya saja kita kembali ke perintah islam, yaitu MEMBERDAYAKAN ZAKAT sebesar 2,5% dari setiap orang yang telah berpenghasilan, berapa jumlah dana yang akan terkumpul untuk menyelamatkan bangsa ini? kita asumsikan saja dari rata-rata zakat yang terkumpul dari setiap orang sebesar Rp 15.000 dalam satu bulan, dan kita asumsikan bahwa umat muslim di indonesia yang membayar zakat 100 juta orang, bisa kita hitung jumlah yang terkumpul adalah Rp 15.000 X 100.000.000 = Rp 1,5 Triliun setiap bulan dan dalam satu tahun = Rp 18 Triliun. Jumlah Dana yang terkumpul ini harus di kelola dengan efektif dan efisien oleh lembaga zakat dengan menempatkan para ulama sebagai pimpinan langsung dibawah presiden. Lembaga atau badan yang sudah ada saat ini seperti BAZIS ataupun yang lain seperti rumah zakat harus dilebur menjadi satu langsung sebagai lembaga Zakat, Infaq dan Sodaqoh. Dari hasil dana zakat ini, di distribusikanlah untuk pembangunan rumah sakit Zakat yang nanti pasien tidak perlu membayar biaya rumah sakit, memperbaiki sekolah-sekolah, membiayai kehidupan orang miskin bahkan membantu pemerintah dalam hal pembangunan infrastruktur dan bahkan untuk pertahanan negara. Bagaimana hal ini dapat terwujud untuk dilakukan? menurut saya adalah pemerintah turun langsung berdiskusi dengan rakyat melalui aparatur pemerintahan dan bersinergi dengan para ulama memberikan penjelasan mengenai zakat itu sendiri sebagai pembersih penghasilan yang kita peroleh dan kegunaan zakat yang akan di kumpulkan. Hal ini harus dilakukan dengan pendekatan pemerintah melalui RT dan RW setempat yang memberikan penjelasan bahwa negara membutuhkan dana zakat masyarakat seikhlasnya yang akan dikumpulkan oleh RT setempat untuk kemajuan bangsa ini kedepan, baik untuk pembangunan maupun pengentasan kemiskinan. Jadi dengan uang zakat yang terkumpul ini kegunaannya adalah segala sesuatu yang dibangun dengan uang zakat, sebagi contoh adalah rumah sakit, semua orang harus digratiskan dari biaya rumah sakit karena rumah sakit itu dari zakat rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tanpa harus menggunakan kartu miskin, kartu apapun itu karena yang namanya keselamatan dan kesehatan rakyat tidak dapat di permainkan. Sudah Saatnya kita bertindak untuk bangsa ini, jangan hanya mengkritik tanpa saran, menghujat tanpa memberikan masukan. Demikian pemikiran saya, mohon maaf apabila ada salah kata, semoga pikiran saya ini bisa menjadi sumbangan pemikiran bagi pemimpin bangsa yang sedang memikirkan rakyatnya. Amin. Allahu Akbar.

  • Riki

    @budianto : saya sangat setuju dengan pemikiran anda.