Kriminolog: Peredaran Airsoft Gun Perlu Diatur

Banyaknya kasus penembakan atau penyalahgunaan airsoft gun memicu kekhawatiran anyak pihak. Dan kekhawatiran itu memang cukup beralasan.

Menurut catatan kriminolog dari Universitas Indonesia, Mulyana W Kusumah, setidaknya ada 11 kasus penembakan atau penyalahgunaan airsoft gun dalam beberapa waktu terakhir ini.

Karena itu, ia mendesak agar segera dibuat landasan hukum tegas yang mengatur peredaran airsoft gun. Apalagi, Undang-undang Darurat  Nomor 12/1951  (Ordonansi 30 Mei 1939, Staatsblad Nomor 278) tidak cukup tegas mengatur senjata ini.

“Karena itu, memang perlu landasan  hukum baru yang kokoh dan  efektif untuk menertibkan peredaran airsoft gun dan air gun ini,” ujarnya.

Menurutnya, penyalahgunaan airsoft gun maupun air gun bisa dilakukan oleh siapapun. Tidak hanya kelompok yang sengaja menebar teror di tengah masyarakat.

“Airsoft gun berbagai tipe dan merek sekarang ini dijual bebas sebagai alat olahraga, dan itu tidak terbatas untuk kalangan tertentu,” paparnya.

Ia menjelaskan, kecenderungan penyalahgunaan airsoft gun tidak terlepas dari tumbuhnya budaya kekerasan yang melahirkan perilaku kekerasan. Seringkali menjadi cara untuk menunjukkan arogansi sosial dan menampilkan kekuasaan maupun teror psikologis.

Lebih lanjut, Mulyana mendesak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk menggalang dukungan masyarakat guna menciptakan rasa aman bagi setiap warga negara. Ia juga mendesak Polri segera mengungkap para pelaku penyalahgunaan airsoft gun, senjata api organik dan non-organik, juga senjata rakitan yang mengganggu rasa aman masyarakat.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut