KPPA: Upaya Penangkapan Paksa Anand Khrisna Illegal

Komunitas Pencinta Anand Ahsram (KPPA) menganggap upaya pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan menangkap paksa tokoh spritual Anand Khrisna sebagai tindakan illegal.

“Pihak Kejaksaan tidak mempunyai kewenangan untuk melakukan eksekusi atas putusan yang cacat demi hokum,” kata jubir KPPA, Prashant Gangtani, melalui siaran pers yang dikirimkan ke redaksi, Jumat (15/2).

Menurut Prashant, putusan MA atas Anand Krishna tidak memenuhi persyaratan pemidanaan yang diatur oleh Pasal 197 ayat 1 d, f, h dan l dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Dengan sendirinya putusan ini batal demi hukum sebagaimana tertera dalam pasal 197 ayat 2. Ini juga sudah ditegaskan oleh kuasa hukum pak Anand, Otto Hasibuan, di Jakarta,” tegas Prashant.

Tak hanya itu, kata Prashant, ada keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pasal 197 Undang-Undang Nomor 8/1981 itu. “Kalau Kejaksaan Agung tidak mengindahkan keputusan MK itu, berarti ini adalah tindakan abuse of power,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator KPPA Dr Sayoga mengingatkan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) telah menerbitkan surat rekomendasi atas berbagai kejanggalan hukum dan pelanggaran HAM perihal kasus Anand Krishna pada tanggal 9 Nopember 2012 lalu.

“Surat Komnas HAM bernomer 2.758A/K/PMT/XI/2012 ini meminta baik MA dan Kejagung melakukan tinjauan ulang terhadap proses hukum ini tanpa melakukan penahanan terhadap Anand,” ungkapnya.

Karena itu, bagi Dr Sayoga, kalaupun Kejari Jakarta Selatan tetap ingin melakukan penangkapan, tanpa mengindahkan keputusan MK dan rekomendasi Komnas HAM, maka tindakan itu masuk kategori penculikan atau perampasan kemerdekaan orang.

Upaya Penangkapan Gagal

Kemarin, Kamis (14/2), pihak Kejari Jakarta Selatan berupaya mengeksekusi tokoh spritual Anand Khrisna di padepokannya di Anand Asram Desa Tegalantang, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Pada saat itu, sedang berlangsung Simposium Perempuan yang dihadiri oleh sejumlah tokoh setempat, seperti  Ibu Ayu Pastika, Prof. L.K Suryani dan Ida ayu Utami Pidada.

Akhirnya, setelah melalui debat yang cukup alot, proses eksekusi itu gagal dilakukan. Karena menganggap upaya penangkapan itu illehal, pihak Anand Khrisna meminta perlindungan polisi.

Mahesa Danu 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut