KPA Kecam Pembunuhan Petani Suku Anak Dalam Oleh TNI

Tindakan kekerasan aparat keamanan TNI dan security PT. Asiatic Persada terhadap warga Suku Anak Dalam (SAD) dan petani Mentilingan, yang menyebabkan seorang warga SAD bernama Puji (34 tahun) tewas karena disiksa hingga sekarat, menuai banyak kecaman.

Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mendesak agar pelaku kekerasan, baik penyiksaan, penculikan, pemukulan, dan penembakan terhadap warga SAD, segera ditangkap dan dihukum seberat-beratnya.

“Kini upaya penyelesaian konflik agraria antara warga SAD dengan pihak PT. Asiatic Persada sudah runtuh menyusul jatuhnya korban jiwa di pihak SAD,” kata Sekretaris Jenderal KPA, Iwan Nurdin, dalam siaran persnya, Kamis (6/3/2013).

Menurut Iwan, aparat keamanan TNI seharusnya berada di garda depan dalam memberikan jaminan keamanan dan perlindungan kepada warga negara kini justru menjadi pelaku kekerasan yang berujung pada tewasnya warga SAD.

Dalam siaran persnya, KPA mendesak pemerintah segera mengembalikan hak ulayat masyarakat SAD yang dirampas paksa oleh PT. Asiatic Persada. KPA juga menuntut pemulihan hak-hak warga SAD sebagai warga negara Indonesia, termasuk jaminan dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.

Untuk diketahui, pada hari Rabu (5/3), aparat keamanan TNI dan security PT. Asiatic Persada menculik seorang warga dusun Mentilingan, Titus (26 tahun). Proses penculikan terhadap Titus ini disaksikan oleh warga.

Warga kemudian melaporkan kejadian ini kepada ratusan warga SAD yang sedang bertahan di bawah tenda darurat di dusun Trans-Sosial I, dusun Johor Baru, desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Batanghari.

Mendengar laporan itu, warga SAD dan petani Mentilingan pun memutuskan untuk mencari dan membebaskan Titus. Sebanyak 50-an warga SAD dan Mentilingan kemudian mendatangi kantor PT. Asiatic Persada.

Namun, belum juga warga SAD dan Mentilingan ini turun dari kendarannya, mereka langsung diserat oleh puluhan anggota TNI bersama dengan security PT. Asiatic Persada. Sejumlah warga SAD ditikam dengan sangkur, dipukuli, dan dianiaya.

Salah seorang warga SAD, Puji, bahkan diseret masuk ke kantor perusahaan dan dipukuli ramai-ramai hingga sekarat. Pada saat sekarat itulah Puji baru dibawa ke RS Bayangkara.

Namun, nyawa Puji tidak tertolong lagi. Sekitar pukul 23.00 WIB, Puji menghembuskan nafas yang terakhir. Saat itu Puji meninggal dunia dalam keadaan tangan dan kaki masih terborgol.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut