Kota Batavia Dari Masa Ke Masa

Segera, setelah VOC menundukkan pangeran Jayakarta pada 12 Maret 1619, nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Pemberian nama ini sendiri, oleh Dewan Direktur VOC, baru disetujui pada tanggal 4 Mei 1619. Sebetulnya, nama Batavia yang mengacu pada kota Benteng Belanda ketika itu, hanya meliputi bagian utara Jakarta sekarang ini.

Pada jaman kolonial, Batavia bukan ahanya sebagai pusat pemerintahan, tapi juga sebagai pusat pergudangan utama dan tempat pemusatan militer. Menurut perkiraan, hanya terdapat 1.200 orang prajurit belanda di benteng kota ini, dan, kalau ada kekurangan, maka para awak kapal dan pengawal penduduk pun direkrut sebagai prajurit tambahan. Ini memang mengherankan, sebuah kekuatan kecil sanggup menaklukkan Indonesia yang jauh lebih besar, dengan jumlah penduduk yang lebih besar pula.

Pada masa awal, Batavia merupakan daerah yang menyeramkan bagi orang-orang Belanda. Saat itu, Batavia masih, sebagian besarnya, merupakan hutan liar dan rawa-rawa. Hutan Batavia bukan saja berisikan binatang buas, tapi juga banyak pemberontak dan Bandit. Sehingga, untuk memerangi itu, pemerintah kolonial di Batavia berani memasang harga tinggi untuk setiap kepala bandit-bandit itu.

Faktor alam tropis, mengutip Bernard Vlekke, merupakan hambatan terbesar bagi penghuni-penghuni baru dari Eropa ini. Menurut statistik, jumlah orang Belanda yang bermukim di Batavia tidak melebihi 10 ribu orang, dan, karena faktor alam, banyak diantara mereka yang tewas.

Orang-orang belanda itu begitu takut kepada air. Bagi mereka, air merupakan salah satu sumber pembawa penyakit, sehingga perlu ada pemaksaan kepada setiap pegawai kompeni agar mandi. Hingga 1775, masih ada aturan yang memaksa prajurit agar mandi sekali dalam seminggu. Tapi, anehnya, ketakutan terhadap air tidak terjadi kepada istri-istri Belanda itu, khususnya yang pribumi. Mereka malah menggunakan kanal-kanal itu sebagai “bak mandi” alam.

Untuk memerangi penyakit, orang-orang Belanda memperbanyak meminum segelas gin. Karena hal itu, industri penyulingan arak disebut industri utama di Batavia. Pada saat itu, arak Batavia terkenal di seluruh Asia. Menurut mereka, minuman arak terbukti dapat menjadi penangkal terhadap penyakit, ketika itu. Seperti dicatat Kapten Cook, satu-satunya pelaut di kapalnya yang tidak jatuh sakit, ketika kapalnya merapat di Batavia, adalah seorang tua, berumur 70-an tahun, yang tidak pernah berhenti mabuk dan meminum arak.

Pencegahan lainnya adalah merokok. Maka, tidak mengherankan, industri cerutu mendapatkan keuntungan besar, dimana setiap seribu batang cerutu Belanda dihargai 3 dollar, sementara cerutu Kuba dihargai 10 dollar. Akan tetapi, orang Batavia lebih suka rokok pipa.

Mengenai arsitektur kota Batavia kuno, seorang pelaut Britania menggambarkan sebagai berikut; “ Kanal-kanal besar mengalir lewat beberapa jalan di Batavia hingga membuatnya rapi dan sejuk. Di setiap sisi kanal ini ditanam barisan pohon indah yang selalu hijau, yang, bersama keindahan dan kerapian bangunan-bangunannya, membuat jalan-jalan itu begitu menawan. Sehingga, saya pikir kota ini (dengan ukuran besar itu) adalah satu yang terapi dan terindah di dunia. (Daniel Beeckman, A Voyage to and from the Island of Borneo anda the East India, 1718)

Pada masa Bung Karno, atau setelah kemerdekaan Indonesia, Jakarta mulai dirubah menjadi kota modern, yang penuh dengan keunggulan artistiknya. Pada saat itu, Bung Karno sangat berambisi menghapus jejak kolonial di kota itu, baik Belanda maupun Jepang, tanpa menyingkirkan bangunan dan peninggalan sejarahnya.

Pada masanya, Bung Karno meninggalkan sejumlah karya-karya besar, berupa bangunan, tugu, dan patung. Beberapa diantaranya: Hotel Indonesia, kawasan air mancur di jalan M.H Thamrin, Stadion Senayan, Jembatan Semanggi, Gedung Sarinah, Monumen Nasional, gedung perintis kemerdekaan, gedung DPR (dulu, dibangun untuk pertemuan CONEFO (Conference of the New Emerging Forces) dan sebagainya. Disamping itu, bebera tugu dan patung dibangun, seperti tugu selamat datang di Bundaran HI, patung irian Barat di lapangan banteng, patung pemuda, tugu pancoran, tugu tani, dsb, untuk memperkuat kesan keindahan kota ini.

Hampir semua proses pembangunan diatas, disatukan dibawah proyek “mercusuar” Bung karno. “Kita harus memandang jauh ke depan. Saya sudah mengajukan ketetapan, semua gedung di tepi Jalan Thamrin dan Jenderal Sudirman harus bertingkat, paling sedikit terdiri dari lima tingkat. Arsitek dan insinyur kita sendiri kelak harus dapat mengerjakannya tanpa bantuan tenaga asing,” kata Bung Karno.

Sarinah, nama seorang wanita yang mengasuh dan membesarkan Sukarno, kemudian menjadi nama sebuah department store. Sarinah, menurut Bung Karno, harus merupakan pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan industri rakyat. Sekarang ini, Sarinah justru menjadi tempat “show case” bisnis asing, bukan lagi mempromosikan produk rakyat sendiri.

Karena Bung karno, sang penyambung lidah rakyat, begitu berupaya membangun kedekatan dengan rakyatnya, maka dibangunlah sebanyak mungkin ruang dan tempat bagi mobilisasi umum. Di jalanan dan lapangan terbuka itu, Soekarno berupaya melihat eskpresi dari mobilisasi politik rakyat, seperti rapat akbar, karnaval, aksi massa, dan sebagainya. Di tempat itulah, Soekarno menyapa dan bertatap muka langsung dengan rakyat, bukan dengan video conference ala presiden SBY.

Ketika Orde Baru memerintah, semuanya kemudian menjadi “buyar”. Pembangunan tidak lagi melalui perencanaan dan penataan yang baik, tapi berdasarkan kebebasan tidak terkontrol capital (modal). Mereka, para pemilik modal, begitu leluasa membangun hotel, pusat belanja dan bisnis, pusat hiburan, dan sebagainya, tanpa memperhatikan faktor sosial, ekonomi, dan budaya. Bahkan, pemukiman warga pun dapat digusur dan dihancurkan sesuka hatinya, jika pemilik modal menghendaki membangun kepentingannya di kawasan tersebut.

Sekarang ini, di bawah pemerintahan SBY, hampir seluruh bangunan dan tempat-tempat yang punya arti penting bagi sejarah Indonesia, telah diserahkan kepemilikannya kepada konsorsium asing. Stadion gelora Bung Karno, misalnya, telah digadaikan kepada perusahaan dari Qatar, Qatar Islamic Bank. Selain itu, hotel Indonesia (HI), hotel yang revolusioner itu, kini sudah diserahkan kepemilikannya kepada pihak asing, dan, karena hal itu, namanya telah diubah menjadi Hotel Indonesia Kempinski (HIK).

Kini, Betawai yang tersohor di masa lalu itu, semakin “sumpek” oleh hilir mudik modal asing, dan semakin kehilangan karakternya. Di samping itu, rakyat di kota ini patah arang bukan lagi terhadap kondisi alam trofisnya, tapi penyakit kemiskinan, pengangguran, dan penggusuran yang ditebarkan oleh neoliberalisme.

Penduduknya, yang dulu dikenal artistik dan punya selera kebudayaan tinggi, kini telah disulap oleh media dan industri kapitalis menjadi masyarakat paling konsumtif, dengan tingkat kebudayaan rendah, terutama lapisan menengah dan atasnya.

Penulis adalah peneliti Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS), juga mengelola media online alternatif, yaitu Berdikari Online dan Jurnal Arah Kiri.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Nantinya menurut ramalan neokolonialisme/neoliberalisme dinegara ini akan kalah dengan kekuatan spiritual rakyat indonesia yang sangat sedih akan keadaan negara ini. hanya didunia spirituallah kita dapat menemukan jalan…..semua orang akan dikalahkan dengan ilmu benar dan salah bukan manusia yang menghukum manusia yang bejat tetapi alam yang berbicara disitu..