Kontroversi Kriteria Miskin di India

Ada berbagai cara untuk memanipulasi angka kemiskinan. Salah satunya adalah mengutak-atik kriteria orang disebut miskin. Tindakan ini ternyata bukan cuma menjadi kebiasaan pemerintah Indonesia, tetapi rupanya juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Baru-baru ini, pemerintah India dengan bangga menyebut bahwa angka kemiskinan telah menurun. Berdasarkan angka resmi, sepertiga (32%) dari 1,2 penduduk India masuk dalam kategori miskin. Sementara lembaga lain memperkirakan bahwa 77% rakyat India masuk dalam kategori miskin.

Tetapi angka resmi pemerintah India itu bermasalah. Angka itu didapat setelah pemerintah India menetapkan kriteria baru tentang orang miskin: di bawah pendapatan 26 rupee (kira-kira $0.53) perhari untuk daerah pedesaan dan 32 rupee perhari untuk daerah perkotaan.

Akibatnya: banyak orang yang semestinya dihitung miskin tidak masuk dalam daftar orang miskin versi pemerintah. Mereka pun tidak tercakup dalam program sosial yang sedang diluncurka oleh pemerintah.

Seperti di Ibukota India, New Delhi, tempat dimana mal dan perbelanjaan baru sedang menjamur, terdapat pemukiman kumuh yang menjadi rumah bagi setidaknya 70 juta orang India.

Di daerah perkampungan kumuh itu, ada banyak orang yang tidak masuk kategori miskin karena berpendapatan di atas 32 rupee (60 sen USD) per-hari.

Salah satunya adalah Ram Niwas. Ia bekerja sebagai tukang sepatu selama 12 jam sehari dan enam hari seminggu. Ia pun mendapat penghasilan rata-rata 2 USD perhari. Tetapi sebagian besar penghasilan itu dikirim ke kampung halaman untuk membiayai istri dan tiga orang anaknya.

“Mengambil 32 rupee sebagai patokan untuk menentukan garis kemiskinan jelas salah. Karena orang tidak bisa berbuat apa-apa dengan jumlah itu,” katanya kepada Russian Today.

Dengan kriteria baru ini, angka kemiskinan di India benar-benar berkurang drastis dibanding 20 tahun yang lalu. Ketika itu angka kemiskinan diperkirakan mencapai separuh dari keseluruhan penduduk India.

Para aktivis dan ekonomi mengkritik pedas kriteria baru ini. Bagi mereka, untuk biaya hidup di kota besar seperti di New Delhi, jumlah uang sebesar 32 rupee (60 sen USD) hanya cukup sesiung bawang, sebiji kentang, beras, satu pisang, satu pensil, satu aspirin, dan satu tiket bis kota.

Dengan kriteria itu, rakyat pun tidak dijamin aksesnya terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan publik lainnya. Karenanya, banyak aktivis yang menyebut kriteria miskin versi baru itu sebagai “kriteria kelaparan”.

Padahal, data lain menyebut bahwa separuh dari anak di bawah 5 tahun di India mengalami kekurangan nutrisi.

Tetapi pemerintah India, dalam hal ini kementerian perencanaan, mengklaim bahwa penggunaan kriteria ini untuk memastikan bahwa seluruh rakyat paling miskin bisa tersentuh program pemerintah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut