Kita Butuh “Nation Building”

Bangsa kita benar-benar sedang mengalami keterpurukan di segala bidang. Bahkan, begitu dalamnya kita terperosok, sampai-sampai banyak orang yang menganggap negara kita sudah mendekati “negara gagal” (failed state).

Ini bukan omongan yang berlebihan. Mahatma Gandhi, pemimpin nasional India yang terkenal itu, pernah menyebut tujuh dosa sosial yang mengancam kehidupan suatu bangsa: kemakmuran tanpa kerja, kesenangan tanpa kesadaran, pendidikan tanpa karakter, perdagangan tanpa moralitas, pengetahuan tanpa kemanusiaan, ibadah tanpa pengorbanan, dan politik tanpa prinsip.

Tujuh dosa itu sudah nampak dalam masyarakat kita saat ini. Kita bisa melihat bagaimana orang bisa menghalalkan segala cara, termasuk mencuri kekayaan publik, demi kemakmuran diri sendiri. Kita juga bisa melihat bagaimana ketidakpekaan orang-orang, khususnya kalangan menengah ke atas, atas penderitaan mayoritas anggota bangsa yang lain.

Atau, lihat bagaimana sistim pendidikan kita tidak lagi sanggup melahirkan manusia-manusia cerdas yang cinta kepada rakyat dan bangsanya. Kebanyakan lulusan universitas kita, sekalipun bersekolah dengan menikmati subsidi negara, tapi segera lupa negara dan pembayar pajak ketika sudah mendapat pekerjaan bagus.

Kita juga melihat betapa politik tanpa prinsip, yaitu pragmatism atau oportunisme, menjadi pegangan para politisi kita. Politisi berkarakter “kutu loncat” ini sudah mendominasi kehidupan politik kita, bahkan mulai menjalar ke aktivis pergerakan dan tokoh-tokoh gerakan ekstra-parlementer.

Lihat pula anak-anak muda kita, yang sudah miskin berfikir dan berkreasi, begitu mengagung-agungkan kebudayaan dari luar. Seolah-olah kemodernan itu diukur dari seberapa “asing” kebudayaan itu dimata kita.

Inilah krisis kita yang paling inti sekarang, sebuah krisis pada mental dan kepribadian bangsa kita. Inilah penyakit paling berbahaya bagi sebuah bangsa yang masih berjuang, sebuah bangsa yang revolusinya belum selesai. Tetapi segala hal itu adalah tantangan. Bung Karno mengatakan, tiap-tipa bangsa dalam masa pertumbuhan, tidak peduli warna kulitnya, pasti akan memasuki masa-masa yang menentukan (decisive periods). Fase itu akan menentukan kemajuan atau kemacetan, kejayaan atau break-down sama sekali.

Ini adalah fase-fase penting sebagai sebuah bangsa, sebuah fase untuk menegaskan kembali cita-cita nasional kita: masyarakat adil dan makmur. Kita perlu sebuah revolusi untuk menjebol fikiran kolot dan fikiran-fikiran rendah diri.

Soal pembangunan rohani sebuah bangsa ini, ada beberapa kalangan yang menganggap hal itu sudah tidak diperlukan. Terlebih dalam dunia yang sudah ter-globalisasi seperti sekarang ini.

Tetapi, jika kita melihat fenomena akhir-akhir ini, bangsa-bangsa besar yang bisa berkembang di dunia, yang bisa bertahan dari gempuran neo-kolonialisme, adalah bangsa-bangsa yang sudah menempa jiwa nasionalnya: bangsa-bangsa berdikari dan memegang teguh kepribadian nasionalnya.

Nation building ini akan membangkitkan kepercayaan kepada diri sendiri dan mengikis perasaan rendah diri. Proyek ini juga melahirkan optimisme dan daya kreatifitas rakyat kita dalam menghadapi berbagai kesulitan-kesulitan.

Kepercayaan  akan kekuatan sendiri, misalnya, akan menumbuhkan penghargaan terhadap produksi nasional. Hal itu juga akan membangkitkan semangat berproduksi dan sekaligus semangat berhemat.

Tetapi, berhasil dan tidaknya suatu proses nation-building sangat bergantung dari sikap sang pemimpin. Rasa-rasanya, jika melihat kepemimpinan nasional saat ini, pemerintahan SBY-Budiono, maka hampir nihil untuk berbicara soal nation building. Bagaimana bisa SBY-Budiono menjalankan nation-bulding, jika mereka sendiri dihinggapi “mental inlander’?

Oleh karena itu, agenda nation-building ini harus menjadi agenda dari kekuatan alternatif atau pemimpin masa depan. “Memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi makan kepada jiwa-jiwa yang telah lama terinjak-injak dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebaggaan mereka, ini juga penting,” demikian dikatakan Bung Karno saat menegaskan arti penting nation-building.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut