Kisah Penoreh Karet Dan Petani Sagu

SUDAH hampir sebulan lima puluhan petani Pulau Padang, Kabupaten Kepulaun Meranti, berada di Jakarta. Mereka sedang berjuang keras untuk mendesak Menteri Kehutanan (Menhut) segera mencabut ijin HTI kepada sebuah perusahaan.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyebut pulau seluas 1109 km atau 110.000 ha ini tidak berpenduduk alias kosong. Padahal, menurut data administratif, jumlah penduduknya mencapai 35.224 jiwa, yang tersebar di 13 desa dan satu kelurahan.

Sebagian besar penduduknya adalah penoreh getah dan petani sagu. Sisanya lagi hidup sebagai nelayan, pegawai, dan berniaga.

Cerita rakyat setempat mengisahkan, dulunya gugusan pulau ini terbentuk dari sampah yang terkumpul, lalu menjadi sebuah gumpalan besar. “Makanya sebagian besar tanahanya berbentuk gambut,” kata Sutarno, 33 tahun, seorang petani asal Pulau Padang.

Sejak kecil, Sutarno sudah menjadi penoreh karet. “Sebagaian besar orang di sini, semenjak masih kecil, sudah menjadi penoreh karet,” kata pemuda yang sekaligus sekretaris Serikat Tani Riau (STR) kepulauan Meranti ini.

Nizamri, 40 tahun, petani asal pulau padang lainnya, juga menggantungkan hidupnya pada kebun karet. Bahkan, selain sebagai pekebun karet, ia juga sering menjadi pedagang hasil bumi.

Selain menoreh karet, sebagian besar petani di sini juga adalah petani sagu. Untuk keseluruhan Kepulauan Meranti, luas kebun sagu masyarakat mencapai 37.685 hektare. Produksi sagu dari pulau ini dikirim ke Cirebon atau diekspor ke Malaysia.

Kamaruddin, yang mengaku keturunan ketujuh di pulau padang, menjelaskan bahwa sejak jaman dahulu masyarakat di sana sudah mengerjakan sagu dan karet. Bekerja sebagai petani sagu bukanlah pekerjaan mudah. “Butuh 12 tahun supaya tanaman sagu bisa dipanen,” kata Kamaruddin.

Lain lagi dengan Amir, 35 tahun, yang bekerja sebagai pengolah kayu dari hutan. “Saya mengambil kayu dari hutan, lalu mengolahnya menjadi papan,” kata Amir. Selain sebagai pengolah kayu dan penoreh karet, Amir sering juga menjadi buruh harian lepas. “Saya berangkat jam enam pagi, lalu pulang jam 8 malam,” katanya menceritakan kehidupan sehari-hari.

***

Menurut Sutarno, sebelum didatangi oleh orang Melayu dan Jawa, pulau padang sudah dihuni oleh suku asli, yaitu Sakai. Bahkan, menurut Sutarno, pulau Padang mulai dihuni manusia jauh sebelum tahun 1900-an.

Ini dibuktikan dengan adanya nama-nama leluhur seperti Tuk Darasul, yang kuburannya ada di desa Lukit, salah satu desa di Pulau Padang. Selain itu, pada tahun 1930-an, berdasarkan catatan kolonialis Belanda, sudah ada nama-nama kampung di pulau Padang seperti seperti Tanjoeng Padang, Tanjoeng Roembia, Gelam, Pelantai, Tanjoeng Koelim, Meranti Bunting, Sungai Anak Kamal, Lukit dan nama kampong lainnya.

Kamaruddin adalah keturunan ketujuh dari Tuk Darasul. Kini nama orang paling tua di pulau Padang itu diabadikan menjadi nama jalan di Desa Lukit. Lukit sendiri nama orang tertua pula dan diabadikan sebagai nama desa.

Sutarno adalah salah satu masyarakat pulau padang keturunan Jawa. Ismail, ayah Sutarno, sudah merantau ke Sumatra pasca Indonesia merdeka. Ketika sampai di pulau padang, Ismail lantas menikah dengan wanita Melayu.

Selain orang Jawa dan Melayu, suku bangsa lain yang datang ke pulau Padang adalah Bugis, Tionghoa, Banjar, Aceh, dan Sumbawa. Meskipun sangat beragam, masyarakat di sana hidup sangat rukun dan menyatu dengan baik.

Buyut dari Kamaruddin, misalnya, ada 4 orang yang menikah dengan orang Jawa, sedangkan 1 orang menikah dengan orang melayu. Di sini, hampir tidak ada jarak antar suku-suku bangsa yang ada. “Mereka hidup berdampingan secara damai,” kata Kamaruddin.

Sutarno menuturkan, ketika invasi Jepang ke pulau Sumatera, termasuk ke pulau Padang, orang-orang Melayu membangun aliansi dengan orang-orang Jawa untuk menghadapi pasukan Jepang.

Teluk Belitung, nama daerah di pulau Padang, konon diambil dari sejarah kerjasama antara orang Melayu dan Jawa untuk melawan Jepang. “Orang melayu konon sangat banyak berbelit (berbelit-belit) dan berhitung (perhitungan), maka namanya disebut teluk Belitung,” kata Sutarno mengisahkan cerita rakyat setempat.

Orang-orang Melayu banyak mendiami daerah pesisir, sedangkan orang Jawa mendiami kebanyakan di pedalaman. “Tetapi, sekarang hampir semua masyarakat, baik melayu maupun Jawa, sekarang adalah petani kebun,” ungkap alumni Fakultas Filsafat IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini.

Dengan cuplikan kisah ini, kita menjadi tahu mana yang emas dan mana pasir, mana yang benar dan mana yang bohong. Jelas, pernyataan Menhut Zulkifli Hasan, bahwa Pulau Padang adalah pulau kosong atau tak berpenghuni, adalah bohong belaka. Jikalau info Menteri Kehutanan itu dipasok dari Pemda, maka Pemda ini pun layak dijatuhkan karena telah mengingkari rakyatnya sendiri. (Rudi Hartono)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut