Kisah Pangeran Antasari Diangkat ke Layar Lebar

Kisah perjuangan Pangeran Antasari, pejuang dari Tanah Banjar, akan diangkat dalam bentuk film layar lebar. Film berjudul “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing” sedang dalam pengambilan gambar di sejumlah lokasi di Kalimantan Selatan.

“Ada sekitar 50 kru kami dari Jakarta sedang di lapangan. Film ini melibatkan 150-an pemain,” kata Egy melalui keterangan pers, Sabtu (21/10/2017).

Egy menceritakan, hampir semua pemeran pendukung di film ini menggunakan aktor lokal. Sebab, banyak dialog dalam film ini menggunakan bahasa Banjar.

“Hanya tokoh tokoh utama dimainkan  aktor dari Jakarta, diantaranya Hemalia Putri memerankan tokoh Bulan istri Pangeran Hidayatullah dan Egy Fadly sebagai Pangeran Antasari,” ungkapnya.

Egy menjelaskan, film berdurasi 100 menit ini akan dibuka dengan kehadiran pelajar zaman sekarang yang ingin mencari tahu sosok Pangeran Antasari dan perjuangannya.

Selain itu, Egy melanjutkan, film ini akan dibagi menjadi dua segmen, yakni masa perjuangan Pangeran Antasari sekitar tahun 1850-an dan zaman sekarang.

Film sejarah ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Kalimantan Selatan, H. Sahbirin Noor, yang memang dikenal penggemar berat seni peran dan teater.

“Ini film edukasi tentang pahlawan Banjar, banyak keteladanan yang bisa dipetik oleh generasi sekarang,” ujarnya.

Sejarah mencatat, Pangeran Antasari adalah pejuang yang mengobarkan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di tanah Banjar. Perang Pengeran Antasari melawan Belanda disebut “Perang Banjar”.

Perang Banjar pecah saat Pangeran Antasari dengan 300 prajuritnya menyerang tambang batu bara milik Belanda di Pengarontanggal 25 April 1859.

Peperangan itu kemudian berkobar ke hampir seluruh wilayah Kerajaan Banjar. Dengan dibantu para panglima dan pengikutnya yang setia, Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda di Martapura, Hulu Sungai, Riam Kanan, Tanah Laut, Tabalong, sepanjang sungai Barito sampai ke Puruk Cahu.

Perlawanan Antasari berlangsung sengit. Saking sengitnya, Belanda meminta bantuan dari Batavia. Dengan bala bantuan itu, ditambah persenjataan modern, Belanda berhasil mendesak Antasari dan pasukannya.

Meski begitu, Antasari tidak menyerah. Berbagai cara dipakai Belanda untuk membujuk Antasari agar menyerah, tetapi tidak berhasil. Sampai-sampai Belanda pernah menawarkan hadian sebesar 10 ribu gulden bagi siapapun yang berhasil menangkap atau membunuh Antasari.

Namun, setelah tiga tahun perang Banjar berkobar, Antasari akhirnya ditemukan gugur di tengah-tengah pasukannya. Tepatnya pada 11 Oktober 1862.

Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut