Kisah Keteguhan Para Korban Politik 1965

“Sudah saatnya kita semua berdiri buat mengarahkan tinju untuk menembus tirani hitam yang terus menyelimuti bumi pertiwi ini” demikian ungkap Winarso, Kordinator SEKBER 65, dalam diskusi bedah buku “Menembus Badai” di Warung Membaca Serasa Sanggar Teater Biru (STB) Jakarta, Jakarta Timur, Jumat (10/3/2017).

Menurut dia, buku tersebut berkisah tentang pergulatan hidup para korban 1965/1966. Meski berhadapan dengan represi dan penistaan, mereka tetap bisa menemukan jalan hidup dan diterima masyarakat luas.

“Buku ini sebenarya juga bagus untuk memotivasi generasi muda agar tetap semangat untuk bangkit menjalani hidup walau dinistkan oleh sistem politik dan ekonomi yang tidak berpihak padanya,” jelasnya.

Dalam buku yang ditulis Kelik Ismunanto, Didik Dyah Suci dan Winarso ini anda akan menemukanmenemukan inspirator kehidupan unggul: Mbah Paiman, Sang Pemelihara Lingkungan dari lereng Gunung Lawu; Veronika Sumiyati: Kepak sayap merah kupu-kupu besi; Slamet Suparno: Organisatoris ulung; Gatot Surono: Mantan pendidik yang jadi pegiat pertanian; Srihadi: Petani yang teguh dan tekun; juga Mamik Juwita: Isteri yang setia.

“Tak pelak lagi buku ini semakin melengkapi memoar manusia,” ungkapnya.

Di tempat yang sama Antun Joko Susmana, aktivis Jaringan kerja kebudayaan Rakyat (JAKER) mengungkapkan, tragedi kemanusiaan 1965 di Indonesia yang tak hanya membunuh dalam arti fisik, tetapi juga membunuh daya imajinasi sebuah bangsa tentang berbagai hal yang bertemakan keadilan sosial.

Menurut dia, buku “Menembus Badai” mengajak orang untuk berimajinasi tentang masa depan yang lebih baik.

AJ Susmana juga mengajak masyarakat untuk kritis membaca peristiwa 1965. Dia bercerita tentang kondisi politik yang melingkupi peristiwa 1965.

“Indonesia sebelum tahun 65 adalah Indonesia yang mempunyai gambaran untuk cita cita masyarakat adil dan Makmur, namun setelah tragedi 65 Indonesia dirusak oleh kalangan anti Sukarno termasuk kekuatan asing,” paparnya.

Seorang pelajar kelas XI bernama Hanifah Aulianisa menanyakan tentang bagaimana tragedi 65 bisa terjadi.

Winarso selaku narasumber menjelaskan bahwa peristiwa 1965 adalah efek dari situasai dunia saat itu, yakni situasi perang dingin antara Amerika yang disebut sebutnya blok kapitalis dan Uni Soviet yang di sebut blok Sosialis.

“Indonesia saat itu memilih sikap politiknya dengan non blok atau tidak berpihak pada salah satu blok manapun,” jelasnya.

Namun, lanjut Winarso, karena Indonesia kaya dengan sumber daya alam, maka negara asing, khususnya AS dan agen rahasianya (CIA), menjatuhkan pemerintahan Sukarno.

Pasca kejatuhan Sukarno, munculla UU nomor 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang memberi karpet merah bagi modal asing untuk mengeruk kekayaan alam, termasuk Freeport saat itu.

Acara bedah buku ini juga diisi dengan pembacaan puisi puisi karya dari anak anak Sanggar Teater Biru (STB) Jakarta pimpinan Ragil B Solihin.

SEKBER 65 adalah paguyuban para korban politik represi Orde Baru yang masih berlanjut hingga hari ini. Anggotanya tersebar di Solo, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Magelang.

UNTUNG SARWONO

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut