Ketoprak, Seni Drama Rakyat

 Kesenian rakyat Indonesia melahirkan banyak sekali seni drama. Salah satunya adalah ketoprak. Ketoprak muncul pada awal abad ke-20. Beberapa versi menyebutkan, kesenian rakyat ini muncul di era Mangkunegaran. Kira-kira tahun 1922.

Kesenian ini dilahirkan oleh kaum tani. Konon, kesenian ini bermula dari para petani yang sedang menumbuk padi sambil bernyanyi. Kejadian itu disaksikan oleh seorang bangsawan bernama RM Tumenggung Reksodiningrat. Ia membawa ‘kebiasaan’ kaum tani ini ke istana.

Pada mulanya, ketoprak mengangkat kisah-kisah seputar kehidupan petani. Peralatannya pun sederhana: lesung, terbang, dan suling. Gara-gara dibawa ke istana, ketoprak pun sempat menjadi “hiburan bangsawan”.

Namun, seiring waktu, rakyat berhasil merebut kembali ketoprak sebagai kesenian rakyat. Sejak itu ketoprak makin hidup dan berkembang. Ketoprak tak hanya mengangkat cerita-cerita panji, tetapi juga kisah-kisah kepahlawanan rakyat. Kesenian ini terus menyebar ke berbagai kota di Jawa. Ketoprak makin berkembang pesat di tahun 1960-an.

Jubir Rakyat

Sebagai kesenian yang lahir dari rahim rakyat, ketoprak senantiasa tampil sebagai juru bicara berbagai persoalan rakyat. Ketoprak tak pernah jauh dari realitas sosial massa-rakyat.

Sayang, ketoprak pernah “diculik” oleh kaum feodal dan dikurung dalam istana. Akibatnya, ketoprak menjadi penyebar ide-ide dekaden: takhyul, klenik, cengen, dan fasifis. Contohnya: kisah tentang pembangunan candi prambanan. Di tangan kaum feodal, candi tersebut dibangun oleh setan-setan.

Setelah dikembalikan ke pangkuan rakyat barulah ketoprak bisa berkembang maju. Pada masa perjuangan anti-kolonial, ketoprak juga berandil dalam menyebarkan ide-ide perlawanan kepada massa-rakyat.

Ada cerita begini: pada tahun 1933, perkumpulan ketoprak Solo datang ke Jogja untuk membuat pertunjukan. Awalnya, kelompok ketoprak ini diberi izin bermain selama 60 hari. Namun, karena menyebarkan ide-ide perlawanan, maka izin bermain pun dicabut. Pemerintah kolonial mengajukan alasan palsu: ketoprak memicu kejahatan, pelacuran, dan kriminalitas.

Pada tahun 1937, seniman ketoprak membentuk organisasinya: Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi). Mukadimah Bakoksi menceritakan, seniman-seniman ketoprak telah terjun dalam perjuangan kemerdekaan. Bakoksi menyatakan berjuang untuk kemerdekaan penuh dan menyelesaikan Revolusi Agustus 1945.

Mengabdi pada Rakyat dan Revolusi

Pada pertengahan 1950-an, kesenian ketoprak makin populer di hadapan rakyat Indonesia. ketoprak berkembang luas hingga ke desa-desa. Tidak hanya di pula Jawa, tetapi juga mulai menyebar keluar pulau Jawa.

Pada kongres I ketoprak di Jogja, tahun 1957, jumlah organisasi ketoprak yang bernaung di bawah Bakoksi mencapai 275. Pada kongres ke II tahun 1964, jumlahnya sudah mencapai 371 organisasi. Sebuah perkembangan yang pesat.

Pada masa itu, Bakoksi makin banyak dipengaruhi Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat). Lekra sendiri mengusung panji-panji “Seni untuk Rakyat”. Dengan begitu, ketoprak pun makin berpijak di tanahnya: kesenian rakyat.

Lekra punya banyak andil dalam merevolusionerkan ketoprak. Pengaruh Lekra sangat penting dalam menggusur sisa-sisa feodal dalam ketoprak. Di sini, ketoprak tidak sekedar menjadi kesenian yang menghibur rakyat, tetapi sekaligus sebagai alat perjuangan untuk menuntaskan revolusi.

Lakon-lakon berbau feodal banyak dirombak. Cerita-cerita mengenai kepahlawanan rakyat makin diperbanyak. Cerita “Rara Mendut”, misalnya, telah diubah menjadi cerita anti-feodalisme. Cerita-cerita yang mengandul takhyul, seperti kisah Candi Prambanan, mulai diilmiahkan. Diceritakan, pembuat candi itu bukanlah setan-setan, melainkan kawula atau massa rakyat.

Namun, seiring dengan revolusi yang dikalahkan di tahun 1965, banyak aktivis Bakoksi yang ditangkap. Tidak sedikit pula organisasi ketoprak yang bubar karena direpresi oleh rezim orde baru. Meski begitu, masih ada kelompok ketoprak yang terus bertahan. Sekalipun kadang tak politis lagi.

Sayang, di tengah mengganasnya penindasan terhadap rakyat, kesenian ketoprak justru meredup. Pentas-pentas ketoprak makin jarang. Kalaupun ada, kursi penontonnya tak pernah penuh.

Rudi Hartono, Pemimpin Redaksi Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut