Ketika Tiongkok Dituding “Neo-Kolonialis”

Sabtu (18/6) lalu, Hillary Clinton muncul dalam sebuah wawancara TV di Lusaka, Ibukota Zambia. Ia berbicara tentang perkembangan politik dan ekonomi di benua Afrika.

Di tengah-tengah wawancaranya, tiba-tiba Sekretaris Negara Amerika Serikat ini angkat bicara tentang ancaman “neo-kolonialisme”. Katanya, Afrika harus waspada terhadap penjajahan baru. “Kami tidak ingin melihat kolonialisme baru di Afrika,” katanya.

Yang dimaksudkan Hillary sebagai kolonialis baru adalah Tiongkok, negeri Asia yang sedang melebarkan sayap ekonominya di benua Afrika. Pengaruh Tingkok yang terus meningkat di kawasan itu dianggap “kolonialisme-baru” oleh Amerika Serikat.

Tiongkok memang sedang menggeliat di Afrika. Pada tahun 2009, Tiongkok telah mengirim 10 milyar USD untuk keperluan investasi di Afrika. Sebaliknya, Tiongkok telah membeli minyak dan sebagian besar bahan bakar dari Afrika.

Tiongkok juga menjadi investor utama untuk industri tembaga di Zambia dan Republik Demokratik Kongo. Lalu Tiongkok juga membeli kayu di Mozambik, Liberia, Gabon, Kamerun dan Guinea.

Akan tetapi, berbeda dengan perilaku negeri-negeri imperialis dari barat, Tiongkok sanggup menjadi tamu yang baik hati dan ramah di Afrika. Tiongkok memberi bantuan teknis dan pinjaman bebas bunga kepada sejumlah negara Afrika. Pada saat yang bersamaan, Tiongkok juga menandatangani kontrak untuk membangun jalan, jaringan pipa, bendungan hidroelektrik, rumah sakit, stadion olahraga, memperbaiki jalur kereta api, pelabuhan dan bandara.

Tudingan miring Hillary Clinton dan media barat membuat Tingkok agak gerah.  Perdana Menteri Tiongkok, Wen Jinbao, mengatakan: “tidak seorang pun dapat mengatakan bahwa Tiongkok telah mempraktekkan neo-kolonialisme di Afrika.”

Menurutnya, Tiongkok menjalin kerjasama dengan negara-negara Afrika berdasarkan prinsip saling menguntungkan, kesetaraan, dan tidak mengurusi urusan internal negara-negara lain. “Kami menghormati kedaulatan nasional, duduk dengan setara, dan bekerjasama dengan saling-menguntungkan,” katanya.

He Wenping, direktur studi Afrika dari Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, menganggap tudingan Hillary Clinton tidak benar. Katanya, pemerintah dan rakyat Afrika menerima manfaat langsung dari investasi Tiongkok di bidang infrastruktur, seperti rumah sakit baru, kereta api, dan jalan raya.

Wenping mencontohkan kebijakan investasi Tingkok di Zambia. Di negara bekas jajahan Inggris itu, investasi Tiongkok  untuk periode tahun kemarin telah menciptakan 15.00o lapangan kerja baru.

Tetapi Hillary Clinto  pintar berkelik. Menurut istri mantan Presiden AS Bill Clinton ini, model pembangunan ekonomi Tiongkok di Afrika tidaklah berkelanjutan. Sebab, menurutnya, investasi itu hanya menguntungkan segelintir  elit politik, tapi memiskinkan mayoritas rakyat.

Tetapi tudingan Hillary Clinton itu tidak berdasar. Sebab, jika dibanding-bandingkan, jejak kolonialisme eropa dan AS di Afika jauh lebih merusak dan menghisap. Negeri-negeri koloanialis dari Eropa harus bertanggung-jawab atas kehancuran besar-besaran di hampir seluruh benua Afrika.

Nigeria, salah satu penghasil minyak terbesar di Afrika, menjadi korban dari imperialisme barat yang bejat itu. Sekitar 95% produksi minyak negeri itu berada di tangan perusahaan-perusahaan raksasa dari Eropa dan Amerika.

Karena dituntun oleh logika mencari untung semaksimal mungkin, perusahaan-perusahaan minyak dari barat telah memangkas biaya untuk keperluan infrastruktur. Kebocoran pipa telah memicu terjadinya kebakaran dan tumpahan minyak. Sejumlah kawasan luas, berupa pertanian dan hutan, telah berubah menjadi abu. Tidak sedikit contoh memperlihatkan bagaimana eksploitasi semacam itu disertai dengan kekerasan.

Tetapi Tiongkok melakukan sedikit berbeda. Pierre Essama Essomba, Presiden Dewan Media Kamerun, menguraikan perbedaan kolonialisme eropa sebelumnya dan praktek Tiongkok sekarang ini.

“Jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan kolonialis Jerman, Inggris dan Perancis di Kamerun sebelumnya, kita akan mengetahui bahwa kolonialis itu tidak meninggalkan apapun di Kamerun,” katanya.

Sebaliknya, bantuan dan investasi Tingkok di Kamerun sangat nyata dan menguntungkan bagi rakyat Kamerun. “Tingkok mengirim dokter untuk bekerja di rumah sakit Kamerun. Dan rakyat Kamerun sangat berterima kasih karenanya,” katanya.

Yah, setengah abad yang lalu, Ketua Mao (Mao Tse Tung) pernah mengirimkan puluhan ribu pekerja pertanian dan konstruksi ke Afrika, guna membebaskan benua itu dari kolonialisme. Jika saja Mao masih hidup, adakah dia berkata: “Tiongkok adalah saudara tua bangsa Afrika.”

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • fb [email protected] jadikan aku anggotamu seumur hidop. catat.lihat sebarin.MEmang benar yang namanya barat ityu perampok kekayaan negara !!! sangat mengerikan!!