Ketika Reog Menjadi Corong Protes Rakyat

Pergulatan rakyat melawan penguasa penindas seringkali terwujud dalam bentuk kesenian. Kita bisa menyebut beberapa: ludruk, ketoprak, lenong, dan reog.

Kita akan membahas soal reog. Sepanjang sejarahnya, reog tak hanya menghidangkan hiburan bagi rakyat. Tetapi, lebih dari itu, reog telah menjadi media perlawanan terhadap segala bentuk penindasan.

Lahir dari sindiran terhadap penguasa

Kesenian reog identik dengan kesenian rakyat Ponorogo. Orang pun sering menyebut “reog ponorogo”. Banyak yang bilang, kesenian reog ini memang berasal dari Ponorogo.

Menurut sejumlah sumber, kesenian reog lahir dari protes alegoris terhadap keinginan raja Majapahit, Brawijaya V (Bhre Kertabumi), yang ngotot menikahi putri Campa. Ki Ageng Kutu Suryongalam, seorang abdi kerajaan Majapahit, tidak setuju dengan pernikahan tersebut. Ia menilai, di bawah pengaruh putri tersebut, Raja Brawijaya kurang memperhatikan rakyat dan cenderung korup.

Ki Agen Kutu pun segera menghimpun kekuatan. Basis perlawanannya dipusatkan di daerah Ponorogo. Belakanganya Ki Agen Kutu menyadari, pasukannya tidak cukup memadai untuk melawan kekuasaan Majapahit. Ia pun beralih pada bentuk sindiran alegoris: singa (Barongan) dikangkangi merak (Dhadhak Merak).

Pertunjukan alegoris ini segera menyebar di masyarakat. Dengan begini, Ki Agen Putu hendak menarik dukungan rakyat. Sayang, kekuasaan di Majapahit menangkap maksud gerakan ini. Raja Brawijaya meminta bantuan Wali Sanga untuk memadamkan gerakan perlawanan itu.

Wali Sanga kemudian menugaskan Raden Katong untuk menumpas gerakan itu. Terjadi pertarungan sengit antara Radon Katon dan Ki Agen Kutu. Raden Katon kemudian menjalankan taktik licik:  membujuk putrid Ki Agen Kutu, Niken Gandini, dengan iming-iming akan dinikahi, untuk mengambil senjata pusaka Ki Agen Putu. Akibatnya, dalam pertarungan selanjutnya, Ki Agen Putu kalah.

Raden Katon kemudian diangkat menjadi penguasa di Ponorogo. Meski begitu, kesenian reog terus berkembang. Berkat bantuan murid wali songo, Ki Agen Mirah, Raden Katon berhasil mengkooptasi kesenian reog. Reog kemudian diceritakan berasal dari cerita Klana Sewandana, raja dari Bantar Angin, yang terpikat pada putri kerajaan Kediri, putri sangga langit. Klana Sewandana harus mengalahkan Singa Barong, si penjaga perbatasan Kediri dan Bantar Angin, di Wengker, sebagai persyaratan mendapatkan Putri Sangga Langit.

Sarana Perlawanan

Pada masa Raden Katon, reog juga dipergunakan sebagai sarana untuk penyebaran agama islam. Untuk itu, kesenian reog harus disesuaikan dengan ajaran islam.

Meski begitu, di sebagian rakyat Ponorogo, reog tetap menjadi mediun protes alegoris. Hingga kedatangan kolonialisme belanda. Belanda sangat menyadari potensi reog sebagai pembawa pesan perlawanan.

Untuk itu, Belanda pun berusaha memecah-belah kesenian reog agar tidak memberontak. Nuansa kekerasan dan mistisnya pun diperkuat. Selain itu, belanda juga menciptakan semacam persaingan diantara kelompok reog.

Di masa pendudukan Jepang, reog juga ditindas habis-habisan. Maklum, kesenian ini berpotensi memobilisasi massa. Sedangkan Jepang sendiri sangat takut dengan adanya kumpulan massa. Bagi Jepang, kumpulan massa itu bisa berkembang menjadi perlawanan.

Reog mulai berkembang kembali pasca revolusi Agustus 1945. Saat itu, di Ponorogo, di hampir semua desa lahir kelompok reog. Meski begitu, reog belum terorganisasikan dengan baik.

Reog mulai berkembang pada tahun 1950-an. Adalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang melihat potensi reog itu sebagai alat perlawanan. Karena itu, PKI pun mulai menyusupkan pesan-pesan perlawanan pada reog.

Selain itu, PKI juga melihat potensi reog sebagai bentuk karnaval politik di jalanan, yang berpotensi menyedot perhatian massa. Menjelang pemilu 1955, PKI berhasil mengorganisasikan seniman dan kelompok reog ke dalam wadah Barisan Reog Ponorogo (BRP).

BRP berkembang sangat pesat. Pada pemilu 1955, PKI berhasil meraih suara terbanyak di Ponorogo: 137 ribu suara. Sedangkan Nahdatul Ulama (NU) berada di urutan kedua (96 ribu suara) dan PNI di urutan ketiga (79 ribu suara). Salah satu penyumbang suara terbesar PKI adalah kesenian reog.

Menyadari hal itu, partai-partai lain pun membuat kesenian reog sendiri: PNI membuat Barisan Reog Nasional (BREN) dan NU membuat Cabang Reog Agama (Cakra). Mbah Tabron, seorang warok di jaman itu, menceritakan bahwa mayoritas kelompok reog condong memihak BRP/PKI: 200-an kelompok bergabung ke BRP, sedangkan 68 condong ke NU.

Intervensi PKI, termasuk Lekra, ke dalam kesenian Reog membuat kesenian rakyat ini makin cenderung politis. Saat itu, kelompok reog mulai aktif bergabung dengan aksi-aksi rakyat di jalan. Reog juga aktif memprotes film-film imperialis, menentang imperialisme, dan lain-lain.

Situasi berbalik pasca 1965. PKI dan ormas-ormasnya dianggap terlarang. Kelompok reog yang tergabung dalam BRP pun ditumpas. Banyak seniman reog ditangkap dan dibunuh. Rumah dan alat pementasan reog dibakar. Reog dianggap kesenian milik PKI.

Orang pun takut memainkan reog; takut dituduh anggota atau simpatisan PKI. Kejadian itu berlangsung hampir 2 tahun. Pada tahun 1970-an, NU berusaha membangkitkan kembali reog ini, tetapi dengan nuansa islami. Kesenian ini diberi wajah baru “gajah-gajahan”—meniru para kafilah di padang pasir. Dua organisasi reog yang tersisa, yakni BREN dan CAKRA, dilebur INTI (Insan Takwa Ilahi). Pada kenyataannya, INTI ini justru dimanfaatkan oleh Golkar sebagai instrumen kampanye pada pemilu.

Sekarang, kesenian reog mulai tergusur dari panggung kesenian. Banyak orang mulai lupa akan kesenian rakyat. Hingga, pada tahun 2007, kesenian reog diklaim oleh Malaysia. Kita pun baru sadar kalau kita punya kekayaan budaya berupa kesenian reog.

Meski begitu, kesenian reog terus terpinggirkan. Kalaupun ada kepedulian pemerintah untuk  membangkitkannya, itu tak lebih dari sekedar menempatkan reog sebagai pemancing bisnis pariwisata.

Mahesa Danu, Kontributor Berdikari Online

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Guest

    lagi2 agam di jadikan tameng

  • lagi2 agama di jadikan tameng,,untuk melindungi penguasa korup