Ketika Rakyat Tak Lagi Percaya Perilaku Elit Politik

Hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) menarik untuk diulas. Alasannya, hasil riset tersebut sangat berguna sebagai bahan perenungan kita menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2014. Terutama bagi elit politik yang sudah terlampau percaya diri bisa mendapatkan dukungan rakyat pada pemilu mendatang.

Hasil survei LSI itu menyimpulkan, bahwa mayoritas publik (51,5%) sudah tidak percaya dengan perilaku moral elit politik. Menurut temuan LSI, ada tiga faktor yang turut memupuk tumbuhnya ketidakpercayaan publik tersebut, yakni 1) minimnya elit politik yang bisa menjadi teladan bagi masyarakat; 2) kebiasaan hipokrit elit politik, yakni berbeda antara ucapan dan perbuatan; dan 3) semakin berjaraknya perilaku elit politik dengan ajaran agamanya.

Yang pertama jelas sangat miris. Sebagai seorang tokoh sekaligus pemimpin, para elit politik seharusnya bisa memberi teladan. Namun, kenyataan memperlihatkan bahwa kehidupan para elit politik justru makin berjarak dengan rakyat banyak. Sementara rakyat didera kemiskinan dan kesulitan hidup, para elit politik justru sibuk mempertontonkan kemewahan. Sudah begitu, biaya hidup mewah itu dibiayai dengan uang hasil hasil korupsi atau mencoleng uang rakyat.

Yang kedua juga tak kalah menyedihkan. Pentas politik kita semakin disesaki oleh politisi-politisi hipokrit. Ketika musim kampanye tiba, mereka akan menebar begitu banyak janji. Namun, begitu mereka sudah menjabat, tak satupun janji itu yang dilaksanakan. Masalahnya, perilaku itu menjalari hampir semua elit politik kita. Bahkan Presiden SBY juga sering melakukan hal serupa.

Yang ketiga ini cukup ironis. Banyak politisi, juga  partai politik, menggunakan klaim agama untuk menjustifikasi langkah-langkah politiknya. Malahan tidak sedikit partai politik yang menjadikan agama sebagai basis ideologi untuk menerangi jalan politiknya. Namun, kejadian baru-baru ini, khususnya kasus korupsi yang menyeret petinggi partai Islam, telah mematahkan klaim-klaim agama tersebut. Rakyat mulai menyadari bahwa partai agama pun tak kebal dari virus korupsi.

Hasil riset LSI sendiri menegaskan beberapa hal. Pertama, selubung moral yang selama ini sering dikenakan para politisi untuk menutupi kebusukannya sudah tidak efektif lagi. Politik moralitas mulai kehilangan daya pikatnya. Lihat saja, seorang tersangka korupsi memegang tasbih di ruang pengadilan Tipikor. Bahkan yang paling tidak enak didengar: anggaran pengadaan kitab suci pun dikorupsi.

Kedua, faktor integritas–bersih, jujur, tegas, konsisten, dll–dari seorang politisi sangat berpengaruh terhadap sikap atau pilihan politik rakyat. Di sini rakyat mulai memeriksa rekam jejak dari setiap elit politik. Rakyat tidak mau lagi membeli kucing di dalam karung.

Ketiga, rakyat tidak lagi melihat perbedaan signifikan antara partai berbalut ideologi agama dengan sekuler dalam praksis politik. Sebab, pada kenyataannya, partai-partai agama pun banyak terjerembab dalam kasus korupsi, suap, dan lain-lain. Praktek politik partai-partaai berlabel agama di parlemen juga tidak pernah memihak rakyat. Akhirnya, rakyat makin sadar, bahwa label agama hanya dipakai untuk meraup suara pemilih.

Keempat, survei LSI mengindikasikan makin kuatnya apatisme massa rakyat terhadap politisi dan politik. Sebetulnya, gejala ini bukan sesuatu yang baru. Sejak pemilu 1999 hingga sekarang, partisipasi politik rakyat terus jatuh: 1999 (92 persen), 2004 (84 persen) dan 2009 (71 persen). Artinya, pemilu 2014 akan dibayang-bayangi oleh apatisme politik yang terus meningkat.

Dengan demikian, survei LSI menciptakan tantangan tersendiri. Di satu sisi, ruang politik Indonesia makin didominasi politisi korup dan anti-rakyat. Namun, di sisi lain pula, rakyat sebagai kekuatan perubahan juga terperangkap dalam apatisme politik.

Kedepan, untuk membangkitkan kembali partisipasi politik rakyat, kita butuh pemimpin yang memenuhi kriteria berikut: Satu, punya rekam jejak yang bersih, jujur, konsisten, tegas, dan pro-rakyat. Dua, sanggup menyatukan antara janji politik dan perbuatan. Tiga, memahami persoalan yang dialami oleh bangsa dan punya solusi-solusi konkret. Empat, punya komitmen kuat untuk membela kepentingan sektor-sektor yang termarginalkan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut