Ketika Presiden Chavez Sakit

Presiden Venezuela Hugo Chavez masih berjuang keras melawan penyakit kankernya di Havana, Kuba. Di negerinya, Venezuela, rakyat berdoa sepanjang hari untuk kesembuhannya.

Sementara itu, lawan-lawan politik Chavez, termasuk kapitalis internasional, terus menciptakan rumor tentang kesehatan Chavez. Beberapa media berspekulasi tentang sisa umur Chavez.

Surat kabar harian Spanyol, ABC, melaporkan bahwa Chavez harus dibantu dengan “napas buatan” agar tetap bertahan hidup. Koran-koran Spanyol lainnya, seperti El Pais, tak henti-hentinya menghujat pemerintahan Chavez.

Tidak jarang media sayap kanan, termasuk di Indonesia, berspekulasi tentang masa depan revolusi di Venezuela. Mereka berpikir, kalau Chavez meninggal, maka revolusi akan terhenti.

Tetapi spekulasi itu segera terbantahkan. Sebelum berangkat untuk operasi di Havana, Kuba, Chavez telah menganjurkan kepada pendukungnya agar memilih Wakilnya, Nicolás Maduro, seandainya diselenggarakan pemilu presiden baru.

Chavez mestinya di lantik tanggal 10 Januari 2013 mendatang. Namun, jika dia tidak sembuh, maka pemilu Presiden baru akan diselenggarakan. Pemimpin oposisi Venezuela, Henrique Capriles, sudah berkampanye tentang keharusan Pemilu Presiden ulang.

Sekarang ini, kendati Chavez masih di Kuba, pemerintahan di Venezuela tetap berjalan. Tugas Kepresidenan dijalankan oleh Nicolas Maduro. Tanggal 9 Desember lalu, Chavez menandatangani dekrit tentang pelimpahan sebagai besar kekuasaannya kepada Maduro.

Maduro diberi wewenang menunjuk Wakil Menteri dan pejabat publik lainnya, mengeluarkan dekrit pengambil-alihan, transfer dana ke kementerian, hingga mengawasi operasionalisasi pinjaman publik.

Nicolas Maduro dan juga istrinya, Cilia Flores, adalah orang dekat Hugo Chavez. Nicolas Maduro adalah bekas aktivis mahasiswa. Pada tahun 1970-an, ia mengorganisir serikat buruh Subway Metro Caracas. Dia juga pendiri Angkatan Pekerja Bolivarian (FSBT).

Ketika Chavez membentuk Pergerakan Bolivarian Revolusioner (MBR-200), Maduro turut bergabung di dalamnya. Pada tahun 1994, dia menjadi anggota Biro Nasional MBR-200. Dia juga menjadi bagian dari pembentuk kendaraan politik Chavez, Pergerakan Republik Kelima (MVR).

Pada tahun 1999, dia menjadi anggota Majelis Konstituante. Kemudian, dari tahun 2000 hingga 2005, dia menjadi anggota Majelis Nasional. Lalu, pada tahun 2006, Chavez menunjuk Maduro sebagai Menteri Luar Negeri Venezuela. Dan akhirnya, pada Oktober tahun 2012, dia ditunjuk sebagai Wakil Presiden.

Istrinya Maduro, Cilia Flores, adalah seorang Jaksa Agung. Dia dianggap berjasa membantu membebaskan Chavez pasca kegagalan kudeta tahun 1992. Dia juga yang menunggui Chavez ketika menjalani operasi dan perawatan di Kuba.

Meski begitu, banyak pengamat yang bilang, pemerintahan Venezuela sekarang ini dijalankan oleh sebuah “kepemimpinan kolektif”. Para pejabat Republik, baik dari sipil maupun militer, dipersatukan oleh cita-cita yang sama: mempertahankan Revolusi Bolivarian.

Tak heran, sekalipun Presiden Hugo Chavez tak berada di kantornya, berbagai proyek pemerintah tetap berjalan. Ekonomi Venezuela tetap tumbuh sebesar 5,5%. Wakil Presiden Banco Central de Venezuela (BCV), Nelson Marentes, menyebut bahwa Venezuela masuk dalam daftar 5 negara Amerika Latin dengan pertumbuhan terbaik.

Proyek misi perumahan juga berjalan baik. Dalam 20 bulan bekerja, Misi Perumahan sudah mencapai 99% dari target. Sepanjang tahun 2012 ada 250.537 rumah baru yang dibangun. Lalu, pada tahun 2013, Venezuela merencanakan 380.000 rumah baru.

Banyak yang meragukan masa depan Venezuela tanpa Chavez. Namun, pemilu regional pada 16 Desember 2012 lalu seakan menjawab keraguan itu. Meskipun Chavez terbaring sakit di Havana, Kuba, tetapi PSUV berhasil memenangi 20 dari 23 negara bagian. Hasil ini lebih menakjubkan ketimbang  pemilu tahun 2008, yang hanya memenangkan 17 dari 22 negara bagian.

Hasil menakjubkan itu tak terlepas dari solidnya kesatuan di tubuh kekuatan revolusi, khususnya PSUV. Wakil Presiden PSUV, Diosdado Cabello, telah menyatakan kesetiaannya kepada Revolusi, Rakyat, dan Chavez.

Diosdado Cabello adalah Wakil Presiden PSUV. Dia dianggap salah satu tokoh terkuat di belakang Chavez. Ia turut bergabung dengan Chavez dalam kudeta yang gagal tahun 1992.

“Saya bersumpah demi Tuhan bahwa saya akan tetap setia kepada Komandan Revolusi, mengikuti Chavez dan tidak akan pernah menghianati Rakyat Venezuela,” kata Diosdado Cabello.

Cabello menegaskan, seluruh pemimpin PSUV berkomitmen untuk tunduk pada konstitusi, negara, dan berbaris di belakang Chavez. Chavez sendiri, sebelum terbang ke Kuba, muncul di depan TV dengan diapit oleh Nicolas Maduro dan Diosdado Cabello.

Salah satu kunci mengapa Chavez sangat didukung rakyat, termasuk memenangi Pemilu Presiden empat kali, adalah keberhasilannya mengurangi kemiskinan, mengembalikan kontrol negara atas SDA, mengikutkan rakyat dalam kehidupan politik, dan memulihkan martabat rakyat melalui berbagai program sosial.

Chavez menjungkirbalikkan ideologi neoliberal yang sengaja mengistimewakan segelintir elit dan kapital besar. Sebaliknya, Chavez menjalankan motto revolusioner Uruguay, Jose Artigas: mengistimewakan kaum tertindas.

Mari berdoa untuk kesembuhan Komandante Chavez…

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut