Ketika Kaum Kaya Melakukan ‘Perlawanan’

Di tahun 1973, di jalanan kota Santiago, Ibukota Chile, ada kejadian yang menarik: aksi demonstrasi yang digelar oleh ribuan kaum kaya dan klas menengah. Sutradara Chile, Andrés Wood, menceritakan kembali kejadian itu melalui film berjudul “Machucha” (2004).

Dalam aksinya itu, kaum kaya memukul-mukul panci dan wajan. Alhasil, yang terdengar bukanlah suara atau aspirasi mereka, melainkan kebisingan yang luar biasa.

Di sisi lain, di pemukiman kaum miskin, orang-orang miskin hidup tenang-tenang saja. Mereka cukup puas dengan kebijakan ekonomi dan politik pemerintah. Waktu itu Chile dipimpin oleh presiden berhaluan sosialis, Salvador Allende.

Di bawah kekuasaan Allende, kaum miskin pun menerima banyak manfaat. Tanah-tanah luas di tangan segelintir tuan tanah disita dan dibagikan kepada petani tak bertanah. Upah dan hak-hak dasar kaum buruh dijamin oleh negara.

Selain itu, sejumlah perusahaan asing, yang selama ratusan tahun mengeruk kekayaan Chile, diambil-alih (nasionalisasi) oleh pemerintah dan keuntungannya digunakan untuk membiayai program sosial, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, dan lain-lain.

Namun, apa mau dikata, kaum kaya merasa terancam oleh kebijakan itu. Mereka gusar ketika anak-anak kaum miskin mulai menikmati pendidikan dengan kualitas yang sama dengan anak-anak mereka. Mereka tidak mau melihat orang-orang miskin menikmati layanan publik yang sama kualitasnya dengan mereka. Singkat cerita, mereka menolak kesetaraan dan keadilan sosial.

Sudah umum ketahui, demonstrasi adalah sarana untuk mengungkapkan protes atau ketidakpuasan. Biasanya, di berbagai belahan dunia dan sepanjang sejarah umat manusia, demonstrasi paling sering dilakukan oleh kaum miskin dan sektor-sektor yang terpinggirkan.

Di Indonesia, negeri kita, yang sering menggelar demonstrasi adalah kaum miskin juga. Sementara kaum kaya dan klas menengah asyik berpesta pora dan menikmati hidup.

Tetapi, kejadian di Chile sekarang berulang di Venezuela. Mirip dengan apa yang pernah dikatakan oleh Karl Marx: Sejarah berulang, ‘pertama sebagai tragedi, kemudian menjadi lelucon’ (history repeats itself, ‘the first as tragedy, then as farce.’)

Di Venezuela, sejak awal Februari lalu, kaum kaya dan klas menengah juga turun ke jalan. Dan, seperti rekan-rekan mereka di Chile di tahun 1970-an, mereka juga memukul-mukul panci dan wajan.

Tak hanya itu, demonstrasi kaum kaya dan klas menengah Venezuela lebih mengarah ke aksi kekerasan dan vandalisme ketimbang aksi protes. Demonstran di Venezuela sangat beringas: memblokir jalan, melemparkan molotov, membakar ban bekas dan sampah di tengah jalan, menyetop bus umum dan menurunkan penumpangnya, membakar mobil dan fasilitas umum, dan lain-lain.

Demonstrasi di Venezuela juga hanya berlangsung di kawasan atau pemukiman elit. Secara geo-politik, demonstrasi ini hanya terjadi di 8 provinsi, dimana kaum kaya dan klas menengah tampil dominan secara politik. Juga di sejumlah kotamadya yang sedang diperintah oleh Walikota dari partai oposisi.

Demonstrasi kaum kaya dan klas menengah di Venezezuela juga sangat lucu. Pertama, kalau alasan mereka adalah alasan ekonomi, yakni kelangkaan bahan pokok dan inflasi, sebetulnya mereka bukan klas sosial yang paling merasakan hal itu. Kalau bicara kelangkaan sembako dan inflasi, seharusnya korban terbesarnya adalah kaum miskin yang merupakan mayoritas di Venezuela.

“Demonstran yang datang dari lingkungan kaya seperti Los Palos Grandes [salah satu pemukiman paling tajir di Caracas] punya pelayan untuk menunggu dalam antrean untuk mereka di Supermarket. Mereka punya akses terhadap barang yang kebanyakan orang Venezuela tidak sanggup mengaksesnya,” kata Mark Weisbrot, seorang kolumnis di Center for Economic and Policy Research (CEPR), kepada IPS News.

Juga, kalau ketidakpuasannya didorong oleh kelangkaan sembako, kenapa mereka justru menghentikan dan membakar truk-truk pengangkut sembako. Mereka juga menyerang toko-toko penyedia sembako dengan harga murah [karena disubsidi oleh pemerintah].

Kedua, kalau alasan mereka ‘suara mereka tidak didengarkan’, ini juga lelucon yang menggelikan. Sebab, sebagian besar media massa, terutama TV dan koran-koran besar, dikontrol oleh kaum kaya dan oposisi Venezuela. Hampir setiap detiknya media-media itu begitu bebas mengeritik–bahkan cenderung melecehkan–pemerintah dan revolusi Bolivarian. Selain itu, pemerintah Venezuela sudah membuka ruang dialog dengan mereka, tetapi malah ditolak.

Tidak cukup dengan itu, media massa internasional–terutama yang dikontrol oleh oligarki–juga sangat memihak mereka. Media-media besar asal Paman Sam, seperti CNN, Washington Post, New York Times, NBC, sangat aktif membela oposisi dan mendiskreditkan pemerintah Venezuela.

 

Ketiga, kalau yang diprotes kaum kaya itu adalah ‘meningkatnya kejahatan dan ketidakamanan’ di Venezuela, lantas kenapa metode aksi protes mereka justru mengutamakan jalan kekerasan dan menebar ketakutan bagi mayoritas rakyat Venezuela.

Untuk diketahui, hingga 25 Maret lalu, demonstrasi di Venezuela telah memakan 33 korban jiwa. Ironisnya, 17 dari korban jiwa itu dipicu oleh barikade jalanan yang dilakukan oleh oposisi. Termasuk seorang ibu hamil yang tewas tertembak pada pekan lalu, ketika bus yang ia tumpangi diberhentikan paksa oleh demonstran oposisi dan seluruh penumpangnya dipaksa turun.

Demonstrasi di Venezuela adalah demonstrasi kaum kaya dan klas menengah yang menolak redistribusi kekayaan ekonomi nasional dan keadilan sosial. Mereka menentang Revolusi Bolivarian yang telah berhasil mengurangi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di Venezuela.

Untuk diketahui, pada tahun 1990-an, Venezuela yang kaya minyak itu merupakan salah satu negara dengan ‘ketimpangan pendapatan’ paling parah di dunia. Setelah Chavez berkuasa dan revolusi Bolivarian bergulir, ketimpangan ekonomi di Venezuela menurun tajam. Gini rasio, yang mengukur tingkat ketimpangan pendapatan, turun dari 0,46 (1999) menjadi 0,39 (2011).

Sejak revolusi Bolivarian bergulir, kemiskinan berhasil dipangkas setengah dan kemiskinan ekstrem berkurang hingga 70%. Layanan pendidikan dan kesehatan bisa diakses secara gratis oleh seluruh rakyat. Sementara sejumlah Universitas mulai dibuka untuk pemuda-pemudi dari keluarga miskin. Toko-toko sembako, dengan harga disubsidi pemerintah, berdiri di seantero negeri.

Kekayaan minyak negara, yang dulu hanya dinikmati oleh perusahaan asing dan segelintir elit-kaya Venezuela, sekarang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Venezuela, membiayai program sosial (pendidikan, kesehatan, perumahan, sembako murah, dll), dan membiayai pembangunan infrastruktur.

Singkat cerita, kelas ‘popular’ (petani, buruh, kaum miskin kota, masyarakat adat, dll), yang merupakan 80% dari rakyat Venezuela, mendapat manfaat ekonomi dari proyek Revolusi Bolivarian yang digerakkan sejak Chavez berkuasa.

Itulah yang ditentang oleh kaum kaya Venezuela. Mereka tidak mau kekayaan negeri itu dibagi-bagi secara adil dengan mayoritas saudara sebangsanya. Mereka tidak mau keserakahan mereka diganggu atau dirintangi oleh proyek pembangunan ekonomi yang berorientasi pada keadilan sosial.

Dan hal itu nampak dalam demonstrasi kaum kaya dan klas menengah Venezuela akhir-akhir ini. Hampir semua sasaran aksi pengrusakan mereka adalah fasilitas atau institusi yang memberikan layanan sosial kepada kaum miskin Venezuela, seperti toko-toko sembako murah, klinik kesehatan gratis, pusat pendidikan, sarana transportasi publik, dan lain-lain. Sasaran kebencian mereka adalah lembaga dan pusat layanan sosial yang telah memberi manfaat kepada banyak orang.

Selain itu, kaum kaya dan klas menengah Venezuela adalah kekuatan politik yang sudah frustasi dengan jalan demokrasi. Dari 19 kali pemilu di Venezuela (termasuk referendum), kaum kaya hanya menang sekali. Itupun sering disebut kemenangan ‘pyrrhic’–kemenangan yang ditebus dengan kerugian sangat besar. Malahan, dalam pemilu kotamadya (Pilkada) pada bulan Desember tahun lalu, kaum kaya kembali menelan kekalahan telak. Kubu pemerintah (Chavistas) berhasil merebut 240 dari 337 kotamadya.

Ironisnya, demonstrasi kaum kaum kaya itu dibela habis-habisan oleh media dan lembaga HAM di barat. Ketika pemerintah Venezuela mencoba mengambil ‘tindakan’ terhadap aksi demonstrasi oposisi yang sudah mengarah ke ‘aksi kekerasan’ itu, mereka dituduh telah ‘melanggar HAM’.

Tetapi kelompok HAM di Venezuela juga telah membantah tudingan itu. Mereka mengatakan bahwa aksi demonstrasi berujung kekerasan di Venezuela bukanlah aksi yang memang dirancang damai atau spontan, melainkan sebuah aksi yang sengaja diciptakan oleh kaum kaya dan klas menengah untuk menghentikan revolusi Bolivarian, sebuah revolusi yang telah memberikan manfaat ekonomi, politik, dan sosial-budaya kepada mayoritas rakyat Venezuela dan melucuti sebagian hak-hak istimewa segelintir kaum elit di sana.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut