Ketika Isu Terorisme Jadi ‘Komoditi’

Kellan Lutz dan Ario Bayu berakting dalam film terbaru garapan sutradara Conor Allyn, Java Heat (2013).

Java Heat (2013)

Sutradara: Conor Allyn
Penulis: Conor Allyn dan Rob Allyn
Durasi: 98 menit
Pemain: Kellan Lutz, Mickey Rourke,
Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, dan Uli Auliani

Jogjakarta tiba-tiba menjadi sasaran aksi terorisme. Tidak tanggung-tanggung, pelaku serangan teror meledakkan diri pada acara resmi Kesultanan Jogjakarta. Korban pun berjatuhan.

Salah satu korbannya adalah Sultana, putri Sultan Jogjakakarta. Rakyat jogjakarta pun murka atas kejadian itu. Mereka mendatangi kantor polisi agar mengungkap siapa pelaku serangan itu. Densus 88 pun langsung turun tangan.

Seorang warga AS, Jake Travers (Kellan Lutz) yang kebetulan berada diacara itu, ditangkap. Seorang perwira polisi dari Densus 88, Letnan Hashim (Ario Bayu), ditugaskan mengusut kasus ini. Ia pun menginterogasi Jake dan mencari tahu keterlibatannya dalam kejadian itu.

Rententan kejadian bukanlah di dunia nyata, melainkan cerita dari film terbaru sutradara Conor Allyn, Java Heat (2013). Namun, sekalipun fiksi, tetapi cerita film ini sangat janggal dan terlalu mengada-ada. Tapi kan itu sudah karakter film-film Hollywood.

Film ini menjadikan isu terorisme sebagai backgroundnya. Ini terlihat jelas pada bagian-bagian awal film. Anehnya, ketika sudah tiba di tengah, film ini berbelok ke soal kriminalitas: penculikan putri sultan dan perburuan perhiasan milik kerajaan.

Ternyata, motif serangan bom itu adalah penculikan. Putri Sultana tidak tewas dalam serangan bom. Ia ternyata diculik oleh seorang mafia internasional bernama Malik (Mickey Rourke). Motifnya: Malik mengincar perhiasan sang putri dan harta benda kerajaan.

Tetapi, sebelum motif penculikan dan pencurian itu terungkap, pimpinan Kepolisian sudah memvonis, bahwa pelakunya adalah seorang teroris dari Malaysia, Faruk Al Hasan. Padahal, Polisi belum melakukan penyelidikan dan investigasi secara mendalam.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana ceritanya Malik bisa bekerjasama dengan kelompok jihadis? Yang jelas, antara Malik dan kelompok Jihadis punya misi yang sangat berbeda: Malik ingin merampok perhiasan, sedangkan Jihadis punya motif ideologis, yakni menyingkirkan mereka yang dianggap musuh keyakinannya.

Karena itu, upaya Conor Allyn menggambarkan kerjasama antara mafia dengan Jihadis jelas sebuah intrik. Ini terlihat jelas dalam kolaborasi antara Malik dengan seorang pemuda jihadis bernama Achmed (Mike Muliadro). Achmed beberapa kali melancarkan serangan bersenjata atas perintah Malik, termasuk ketika menyerang Jake dan Letnan Hashim.

Lantas, apa maksudnya menjadikan “terorisme” dan “kelompok jihadis” sebagai backgrund pembuka film ini? Toh, ujung-ujungnya ini film soal kriminalitas murni. Kalau film ini mau jadi film serba misteri, alurnya juga sangat tak mendukung. Jadi, ya, terorisme hanya jadi “jualan” saja di film ini untuk menarik minat penonton, terutama di luar sana.

Lebih konyol lagi, ternyata aksi penculikan putri Sultan oleh Malik dimungkinkan karena adanya dukungan orang dalam, yakni Perdana Menteri, yang sedang mengincar posisi Sultan. Perdana Menteri inilah yang mengontrol abdi-dalem kerajaan. Kok bisa seorang Perdana Menteri bisa mengalahkan pengaruh sang Raja?

Jadinya, alur cerita yang hendak diangkat film ini terasa hambar. Sama hambarnya dengan film-film trilogi Conor Allyn: Hati Merdeka, Darah Garuda dan Merah Putih. Tiga film itu, kendati bicara perjuangan kemerdekaan, tak sanggup memantik rasa nasionalisme anti-kolonial kita. Ya, karena alur ceritanya hambar dan dialog-dialognya tidak kuat.

Selain itu, dalam banyak kejadian, polisi dan teroris/penjahat saling kejar-kejaran dan tembak-menembak di tengah situasi kota yang tenang. Mungkin, karena ini film berstandar “hollywood”, maka adegan “semau gue” pun dipertontonkan, seperti ketika Hashim mengendarai mobil sambil makan dan akhirnya menyambar tukang becak di pinggir jalan. Dan, seperti film Hollywood, ia cuek aja seolah-olah nyawa si tukang becak tak ada harganya.

Tetapi ada yang menarik di film ini. Sosok Jake Travers, yang awalnya digambarkan seorang yang sedang studi soal kesenian, rupanya adalah anggota FBI. Cerita semacam ini sudah sering kita dengar dari berbagai belahan dunia. AS, yang merasa dirinya sebagai “polisi dunia”, bebas menempatkan orang-orangnya di mana saja. Bahkan, tanpa seijin dari otoritas berwenang di negara bersangkutan.

Selain itu, film ini juga mengangkat keunikan dan kekayaan budaya Indonesia, dari kuliner (nasi goreng), candi Borobudur, pasar tradisional, dan lain-lain. Bagi sebagian orang, film ini bisa menjadi sarana mengenalkan Indonesia ke dunia luar. Dan bagi pemerintah, tentu saja, ini sangat menguntungkan untuk bisnis pariwisata.

Abdul Manaf

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut