Ketika Bung Hatta Bicara Revolusi Industri

Dunia kita sedang memasuki zaman baru: revolusi Industri 4.0. Zaman baru ini ditandai dengan kehadiran kecerdasan buatan, penggunaan robot, data raksasa, cloud computing, teknologi nano, otomatisasi dan lain-lain.

Tidak diragukan, kemajuan-kemajuan baru ini membawa banyak kemaslahatan bagi umat manusia. Membuat ekonomi makin produktif dan efisien. Mengalihkan manusia dari pekerjaan-pekerjaan beresiko. Lebih penting lagi, banyak inovasi baru yang memudahkan kehidupan manusia.

Revolusi industri 4.0 juga menghadirkan lini usaha baru, lapangan kerja baru dan profesi baru. Lebih dari itu, revolusi industri akan mengubah cara hidup, cara pandang dan relasi sosial kita.

Namun, disamping kemajuan-kemajuan itu, revolusi Industri 4.0 juga akan membawa dampak lain: ada banyak profesi dan lapangan pekerjaan yang akan tergantikan oleh mesin dan robot.

Laporan McKinsey Global Institute pada Januari 2017 berjudul Jobs Lost, Jobs Gained: Workforce Transitions in a Time of Automation menyebutkan, sebanyak 400 juta sampai 800 juta orang mungkin bakal digantikan mesin dan harus mencari pekerjaan baru pada 2030 di seluruh dunia.

Sementara riset World Economic Forum pada 2016 memperkirakan 7,1 juta pekerjaan akan hilang dalam lima tahun mendatang. Sedangkan lapangan kerja baru diprediksi hanya 2,1 juta saja.

Bicara revolusi Industri dan dampaknya, rupanya Bung Hatta sudah pernah menyinggung ini 86 tahun lalu. Tepatnya melalui artikel yang ditulis di Daulat Rakjat, pada 20 September 1932, dengan judul Krisis Dunia dan Nasib Rakyat Indonesia.

Awalnya, Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia itu menyinggung pemikiran filsuf besar Jerman, Karl Marx, soal perjuangan kelas sebagai roda penggerak sejarah. Intinya, dalam corak produksi yang mensyaratkan adanya eksploitasi dan penghisapan oleh satu kelas sosial terhadap kelas sosial lainnya, maka terjadi perjuangan kelas.

Dalam kapitalisme, perjuangan kelas terjadi antara kaum buruh berhadapan dengan kapitalis. Dalam kontradiksi itu, kapitalis akan terus memperkuat kedudukannya, agar proses akumulasi keuntungan tetap terjaga.

Namun, kata Bung Hatta, disamping dengan buruh, kapitalis juga bersaing dengan kapitalis lainnya. Persaingan itulah yang mendorong inovasi dan teknologi baru.

“Persaingan itu menimbulkan akal dan tenaga baru,” kata Bung Hatta.

Menurutnya, supaya tidak gugur dalam persaingan memperebutkan untung dan pasar baru, maka kaum kapitalis akan memperbaiki perusahaan mereka: memperbaiki mesin-mesin dan mencari teknik-teknik baru yang lebih efisien.

Munculnya apa yang disebut “zaman rasionalisasi”, yang berusaha mengurangi penggunaan tenaga kerja manusia dalam proses produksi barang dan jasa. Praktenya, tenaga manusia digantikan oleh mesin-mesin.

“Senantiasa mesin dimajukan ke muka dengan alat yang senantiasa diperbaharui. Senantiasa orang diganti dengan mesin,” tulis Proklamator Kemerdekaan ini.

Bung Hatta mengambil contoh pada inovasi pabrik kendaraan Ford America. Sebelumnya, di pabrik yang berdiri sejak 1903 ini, butuh satu bulan untuk menghasilkan satu mobil. Setelah ada inovasi, Ford hanya butuh 5 menit untuk memproduksi 1 unit mobil.

Di zaman itu, inovasi besar juga terjadi di industri percetakan surat kabar. Hampir semua pekerjaan, hingga melipat dan membungkus, sudah dikerjakan oleh mesin. “Sampai manusia tidak ada pekerjaan lagi,” terang Bung Hatta.

Sekarang, di era revolusi industri 4.0, bukan saja urusan percetakan yang diambilalih oleh mesin, pekerjaan wartawan pun pelan-pelan diambilalih oleh robot. Seperti yang mulai dilakukan oleh The Washington Post sejak 2016, beberapa artikel pendeknya sudah dikerjakan oleh mesin alias robot.

Di sini saya menyelipkan catatan kecil. Bagi Bung Hatta, revolusi Industri didorong oleh desakan gerakan buruh dan persaingan antar kapitalis yang melahirkan rasionalisasi.

Tentu saja Bung Hatta benar. Hanya saja, jauh sebelum lahirnya kapitalisme, anggaplah di zaman komunal, tetap terjadi inovasi dan penemuan baru, meski berjalan lambat. Sekalipun zaman itu belum ada persaingan. Sebab, inovasi dan penemuan baru memang inheren dalam tenaga-tenaga produktif. Karena kerja produksi tidak hanya mempertemukan tenaga kerja manusia dan alat-alat produksi, tetapi juga pengetahuan dan kesadarannya.

Lantas, apa esensi revolusi Industri?

Bung Hatta menjawab sederhana: “..dahulu manusia, kaum buruh, yang bekerja dan dibantu oleh mesin; sekarang mesin yang bekerja dan dibantu oleh manusia.”

Bagaimanapun, tergantikannya tenaga kerja manusia oleh mesin menciptakan persoalan baru: semakin banyak orang yang terusir dari dunia kerja alias menganggur.

Dalam titik tertentu, jika ada banyak orang yang tidak punya pekerjaan, sementara satu-satunya jalan melanjutkan kehidupan adalah memiliki upah/pendapatan.

Situasi itu, jika merujuk ke teori Marx di atas, akan semakin memperhebat perjuangan kelas, yang menuntut agar alat-alat produksi dimilik secara sosial. Inilah basis yang akan melahirkan masyarakat masa depan: sosialisme.

Dalam artikel itu, Bung Hatta sebetulnya mengaitkan revolusi industri dengan pergerakan buruh. Agar pengangguran tidak menciptakan huru-hara, maka kapitalis memberi sogokan berupa jaminan sosial dan sejenisnya.

“Tetapi uang bantuan itu datangnya dari sebagian keuntungan mereka,” kata Bung Hatta.

Dalam logika kapitalisme, tidak ada makan siang gratis. Lubang dari keuntungan yang berkurang itu harus ditutupi. Caranya: memperhebat eksploitasi di tanah jajahan. Jadi, revolusi industri di Eropa juga berimbas ke negeri jajahan.

Bagaskara Wicaksono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut