Kesalahan Terparah Dalam Ekonomi Eropa

Pekan lalu, Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan proyeksi untuk pertumbuhan di 16 negara kawasan eropa dengan hanya lebih dari setengah persen, untuk tingkat rata-rata 1,6 persen untuk tahun 2010. Prediksi sebelumnya telah memperkirakan pertumbuhan ekonomi hanya 1,0 persen.

Prediksi mengenai peningkatan ini semata-mata karena kinerja sementara ekonomi satu-satunya di Eropa, Jerman, dan menyamarkan fakta bahwa tingkat pertumbuhan minimal terjadi untuk negara Uni-eropa dan negative untuk banyak negara lainnya. Latvia, Rumania, Bulgaria, Siprus dan Spanyol tetap berada dalam resesi dan statistik terbaru menunjukkan bahwa Yunani akan tenggelam dalam resesi yang semakin mendalam.

Gambaran baru untuk perekonomian Inggris menunjukkan, bahwa penurunan aktivitas di sektor publik telah menyebabkan peningkatan PHK. Hal ini melahirkan spekulasi media massa mengenai datangnya “resesi dua kali lipat” dalam waktu dekat ini, bersamaan dengan keputusan pemotongan belaja (pengeluaran) secara drastis, yang diumumkan oleh koalisi pemerintahan baru di Inggris, akan segera diberlakukan.

Pada saat bersamaan dengan pengumuman estimasi pertumbuhan ekonomi di zona eropa,  ECB juga mengatakan pada hari Kamis keinginannya untuk tetap mempertahankan patokan suku bunga terendah sebesar 1%, memperluas upaya penyediaan dana darurat untuk bank komersial hingga akhir tahun ini. Awalnya ECB punya komitmen sendiri untuk menyiapkan kredit tidak terbatas bagi perbankan hingga pertengahan oktober. Kebijakan tingkat suku bunga telah dipatok dalam level terendah dalam 16 bulan terakhir.

Statemen ECB terkait ekonomi eropa telah mengakui, bahwa perbaikan saat ini adalah semata-mata karena faktor temporer. “faktor temporer” ini mengacu pada program stimulus besar-besaran yang diperkenankan di seluruh eropa akhir tahun lalu, dan dimaksudkan untuk membail-out perbankan dan melindungi bisnis besar dari kebangkrutan. Program ini sekarang mulai menghilang dan berturut-turut negara-negara eropa telah mengadopsi program penghematan anggaran. Pemotongan anggaran belanja besar-besaran dengan memangkas upah pastinya akan mengecilkan ekonomi eropa dan membawa konsekuensi deflasi dalam bulan atau tahun mendatang.

Mengomentari gambaran terbaru Uni Eropa, Presiden ECB Jean-Claude Trichet mengakui kepada wartawan di Frankfurt, bahwa situasi di Eropa masih ditandai dengan “ketidakpastian”,  dan ia melanjutkan, ” Kita harus tetap hati-hati dan bijaksana- jangan mengumumkan kemenangan. ”

Perpanjangan kredit bebas bunga oleh ECB untuk sejumlah bank menunjukkan kurangnya likuiditas dan pesimisme para investor terhadap perekonomian Eropa. Senior ekonomi ING, Carsten Brzeski, menyimpulkan,  “program likuiditas (ECB) menunjukkan bahwa ECB tidak yakin pada pemulihan dan kesehatan sistem keuangan.”

Kasus ini tetap ada meskipun pemerintah Eropa telah mengambil tindakan yang luar biasa pada tahun ini. Di bulan Mei Uni Eropa, yang bertindak bersama IMF, menyetujui paket bail-out sebesar €750 billion (US$990 billion), yang dimaksudkan untuk mencegah kebangkrutan ekonomi Yunani dan kolapsnya euro. Dua bulan kemudian, bank-bank eropa menjalani apa yang disebut dengan “stress tests”, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi asset mereka yang beresiko.

Meskipun ada upaya ini, harga obligasi pemerintah di beberapa negara Eropa yang paling terkena dampak—- Irlandia, Portugal, Yunani dan Spanyol–telah mendekati level “genting” pada bulan mei sebelum datangnya pertolongan EU dan IMF.

Baru seminggu yang lalu, lembaga pemeringkat Standard & Poor’s memangkas peringkat kredit untuk AA-Irlandia, negara rating terendah dalam 15 tahun terakhir. Merevisi rating kredit untuk Irlandia berarti, bahwa negara ini sekarang harus membayar tingkat bunga yang lebih tinggi guna memastikan penjualan obligasi.

Penurunan itu terjadi saat pemerintah Irlandia memperkenalkan apa yang disebut dengan program penghematan paling ketat dan agressif di seluruh eropa. Memang, kepala EBC Jean Trichet, yang telah berpendirian mengenai langkah-langkah penurunan drastis yang sangat anti-pekerja, secara pribadi telah menempatkan Irlandia sebagai model penting yang perlu diikuti oleh ekonomi negara eropa lainnya dalam berjuang melawan kesulitan.

Analis finansial di Dublin, Alan McQuaid, berkomentar mengenai perubahan peringkat kredit; “Ini adalah saat-saat yang mengerikan. Jika bank tidak dapat membayar, maka mereka akan semakin bergantung kepada EBC, yang telah merugikan persepsi mengenai Irlandia, dan akan semakin berdaulat. Ini akan menjadi semacam lingkaran setan.”

Baru-baru ini dalam sebuah artikel di New York Times berjudul  “In Ireland, Dangers Still Loom”, penulis Simon Johnson dan Peter Boone memperingatkan konsekuensi dari tipe program penghematan yang diperkenalkan di seluruh eropa—khususnya, bagi negara-negara yang diharuskan membayar beban peningkatan utang. Mereka mencatat bahwa pasar keuangan tetap tidak berkesan dengan tindakan yang diambil oleh pemerintah Irlandia, yang telah memotong upah sektor publik sangat tinggi dan mendorong tingkat pengangguran.

Mereka menulis, “ meskipun atau mungkin karena terapi ini, pasar keuangan akan melihat Irlandia sebagai “Yunani berikutnya”. Para penulis ini memperhitungkan bahwa probabilitas dari kegagalan Irlandia mengatasi utangnya akan “terpicu”, dan dibawah program pemerintahan sekarang ini setiap keluarga irlandia akan bertanggung jawab atas 200.000 euro utang publik di taun 2015.”

Mereka menyimpulkan, “Irlandia, cukup dicantumkan, tampak sangat masuk akal untuk bangkrut di bawah scenario kebijakan saat ini. Ide bahwa Irlandia, Yunani, dan Portugal dapat memangkas pengeluaran dan tumbuh dari nilai tukar yang terlalu tinggi dengan deficit anggaran yang sangat besar pula, namun tetap melayani utang dan memperbesar utang lagi, adalah bukti—tidak mengejutkan lagi—kesalahan.

Dengan meningkatnya kekhawatiran di pasar internasional akan kemungkinan “default” dari salah satu dari negara-negara eropa, IMF telah campur tangan dalam perdebatan akhir minggu ini dengan komentarnya, yang mana menentang reaksi panik dari pasar terkait “balon krisis utang”.

Dengan pengecualian penguasa eropa dan satu-satunya negara eropa yang mengalami keseimbangan neraca perdagangan plus di kuartal kedua 2010, yakni Jerman. Analis ekonomi, seperti menteri keuangan Perancis, mencatat bahwa angka-angka Jerman yang pantastis terjadi karena negara ini tercatat pernah mengalami kejatuhan produksi di tahun 2009. Industri ekspor yang sangat kuat di Jerman juga mampu mengambil keuntungan dari pelemahan sementara euro dari dollar.

Data ekonomi terbaru dari AS, yang menunjukkan kecenderungan mengarah pada resesi yang semakin mendalam, kembali mendorong nilai tukar euro terhadap dollar dan juga mengarah pada pengurangan permintaan dari salah satu parnert paling penting dari ekspor Jerman. Wilayah pertumbahan terbesar ekspor hasil industry jerman adalah Asia, khususnya China, juga memperlihatkan gambaran adanya pendinginan dalam ekonomi mereka. Seperti juga dalam kasus sebelumnya dalam sejarah, kekuatan Jerman—yang dibasiskan pada industry yang sangat dinamis—akan menjadi bukti adanya “tumit Achilles”.

Respon bangsa eropa atas semakin dalamnya krisis ini adalah pastinya “anjing makan anjing”. Krisis ini tidak hanya mengitensifkan kegagalan diantara negara eropa dan rival utamanya di dunia internasional, tetapi juga akan dengan cepat memicu perpecahan di dalam eropa itu sendiri. Kecenderungan mengarah pada nasionalisme dan kepentingan nasional masing-masing berpotensi konsekuensi ledakan politik. (WSWS/Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut