Kerusuhan Di Inggris: Kriminalitas Atau Ketidakadilan?

Pekan ini sebuah kerusuhan besar melanda kota London, Inggris. Kerusuhan itu dipicu oleh terbunuhnya seorang pemuda kulit hitam, Mark Duggan, pada 5 Agustus lalu, di Tottenham. Kabar bahwa Mark Duggan tewas karena timah panas Polisi segera berhembus dan memicu kemarahan.

Kerusuhan pertama meletus di Tottenham, lalu menyebar seperti ranting terbakar ke kota-kota lain, diantaranya: Birmingham, Liverpool dan Bristol.

Media-media kanan pun berada digaris depan dalam memberitakan soal kerusuhan ini. Reportase mereka pun lebih menekankan kepada kebrutalan, pengrusakan, dan panjarahan oleh sekelompok pemuda kulit hitam dan berwarna. Tidak satupun dari media itu yang mencoba melihat lebih ke dalam tentang akar kerusuhan itu.

Melalui ulasan pendek ini, kami berusaha menyampaikan sudut pandang berbeda. Kebanyakan argumentasi kami diambil dari sudut pandang media-media independen dan koran-koran berhaluan kiri di Inggris.

Koran-koran itu berusaha melihat kerusuhan ini dari relasi ekonomi-politik di Inggris. Koran pekerja sosialis Inggris, misalnya, menganggap kerusuhan ini sebagai “ledakan kemarahan atas ketidakadilan”. Para pemuda, menurut koran tersebut, telah menjadi korban dari kemiskinan dan rasialisme.

Pemerintahan David Cameron adalah hasil koalisi Konservatif (Tory) dan Liberal Demokrat. Menghadapi krisis kapitalisme global yang mengguncang Amerika Serikat dan Eropa, pemerintahan David Cameron memilih menjalankan kebijakan penghematan anggaran dan pemotongan anggaran sosial.

Tariq Ali, penulis kiri yang saat ini bermukim di London, mengganggap kasus kematian seorang pemuda adanya pemicu untuk lahirnya kemarahan yang berakar pada ketidakadilan ekonomi dan sosial.

Kerusuhan tidak pernah terjadi di ruang hampa. Ia selalu memiliki dimensi ruang dan waktu, yang mana hal itu terkait erat dengan konteks ekonomi dan politik. Sementara klas penguasa di Inggris tida mau mengakui kesalahan, media-media kanan telah membuat “paduan suara” untuk melukiskan kejadian ini sebagai kebrutalan, kriminalitas, dan penjarahan.

Mereka telah mengabaikan fakta bahwa separuh dari pemuda kulit hitam, umumnya berusia 16-24 tahun, adalah pengangguran. Tottenham, daerah awal kerusuhan, merupakan pemilik pengangguran tertinggi di London.

Adam, seorang pemuda yang diwawancarai koran pekerja sosialis, mengatakan bahwa kerusuhan ini bukanlah soal prasangka rasial, melainkan perang kelas.

Tetapi media kanan telah berusaha menyempitkan arti-penting kemarahan sosial ini dengan mengidentikkannya dengan sekelompok minoritas dan imigran. Ini tentu saja untuk mencegah ledakan sosial ini menjalar kepada seluruh rakyat Inggris.

Kerusuhan di Inggris adalah bagian dari kemarahan global atas sistim kapitalisme yang sudah bobrok ini. Hanya saja, karena lemahnya kepemimpinan politik dari partai atau organisasi progressif di sana, kemarahan itu berubah menjadi “kerusuhan”.

Kaum muda pantas saja untuk marah. Sebab, sebagai pewaris masa depan, mereka telah dititipkan dunia yang dipenuhi keserakahan dan kerusakan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut