Kereta Ekonomi Yang Sedang Macet

Ketika baru saja menginjak tahun 2011, tidak sedikit rakyat Indonesia yang merasa gundah ataupun pesimis akan datangnya perbaikan nasib. Untuk menghibur rasa gundah itu, pemerintah seringkali menyampaikan “dongeng” mengenai kemajuan pesat ekonomi sekarang ini dan potensi kemakmuran di masa depan.

Menko Perekonomian Hatta Radjasa, yang dipertanyakan kapasitasnya untuk memahami soal ilmu ekonomi, menyampaikan klaim bahwa pencapaian ekonomi Indonesia tahun 2010 sangat membanggakan. Dengan tidak ragu-ragu Hatta mengklaim bahwa pemerintah telah mengurangi pengangguran secara drastis, yaitu tinggal 7,14%. Begitu juga dengan pengentasan kemiskinan, yang menurut Hatta Radjasa, berhasil dipangkas sebesar 1,5 juta jiwa.

Belum puas membuai rakyat Indonesia dengan dongeng, Hatta Radjasa pun menyampaikan ambisi besar pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai bagian dari 10 besar kekuatan ekonomi dunia. “Pada 2025, visi kami sudah harus meraih PDB (produk domestik bruto) US$3,7-4,7 triliun, pendapatan per kapita berkisar US$12-16 ribu, sehingga jadi kekuatan 10 besar ekonomi dunia,” kata menteri yang dulu pernah dicerca habis-habisan karena tidak bisa mengurus transportasi dan perhubungan ini.

Pada sisi yang lain, jauh dari jangkauan kacamata para profesor ekonomi ataupun badan statistik, jumlah orang miskin yang bunuh diri karena persoalan ekonomi pun terus meningkat. Di Jepara, Jawa tengah, satu keluarga kehilangan 7 orang anaknya karena keracunan pasca mengkonsumsi Tiwul.

Apa yang dimaksud dengan pengangguran turun itu? pengangguran versi pemerintah ialah orang-orang yang bekerja kurang dari 1 jam dalam seminggu, biasanya disebut pengangguran terbuka. Ini merupakan indikator yang irasional, sebab mana mungkin orang bisa membiayai hidupnya hanya dengan bekerja sejam dalam seminggu.

Jika kita mempergunakan ukuran 35 jam per-minggu, sebagaimana yang lazim digunakan negara lain, maka tingkat pengangguran di Indonesia bisa mencapai 40% atau malah lebih. Itulah mengapa angka pengangguran yang selalu diumumkan hanyalah pengangguran terbuka, bukan angka pengangguran secara umum.

Kemudian, pemerintah kita suka sekali mengagung-agungkan angka Produk Domestik Bruto (PDB) yang tinggi. Padahal, kita mengetahui dengan seksama bahwa PDB merupakan hasil dari semua orang yang berusaha di Indonesia, termasuk usaha orang asing atau perusahaan asing.

Mengenai hal ini, kami ingin menunjukkan bahwa peningkatan PDB akhir-akhir ini justru menjelaskan kebenaran adanya praktek kolonialisme di Indonesia saat ini. Peningkatan PDB adalah paling banyak disumbangkan oleh usaha-usaha asing, yaitu perusahaan-perusahaan asing yang datang untuk mengeruk minyak, emas, batu bara, dan semua kekayaan alam bangsa kita. Mereka menggali keuntungan dengan cara; membayar royalti dan pajak sangat rendah kepada pemerintah Indonesia, membayar tenaga kerja indonesia dengan sangat murah, pembagian keuntungan yang lebih kecil kepada bangsa Indoneisa, dan sebagainya.

Semakin tinggi kontribusi usaha asing terhadap PDB, maka makin menggila pula derajat penghisapan dan eksploitasinya terhadap sumber daya alam dan tenaga kerja di Indonesia. Ini bukan sekedar omong kosong belaka, tetapi dapat juga disimak dalam angka-angka resmi sebagai berikut: jumlah usaha ekonomi rakyat (usaha mikro, menengah, dan kecil) mencapai 51 juta unit atau 99,99% dari total unit usaha yang ada, tetapi kontribusinya terhadap PDB hanya sebesar 54%. Sedangkan perusahaan besar asing yang jumlahnya hanya 0,1% itu menyumbangkan 46% PDB. Kalau kita rata-ratakan, setiap perusahaan besar menyumbang pada PDB sebesar Rp. 406 milyar per tahun, sedangkan setiap perusahaan UKM sumbangannya hanya sebesar Rp. 43 juta per tahun.

Begitupula dengan pendapatan perkapita seebsar 3000 USD pada tahun 2010 ini. Pendapatan per-kapita itu justru menjelaskan ketidakadilan atau ketimpangan ekonomi yang sangat parah di Indonesia. Belum hilang ingatan kita, bahwa lebih dari 50% rakyat Indonesia berpendapatan di bawah 2 USD perhari. Selain itu, menurut informasi Puslit Ekonomi LIPI, 2 persen penduduk terkaya menguasai 46 persen aset nasional, sedangkan 98 persen penduduk menguasai 54 persen aset nasional.

Begitulah, kita sekarang ibarat sedang menumpangi keretapi api yang mogok, tetapi para masinisnya mengatakan bahwa kereta api sedang melaju kencang. Sayangnya, hampir semua penumpang kereta sedang tertidur, sehingga tidak menyadari kenyataan tersebut.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut